9

1026 Kata
"Omong-omong, kau pencuri atau pembunuh?" tanya Mercy. "Biasanya tatapan kuda kelam untuk salah satunya." "Oh!" Aku terkekeh. "Lebih buruk dari itu." Tanganku terangkat dengan membuka telapak tangan lebar-lebar, berharap bisa berdamai dengan kuda-kuda yang matanya masih menantangku.  "Dan kau cocok menjadi bagian Hutan Terkutuk kalau begitu."  Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan memutar bola mataku.  "Kalau begitu, Benedict, saatnya kau turun." Mercy mengedikkan dagunya yang lancip.  "Tidak, tidak, kau jangan menyentuh benda-benda itu. Beristirahatlah, dia akan mengantarmu." Mercy menunjuk pada seorang wanita tua, tinggi kurus. "Elizabeth, buat tamu kita nyaman." Wajah Elizabeth tidak jauh berbeda dengan kuda-kuda itu, tatapannya cukup mematikan jika lama-lama memandangnya. Ia terlihat sangat tidak menyukai tamu.  Wanita tua itu menarik lenganku dengan kasar melewati lorong-lorong gelap, kastil ini aneh dan aromanya tidak kalah aneh, seperti bau jeruk busuk.  Perlakuannya yang tanpa sopan santun benar-benar menguji kesabaranku. Ingin sekali kupatahkan tangannya yang beberapa kali menampar bahuku karena berhenti untuk memperhatikan benda-benda pajangan mengerikan; tengkorak dan berbagai tulang hewan.  "Seharusnya kami tidak menerima tamu, apalagi pria asing," gerutunya.  Saat Elizabeth menarik pintu, sesuatu terbang menukik tajam dan hampir menyambarku jika bukan dia yang dengan tangan kosong menangkap leher sejenis burung gagak.  Dengan suaranya yang memekakkan telinga, burung itu meronta-ronta sejenak. Lizzy memandangi buntalan di punggungku yang berisi pedangku, pedang Al Maghribi dan beberapa perbekalan.  "Sebuah pertanda, aku yakin kau membawa sesuatu yang buruk. Dan kau burung, akan menjadi sesuatu yang berbeda di meja makan."  Tatapan tajamnya masih terus berlanjut sampai pintu dibanting dan meninggalkanku sendirian dalam kegelapan yang dingin.  Dengan pikiran yang dipenuhi dengan rencana-rencana menantang dan tubuhku menyerah pada kelelahan yang membungkam pikiranku.  Di ranjang yang bau, aku mendapati diriku terbangun dengan udara yang semakin dingin dan lembab. Punggungku menegang saat menyadari aku tidak lagi sendirian.  Meskipun aku hampir tidak bisa mendengarnya, namun sebuah aroma wewangian memenuhi ruangan. Seperti aroma pinus.  Sesuatu yang berdiri di belakangku melangkah pelan menuju tempat tidurku. Aroma itu semakin kuat berasal dari si penyusup.  Suara gemerisik gaun menyapu lantai, apakah penyusup itu akan membunuhku? Dan aku baru menyadari dia bukan pembunuh, tapi pencuri saat dia melewati tempat tidur mendekati buntalan yang kuletakkan di meja.  Aku berguling dan mendaratkan tendangan kuat ke tubuhnya hingga penyusup itu terlempar dan menabrak ranjang lain. Ia mendengus dan menegakkan tubuhnya.  Penyusup itu adalah seorang wanita. Dengan jarak dekat seperti ini tanpa senjata pun aku bisa membunuhnya tapi sandiwaraku akan berantakan jika itu terjadi.  Penyusup itu kehilangan cengkramannya pada buntalanku. Dengan cahaya suram dari celah di atas jendela, aku belum bisa melihat wajahnya dengan jelas. Alih-alih menyerangku balik, ia buru-buru meraih butalan yang terjatuh di kolong ranjang dan itu membuatnya rentan.  Aku menarik kaki kanannya dan menghentakkan ke lantai, ia meraung kesakitan dan berusaha menendangkan tumitnya ke selangkanganku.  Terbuat dari apa perempuan ini? Dia sangat bertenaga. Kami berlomba meraih buntalan itu. Ia menerjang punggungku saat merunduk.  Kami tersengkur ke lantai dengan posisinya yang berada di atasku. "b******n kecil," geramku. "Aku akan memotong tanganmu agar tidak bisa mencuri lagi."  Satu tangannya mencekik leherku dan tangannya yang lain memelintir tanganku yang bebas. Tenaganya seperti seorang tukang pukul.  