"Ke mana perginya semua siluman jantan?"
"Raja Al Masyriq, mereka sedang mengumpulkan kekua--"
Suara ledakan terdengar dari tengah muara, gelombang air besar tinggi menghantam. Sesuatu melesat dari gelombang itu dan menyeret makhluk yang ada di atasku.
Kedua makhluk itu sedang bertarung, dan aku memanfaatkan keadaan untuk segera meninggalkan muara itu.
Muara bangkai adalah perbatasan yang membelah daratan Al Maghrib dengan Al Masyriq, aku segera sampai di perbatasan setelah menggunakan sisa tenagaku untuk berlari.
Tak ada siluman yang mencegat, sebuah keberuntungan. Para prajurit perbatasan menyambut kedatanganku dan menggunakan tandu untuk membawa tubuhku yang kelelahan kembali ke istana.
Sejenak aku mengumpulkan kekuatan dan menyiapkan strategi untuk menyerang para penyihir. Hutan Terkutuk adalah sayap kanan gerbang dari Kerajaan Al Masyriq.
Sayap kirinya ditempati Hutan Tergelap. Di antara kedua hutan itu terdapat jalan yang membelah menuju pusat Al Masyriq.
Posisinya berseberangan dengan Muara Bangkai. Hutan itu merupakan tempat pelarian segala macam makhluk yang menolak bergabung dengan kekuatan Al Maghrib.
Sisa-sisa Kerajaan Penyihir ada di tengah hutan itu. Kami menghabisi sebagian besar dari mereka karena menolak tunduk di bawah kendali kami.
Sudah lama sejak terakhir kali para penyihir itu terlihat. Sampai salah satu dari mereka benar-benar berani menyelinap ke kamarku, Jenna.
Sialan, siapa pun yang mengirimnya telah memperhitungkan dengan sangat baik. Aku benar-benar lengah dengan keindahan matanya dan segala yang ada pada Jenna.
Lengah dan tergoda, belum pernah aku seceroboh itu. Pencuri wanita memang sangat berbahaya, apalagi jika dia cantik.
Dia tidak hanya mencuri pedang Ekor Naga, tapi juga mencuri pikiranku. Bayangan Jenna telah menjajah diriku.
Gundah, aku bahkan tidak sabar untuk melihatnya. Sulit untuk memikirkan hukuman apa yang akan kuberikan padanya.
Seandainya saja dia laki-laki, aku pasti sudah menghancurkannya sampai menjadi abu. Aku tak menyangka hatiku selemah ini.
Peta yang ada di hadapanku, namun wajah Jenna yang terus berkelebat. Sudah berjam-jam kuhabiskan untuk menyusun strategi, namun tak kunjung menentukan mana yang pas.
Jika menyerang menggunakan pasukan, itu akan menjadi perang besar karena wilayah itu merupakan kekuasaan Al Masyriq. Kerajaan yang bahkan rupa rajanya saja tidak ada yang tahu.
Rajanya terkenal bijak, namun keras kepala tidak akan tunduk pada kekuasaan lain. Selama ini musuh yang akan menyerang kerajaan itu mengalami kesulitan, termasuk Al Maghrib.
Raja Zuchri memimpin dari balik tempat persembunyiannya, ia adalah pria paling dicari di muka bumi. Kerajaannya memiliki sumber kekayaan yang berlimpah.
Tambang, itulah yang menjadi incaran kami semua. Namun pria tua itu sangat licin dan sudah sejak lama musuh-musuhnya tidak pernah melihat keberadaannya.
Ia sangat cepat berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Ayahku hanya memiliki lukisan wajahnya saat muda, tak ada yang tau rupanya sekarang ini.
Mata-mataku memberi kabar bahwa mereka pun menggunakan bahasa sandi untuk menyampaikan berita dari satu prajurit ke prajurit lain.
Sangat sulit membobol pertahanan mereka, bahkan pengemis di pasar-pasar mereka bisa menjadi prajurit yang sangat terlatih.
Sudah sejak lima tahun terakhir ayahku memerintahkanku menjalankan misi untuk memburu Raja Zuchri, namun aku harus kembali dengan tangan kosong.
Kerajaan Al Maghrib sempat di atas angin karena kami memiliki pedang Al Maghribi. Pedang yang dibuat dengan roh jahat yang kalah dalam peperangan dan terus haus darah.
