Seorang pria berkulit putih kemerahan tertawa di tengah kerumunan, gigi emasnya berkilauan terkena cahaya matahari. Tiga orang lainnya memukuli seorang yang meringkuk menutupi kepalanya.
Penjaga keamanan pasar berteriak berusaha menghentikan kekacauan namun tak dihiraukan. Prajurit dengan ikat kepala lambang matahari terbit milik Al Masyriq memukul tiga pria itu hingga terdengar suara gedebuk dan erangan.
Salah seorang dari tiga pria itu meraih satu kaki dan menyeret pemuda yang berguling di tanah menuju sebuah toko perhiasan emas.
Mataku memberi kode pada seorang prajurit yang tak jauh dariku dan beberapa prajurit lain mulai merapat.
"Apa?" teriak pria bergigi emas saat salah seorang prajuritku mencoba membantu pencuri itu untuk berdiri. "Tunggu, hei!"
Beberapa pekerja tambang keluar dari toko itu dan mencoba membantu pria bergigi emas yang kini memegang pisau.
Prajuritku melambaikan tangan acuh dan mendaratkan pukulannya yang begitu kuat hingga membuat gigi emasnya berhamburan ke tanah.
Pria itu memelototinya dengan kebencian di matanya dan mulai menyerang. Prajurit-prajuritku yang menyamar menjadi pembeli mulai membantu prajurit yang dikeroyok.
Bagus, mereka tanggap menerima kode untuk membuat kekacauan yang nantinya mengalihkan perhatian para penjaga keamanan.
Saling adu jotos terjadi dan lapak-lapak kayu banyak yang hancur. Saatnya pergi.
Seorang wanita menabrakku, telapak tangannya yang tertumpu pada jalanan batu tergores. Seharusnya dia mengerang kesakitan, tapi dia tersenyum padaku.
"Maaf Nona, saya kurang memperhatikan jalanan."
Tanganku terulur membantunya berdiri. Gadis itu terlihat kesulitan berdiri dengan gaunnya yang terlihat sangat berat.
"Kurasa tidak, aku yang menabrakmu. Maaf!"
"Nah, benar sekali dan Anda membuat saya kurang beruntung, Nona." Aku menghela nafas sedang bersandiwara.
Gadis yang ada di hadapanku sudah pasti seorang penyihir yang sedang berbelanja. Aku bisa melihat benda-benda yang biasa digunakan untuk media sihir tercecer dan membatu memungutnya; bungkusan berisi tulang sapi, benang hitam, dan beda-benda lain yang kebanyakan berwarna hitam.
Dagu dan hidungnya sangat lancip, kurasa dia seorang penyihir murni. Pasar adalah tempat segala macam penduduk Al Masyriq berkumpul, termasuk para penyihir.
"Tidak beruntung?" tanyanya heran.
"Betul, aku kehilangan kesempatan mendapatkan pekerjaan. Aku tadi sedang mengikuti calon majikan dan kau menabrakku. Kini pria itu sudah tak terlihat." Aku berpura-pura memandang sekeliling, seperti mencari-cari seseorang.
"Tapi kau tidak seperti yang kulihat." Tatapannya memeriksa dari ujung kepala ke ujung kakiku. "Kau tidak seperti seseorang yang miskin, kau terlalu … tampan sebagai pekerja rendahan."
Aku tersenyum, "Mungkin saja seorang bangsawan tampan mendatangi tempat pelacurann dan pria sepertiku lahir dengan kemiskinan."
"Aku akan senang membantumu mencari pekerjaan jika kau sebutkan namamu?"
"Oh benarkah? Namaku … Ben … Benedict."
"Kau tidak ingin tahu namaku?" ucapnya dengan kesal.
"Oh tentu saja."
"Aku Mercy."
"Nama yang bagus." Ucapanku memunculkan kegembiraan di matanya.
"Apakah kau bisa mengurus kuda?" tanyanya.
"Tentu saja, aku sangat suka kuda."
"Dan, kami sedang membutuhkan seseorang yang bisa mengurus kuda-kuda kami. Kau tahu, kuda yang hitam legam milik para penyihir," bisiknya dengan menatapku penuh harap. "Asal kau tahu, kuda-kuda itu cukup merepotkan."
"Oh, bahkan aku berani mengurus yang lebih buruk dari itu. Dan yang terpenting kau membayarku dengan harga yang pantas." Aku menaikkan satu alis dan dia menarik nafas dalam.