Kilatan keterkejutan di wajahnya yang lusuh saat aku membalikkan posisi dan membenturkan kepalanya ke lantai. Ini adalah pelayan tua tadi. Aku memutar tinju dan mengayunkannya dengan sekuat tenaga di rahangnya.  Mata wanita itu melebar dan cengkraman kukunya yang menusuk lenganku mengendur. Aku hendak melayangkan tinjuku lagi saat cahaya yang terang masuk ketika pintu dibuka.  "Elizabeth," teriak suara wanita muda.  Bertahun-tahun hidup dalam ratusan pertarungan, dari pergulatan paling sederhana hingga perkelahian paling brutal, dan baru kali ini aku melawan nenek-nenek, sial.  Dan dia sangat tahu bagaimana bertarung dengan licik. Begitu perhatianku teralihkan ia langsung memukul wajahku dengan kepalannya yang penuh tulang.  Gadis yang baru masuk menjambak rambutku dan meninju tenggorokan hingga aku terhuyung mundur. Dengan meraung aku mengangkatnya dan melemparkannya ke ranjang hingga benda itu patah dan mengepulkan debu.  Dadaku terasa panas, aku tidak bisa menahan diri lagi. Suara-suara terdengar, beberapa wanita datang untuk memastikan keributan yang terjadi.  Perempuan tua melesat dari cahaya di pintu yang menyilaukan, mendaratkan pukulan dan darah mengucur dari hidungku. Dia sangat cepat dan nyaris tak terlihat, dan detik berikutnya melemparkanku hingga menabrak dinding.  Aku mulai bangkit dan ia memukulku lagi saat akan membuka mulut. "Siapa kau? Beraninya membuat onar di istanaku." Kakiku bangkit dan sedikit goyah, tanganku berpegangan pada sebuah kursi untuk menjaga keseimbangan. "Mercy bilang akan mempekerjakanku."  Wanita tua itu berjalan mendekati Elizabeth dan gadis yang terkapar di atas tempat tidur yang remuk. Mereka masih bernafas meskipun nyaris tak bersuara.  "Anak muda." Wanita tua itu mulai berkata, memandangiku dengan cermat. "Kurasa, sebuah penjelasan harus diberikan." Rasa sakit menjalari rahang dan pipiku saat membuka mulut, "Aku hanya berusaha mempertahankan apa yang menjadi milikku. Pelayan Anda berusaha mencuri dariku."  Senyum licik seperti iblis terbentuk di bibirnya, membuat pipinya yang menggelambir keriput bergetar.  "Apa yang dimiliki pemuda miskin yang mencari pekerjaan kepada penyihir miskin membuatku sangat ingin tahu." Alisnya mengkerut penasaran.  Wanita tua itu terlihat sangat cerdas, kebohongan apa yang bisa dia terima? "Pedang yang cukup bagus, yang kucuri dari seseorang."  "Hhmm … baiklah, pedang yang kau peroleh dengan susah payah." Matanya mengabaikanku dan terus memandangi buntalan panjang itu. Matanya memancarkan kemarahan dan kembali menatapku dengan pancaran curiga.  "Hawa yang sangat jahat, aku bisa merasakannya. Manusia seperti apa yang sebelumnya memilikinya? Berkatalah yang sebenarnya sebelum aku membunuhmu karenanya."  Wanita tua ini adalah Chaterine, aku baru mengingatnya. Kukira dia sudah mati, salah satu musuh bebuyutan Al Maghrib. Aku masih kecil saat terakhir kali melihatnya dijebloskan ke penjara bawah tanah oleh ayahku. Biasanya para penyihir akan dibunuh di tempat di manapun mereka ditemukan, mereka sangat berbahaya dengan sihirnya.  Namun untuk sang Ratu, ayahku mencoba menawarkan persekutuan tapi dia menolaknya dan berhasil kabur dari penjara bawah tanah dan mencari perlindungan kepada Raja Al Masyriq.  Yang membuatku heran, Raja Al Masyriq sendiri melarang perdukunan di tanahnya namun dia menerima wanita ini dengan sisa-sisa kerajaannya yang telah kami hancurkan.  "Hanya seorang laki-laki di perbatasan, entahlah terlalu gelap malam itu. Aku tak melihatnya dengan jelas. Hanya sebuah keberuntungan karena dia sedang terluka."  "Kau membawa sesuatu yang terkutuk, jika kau tidak keberatan, kami akan memusnahkannya. Atau jika tidak bisa dimusnahkan kami akan membuangnya sejauh yang kami bisa. Kau akan dengan senang hati menyerahkannya bukan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN