"Kau bahkan belum menyentuhnya, bagaimana kau tahu itu pedang berbahaya? Kurasa setiap pedang memang memiliki kecenderungan seperti itu," sanggahku.
Penyihir tua itu mendengus, "Beberapa di antara kami memiliki kemampuan untuk melihat aura jahat."
"Sayangnya aku tidak mempercayai hal-hal seperti itu. Itu milikku yang berharga."
Aku memeras otak untuk memahami niatnya, bisa saja dia juga ingin menguasai Al Maghribi setelah Ekor Naga mereka curi.
Tapi tidak ada kekhawatiran, setahuku pedang itu hanya bisa dikendalikan oleh darah keturunan Raja Al Maghrib.
Kebencian membara dalam matanya, ia maju tiga langkah untuk mengambil buntalan yang tergeletak di lantai dan membukanya di meja.
Seketika Catherine si penyihir tua itu mundur selangkah hampir terjungkal melihat pedang itu. Bagaimana tidak, pedang itu dulu yang menghabisi orang-orangnya.
Tidak ada jejak darah yang tersisa di wajahnya yang memucat. "Pangeran Benyamin, kau kah itu?"
Kata-katanya seperti bisikan, namun dalam keheningan yang sesak oleh penonton di kamar itu semuanya bisa mendengar. Nada-nada terkesiap diikuti derap kaki mundur waspada terhadapku.
"Rose! Bawa Jenna pergi sejauh yang kau bisa." Chaterine sang Penyihir melemparkan sebuah kunci tua pada seorang gadis yang berdiri di antara penonton.
Wajahnya sama tegangnya dengan yang lain, dia hampir terseok berlari membelah kerumunan.
"Jika aku gagal menahan pria ini, kuberi kau izin untuk membebaskan jiwa Jenna," teriaknya lagi sebelum gadis yang dipanggil Rose menghilang dari ambang pintu.
Ia menerjangku sambil mengeluarkan pisau dan merapalkan mantra. Senjatanya bercahaya kehijauan, aku bergeser di detik berikutnya sehingga energi yang keluar dari pisaunya memantul dari cermin di balik punggungku dan menghantamnya.
Raungannya hampir menghancurkan telingaku. Pergelangan tangannya kuraih dan kuhentakkan hingga patah.
Aku tahu betul bagaimana cara bertarung dengan penyihir, istana Al Maghrib mengajariku banyak hal.
Hal pertama; jangan pernah takut. Karena semakin kau takut, semakin besar pula dampak ilmu mereka ke tubuh kita.
Kekuatan mereka memang besar, namun bersama itu terdapat penangkalnya. Salah satunya; cermin atau air yang dapat membalikkan kekuatan itu.
"Kau apanya Jenna?" tanganku kini ada di tenggorokannya dan yang satunya lagi di puncak kepalanya, bersiap mematahkannya jika dia berani merapal mantra lagi dan tak menjawab pertanyaanku.
"Aku akan mengingat-ingatnya, sayangnya aku terlalu tua untuk itu," penyihir itu mengangguk singkat pada kerumunan penonton. "Selamatkan diri kalian, perempuan-perempuan bodoh!" Lidahnya berdecak.
Para penonton berhamburan meninggalkan kami. Aku terkekeh, "Aku heran kenapa mereka bisa sedungu itu. Tapi kurasa kau tak seperti mereka, pilih tenggorokanmu atau memberiku jawaban?"
"Rasa sakit atau kematian, keduanya sudah sering menderaku, tapi kau lihat. Kastilku masih berdiri cukup tegak." Tawanya tertahan dengan jari-jariku yang menekan lehernya.
"Omong-omong bagaimana kabar ayahmu yang tamak itu? Kenapa dia sudah mewariskan pedang kebanggaannya padamu, kupikir itu keputusan yang terlalu cepat. Apa dia sudah mampus?"
Wajahnya membiru saat kutekan lebih kuat cengkramanku di lehernya. Aku tidak suka kata-katanya.
Entah kemana wanita-wanita itu pergi, benar-benar hening. "Sepertinya rakyatmu sendiri tidak menaruh simpati padamu, seharusnya mereka mati-matian menyelamatkan nyawamu."