"Wah, kau sangat berani, Ben. Dan sedikit bodoh. Kami para penyihir tidak memiliki banyak uang. Kau tahu kan bagaimana nasib kami." Ia menaikkan bahunya.
"Yah, yang penting … paling tidak kau memberiku makan."
"Oh baiklah, tentu saja. Kalau begitu saatnya kita pergi."
"Dan yang lain?" tanyaku.
"Aku sendirian."
"Oh, sangat berani. Kau tidak takut pria-pria kurang ajar? Di sini banyak sekali."
"Dan siapa yang punya nyali mengganggu seorang penyihir? Aku akan menyihirnya menjadi katak." Mercy terkekeh, kehilangan keanggunannya yang dibuat-buat.
"Wah kemampuanmu sudah sejauh itu? Kata-katamu mengingatkanku pada seseorang."
"Tentu saja, tapi tidak dengan yang lain. Hanya aku penyihir paling muda yang bisa melakukannya." Ia menyipitkan mata.
"Baiklah, sepertinya aku harus berhati-hati denganmu."
Ternyata yang kuhadapi sekarang cukup berbahaya, semoga saja dia tidak bisa mengendus kebohonganku.
Bersamanya akan mudah memasuki hutan terkutuk. Tak perlu mengatur strategi, cukup bermain sandiwara dengan baik.
Kami berjalan menuju tempat untuk menambatkan kuda, di pinggiran pasar. Kuda penyihir terlihat sangat mencolok dengan warnanya yang hitam legam dan mengkilat.
Warna matanya merah kekuningan dan menyala. Bahkan kuda-kuda lain tak ada yang berani memandangnya.
Ototnya sangat kekar, dihiasi rambut hitam legam yang panjang. Telinga lebih runcing dari telinga kuda pada umumnya.
Mercy melepaskan tambatan kuda dan menyuruhku menaiki kereta kecil yang cukup sesak dengan barang-barang yang berbau aneh.
"Ben, berpegangan lah yang kuat. Kau mengerti?"
"Tentu saja."
Dan kuda itu melesat, percikan api beterbangan di atas jalan batu yang licin karena fajar tadi diguyur hujan.
Kuda itu melesat sangat kencang, beberapa kali peganganku pada sisi kereta hampir terlepas. Tak butuh waktu lama kami sudah sampai di bibir Hutan Terkutuk.
Begitu memasuki hutan, cahaya matahari terhalang dengan kabut yang tebal. Mata kuda terpancar lebih terang dalam kegelapan, memberi penerangan.
Dengan lincah kuda itu berbelok dan meliuk-liuk menghindari pepohonan besar. Burung-burung dan hewan-hewan lain yang kebanyakan berwarna hitam menyingkir dari jalur.
Beberapa yang telat menyingkir tersambar dan berputar-putar seperti bola pegas. Tak ada jalanan, hutan itu tertutup daun-daun yang menghitam dan bertebangan di udara saat kami melintas.
Aku bersyukur bisa memanfaatkan penyihir ini. Jika harus masuk ke hutan ini bersama sebanyak apapun pasukanku, sudah pasti kami akan tersesat.
Hutan ini menakjubkan dengan apapun di dalamnya terlihat seperti telah dikutuk. Pohon-pohonnya tidak memiliki daun dengan batang yang tinggi dan dahan mencakar langit.
Kabut yang ada di hutan ini terlihat berlapis. Kabut yang paling dekat dengan bibir hutan sangat gelap dan hampir berwarna hitam, sangat menyesatkann dan terkutuk.
Dan kami baru melintasi yang berwarna abu-abu. Di depan kami kabut mulai memudar menjadi putih dan tipis seperti tirai. Pohon-pohon mulai berkurang dan cahaya-cahaya obor mulai nampak.
Bagian paling atas kastil para penyihir yang mengerucut mulai nampak mengerikan. Dan beberapa orang mulai terlihat. Kereta mulai melambat dengan mendadak dan aku hampir terjungkal.
Mercy nampak tidak goyah sedikitpun. Dia sangat stabil dan sesekali melirik kepadaku dengan senyum mencibir.
Kuda ditambatkan bersama kuda-kuda lain yang meringkik menyambut kedatangan kami. Tatapan mata kuda-kuda itu terlihat mencurigaiķu, insting mereka lebih baik.
Mereka sangat mengagumkan, gumpalan asap hitam keluar dari hidung mereka saat mendengus. Tampaknya mereka tidak suka padaku.
"Mereka memberimu sambutan buruk. Jangan diambil hati, mereka memang tidak ramah," ucap Mercy.