Pedang ini memiliki kunci, sesuai dengan pesanan kakek buyutku. Beliau tak ingin pedang ini digunakan sembarang orang.
Sebelum Jenna, ayahku mengendalikan seorang panglima perang dengan pedang Al Maghribi dan hasilnya sangat menakjubkan.
Satu orang bisa mempunyai kekuatan membantai seribu orang dengan kekuatan jahatnya. Sampai Pangeran Zachary putra Raja Zuhri mengacaukan istana kami dan mencuri kuncinya.
Ia mengunci pedang dan menghilang selama beberapa tahun hingga akhirnya kami menemukannya. Bersama istri dan putranya, Pangeran Zachary berhasil ditumpas.
Lalu, siapa Jenna? Kenapa wajahnya mirip dengan Pangeran Zachary. Aku yakin itu bukan sebuah kebetulan, kunci pedang Al Maghribi ada di lehernya.
Para pejabat perang di bawah pimpinanku mulai memperhatikan perbedaan yang ada pada diriku. Biasanya aku terkenal cekatan dalam membuat strategi.
Apa mungkin Jenna menyihirku sehingga jadi seperti ini. Membuatku tergoda padanya, tapi jika memang seperti itu, tidak mungkin dia lari.
Jika dia menggunakan sihir untuk membuatku tergoda padanya, kenapa dia menolakku setiap aku menyentuhnya. Seharusnya dia membiarkanku.
Setelah menunggu lama akhirnya aku memutuskan untuk menyerbu ke Hutan Terkutuk dengan para prajurit yang kuperintahkan untuk menyamar.
Aku tidak sedang ingin melakukan perang besar-besaran. Jenna, hanya itu yang paling kuinginkan dan tentu saja pedang Ekor Naga juga harus kembali.
Pakaian kerajaan kutanggalkan dan menggantinya dengan pakaian yang biasa dipakai para saudagar. Satu peleton prajuritku juga melakukan hal yang sama dengan persenjataan yang tersembunyi.
Kami menyusup melalui jalur perdagangan, membagi beberapa prajurit menjadi beberapa kelompok dagang. Dan menyebar mereka di beberapa pusat perdagangan milik Al Masyriq.
Para penghuni Hutan Terkutuk biasanya jarang keluar dari batas hutan, mereka seperti negara kecil di bawah kekuasaan naungan perlindungan Al Masyriq.
Rakyat Al Masyriq juga dilarang memasuki batas wilayah hutan terkutuk, mereka hidup seperti tetangga yang bermusuhan karena kebanyakan penghuni hutan memiliki sifat alami sebagai penjahat.
Banyak rakyat Al Masyriq yang menolak keberadaan penghuni hutan itu namun Raja Zuchri entah bagaimana bisa mendamaikan rakyatnya.
Kami menunggu sampai malam tiba untuk memulai menyusup ke dalam hutan karena akan sangat mencurigakan jika kami terlihat memasuki hutan itu di siang hari.
Para penjaga keamanan perbatasan pasti akan segera mencium ada yang tidak beres dengan kami dan perang akan pecah lagi.
Aku bahkan tidak sabar menunggu sampai malam tiba. Penyamaran kami berjalan lancar dan entah mereka sudah mencium gelagat mencurigakan atau tidak, mata-mataku belum menyampaikan kabar apapun.
Pasar-pasar di kerajaan Al Masyriq terlihat sangat ramai, perdagangan merupakan pendapat terbesar kedua setelah tambang.
Para saudagar dari berbagai negeri datang untuk membeli berbagai hasil tambang. Ini lah yang membuat para kerajaan di sekitarnya iri.
Kekayaan alam mereka seperti tidak pernah habis meski ditambang terus-terusan. Aku terus waspada, karena beberapa kali penyusup yang kukirim untuk memata-matai tak pernah kembali.
Mereka sangat jeli. Sekarang aku sendiri merasakan sedang diawasi karena wajah kami baru. Aku menjual barang-barang tua seperti lampu minyak dan berbagai perlengkapan rumah tangga.
Ya ampun, untuk Jenna sampai aku melakukan hal seperti ini. Sebelumnya bagian seperti ini akan dilakukan prajurit dan aku hanya akan menunggu.
Aku memperhatikan sedikit keributan di tengah pasar. Pencuri dan pasar, dua hal yang sulit dipisahkan. Kerumunan itu semakin melebar dan membuatku terpancing untuk melihatnya.