"Aku telah cukup hidup lama menyaksikan kebrutalan raja-raja Al Maghrib. Aku menyaksikan bilah Al Maghribi darah terus menetes, rintihan sekarat orang-orang tak berdosa, penculikan yang kejam oleh kakekmu yang lebih buas daripada manusia. Dan aku meramalkan dari matamu yang seperti lautan terdalam, kau tidak berbeda dengan para pendahulumu. Kengerian yang jauh lebih buruk menanti. Kau benar-benar tidak punya belas kasihan, kau lebih buruk daripada ayahmu. Bagaimana bisa kau mengikat seorang gadis dengan mantra Al Maghribi, jika dia melahirkan seorang anak. Maka ia akan menjadi malapetaka dengan kejahatan yang mengerikan."
"Ini semua salahmu, kau yang mengirimnya padaku untuk mencuri Pedang Ekor Naga." Aku menghindari tatapan matanya.
"Karena dia adalah pencuri terbaik yang kumiliki dan bodohnya aku yang tidak memperhitungkan bahwa kau setega itu."
"Kau Nenek Jenna? Kau lebih tega dariku." Aku mulai tidak sabar ingin memeluntir lehernya.
"Aku bukan neneknya, seseorang menitipkannya padaku saat ia masih bayi dengan imbalan besar."
"Siapa dia?"
"Entahlah, aku tidak mengenalnya sama sekali, dan ia tidak pernah menemuiku lagi sejak itu."
Sebuah kesalahan saat aku memutar kepalanya untuk menilai apakah dia berkata jujur. Dia meludahi wajahku, dan sial. Dia memantrai ludahnya.
Suara gemeretak tulang lehernya mengakhiri tawanya yang mengerikan. Kekerasan tak sanggup memecahkan teka-teki.
Tulang pipiku terasa terbakar. Jika kalah cepat ludahnya akan membutakan mataku. Sampai kantong air minumku kosong untuk membasuhnya, rasa terbakar itu tidak berkurang sedikitpun.
Aku mengesampingkan rasa sakit itu dan khawatir mungkin beberapa menit ke depan Jenna akan dihabisi. Menurut dugaanku mereka sedang melarikan diri menuju pusat AL Masyriq, ke mana lagi mereka akan pergi?
Sebelumnya aku menyisir kastil yang dindingnya terdapat banyak tulang belulang manusia, mungkin saja ada yang tertinggal dan memberiku petunjuk tentang Jenna.
Terdengar suara menggema dari bawah lantai batu yang kupijak, aku mencari-cari jalan menuju ruang bawah tanah.
Dua orang wanita sedang bertarung, Mercy dan gadis bernama Rose. Mercy terlihat lebih unggul dengan sedikit luka dan Rose terlihat sudah hampir ambruk namun belum menyerah.
Sementara Jenna memberingsut ke dinding dengan pergelangan tangan dan kaki yang terikat. Pandangannya mengiba setiap kali Rose terkena serangan.
"Kau b******n Mercy," jerit Rose saat ia terlempar menghantam dinding. Mercy menjambak rambutnya dan memaksanya Rose untuk menatap matanya.
"Aku sudah lelah hidup terkungkung dalam kastil reot di hutan miskin ini. Sudah saatnya kita bersekutu dengan Al Maghrib dan menjadi jaya lagi. Aku adalah pewaris kastil ini dan seisinya. Kau harus patuh padaku."
"Untuk keserakahanmu? Tidak Mercy. Kau tahu betul apa yang akan terjadi jika Jenna dibiarkan menjadi boneka perang Al Maghrib. Kau lupa siapa yang telah menghabisi keluarga kita?"
"Persetan, itu masa lalu. Dan Jenna bukan bagian dari kita, bahkan tidak jelas asal-usulnya. Kau tahu betul bagaimana nasib kita jika melawan Al Maghrib. Terbuang dan miskin," geram Mercy.
Rose menghantamkan dahinya ke hidung mercy hingga membuat hidung kurus runcingnya bengkok dan mengucurkan darah.
Mercy menarik rambut ikal Rose dan menyeretnya hingga ke ujung ruangan. "Ini akan menyakitkan Rose, beraninya kau menghancurkan kecantikanku."
Rose mendengus, "Jika kau membiarkan aku mati, itu sebuah keberuntungan." Suaranya bergemuruh dalam dadanya.
"Gadis bodoh, kau kira bisa menantangku. Aku bukan tandinganmu. Seandainya kau me--"
"Lebih baik di neraka … Jenna aku menunggumu di sana, kau rekanku dalam kejahatan mencuri bukan." Rose terkekeh. "Aku menyayangimu Jenna."
Mercy menarik belatinya, dan teriakan Rose menggema sebelum ia terkapar bersimbah darah. Jenna turut menjerit, matanya yang indah terlihat sangat menyedihkan dengan air mata yang terus mengalir.