Aku tak memberinya kesempatan menyelesaikan kata-katanya dan menumpahkan amarahku padanya.
Makhluk itu penuh cairan busuk. Tusukanku yang membabi buta membuatnya kempis dengan cairan hitam membanjiri lorong.
Aku bergegas mencari jalan keluar namun setelah beberapa kali menemui lorong buntu, pada akhirnya aku kembali ke bangkai siluman yang tadi kuhabisi.
Nah, aku melewatkan sesuatu. Di mana dua prajurit yang tadi ada di sini. Aku mencari-cari jejak mereka, yang berakhir di lorong yang di sumpal batu besar.
Siapa mereka? Kurasa mereka juga bukan prajurit sembarangan. Bagaimana mereka bisa melakukannya?
Aku menarik pedangku, menyelipkannya di rongga batu. Amarah adalah sebuah energi yang besar.
Aku menyalurkan energi di dadaku menuju telapak tangan dan dengan sekali hentakan aku menghancurkan batu itu.
Bisa kurasakan udara bersih mengalir dari atas, sudah pasti ini jalan menuju permukaan tanah. Aku merangkak sambil berlari, dan itu tidak mudah dengan cahaya minim dari belatiku.
Ini adalah jenis belati yang mampu menyimpan cahaya senja, benda ini perlu terkena sinar matahari sore untuk membuatnya menyala terang.
Aku sudah tidak sabar untuk memberi pelajaran pada Jenna, tapi sebelumnya bisul-bisul ini harus cepat disingkirkan. Sekarang sudah hampir rata di seluruh tubuh, berdenyut-denyut, gatal dan busuk.
Aku butuh mengatur nafas sejenak setelah mencapai permukaan, mengganti hawa busuk dalam paru-paruku dengan udara yang jauh lebih bersih.
Sesuatu bersiul dari atasku, aku menengadah. Makhluk itu menyibak rambut panjangnya yang bergelombang, menciuminya dengan menggoda.
Ia menunduk, matanya melebar karena kegembiraan yang mengerikan. Aku baru saja membunuh siluman dengan darah dinginku.
Tapi yang atasku sekarang, sangat cantik hampir seperti Jenna. Ia cukup berhasil mengalihkan kebrutalanku yang begitu ekstrim dalam menghadapi siluman.
Dia bergelayut dengan anggun di akar gantung. Semakin lama wajahnya semakin mirip dengan Jenna. Oh ya ampun, ini ilusi.
Beberapa siluman betina sanggup membaca pikiran pria dan ia berusaha menyerupai wajah gadis yang dari tadi berkelebat di pikiranku.
Aku sadar betul ini ilusi, namun sejenak menikmati pemandangan sosok yang mirip Jenna dengan kain yang sangat tipis bisa menenangkan pikiranku yang kacau karena ulah Jenna.
Dengan pikiran yang tenang, strategi perang melawan Raja Zuchri akan lebih mudah disusun. Makhluk itu semakin turun, dua kakinya membelit akar itu seperti tanpa beban dan meliuk-liuk.
Kini wajahnya sejajar dengan wajahku, tanpa cela sangat serupa dengan Jenna. Sayang, aromanya tak semanis dan semenggoda milik Jenna. Aku berlama-lama memandangi bagian di balik kain tipis sewarna gading yang penuh pori.
Jemarinya mulai berani menyentuh ujung rambutku dan berusaha membangkitkan keinginanku dengan menjalari punggungku. Ujung akar tanaman gantung itu mulai membelit tubuhku dan menarikku ke atas.
Dengan satu tarikan nafas aku menebas tali akar tepat di atas kepalaku. Aku bahkan tidak memberinya kesempatan untuk memperlihatkan keterkejutan di wajah palsunya.
Sikuku mematahkan lehernya. Dalam sekejap ia berubah menjadi wanita dengan kulit kenyal dan tipis seperti cicak.
Tubuhnya berdebum lalu terpental ke udara dan kembali menempel di salah satu akar gantung. Kakiku mendarat di atas dedaunan kering tebal hingga kakiku terbenam sampai ke lutut.
Sial, ini sebuah jebakan. Entah apa di bawah dedaunan ini, sesuatu yang lengket memerangkap kakiku.
Sementara leher makhluk itu yang tadinya layu karena patah kini kembali tegak dan ekor tumbuh di bokongnya yang besar.
Ia menunduk, memberiku tatapan kekecewaan seperti telah dikhianati, lalu memalingkan wajahnya dengan cepat hingga rambutnya yang berjumbai semakin panjang, mencambuk punggungku.
Cukup menyakitkan, ujung rambutnya seperti jarum. Aku tidak kalah cepat, menarik rambutnya hingga ia melolong kesakitan.
Aku tersungkur dengan kaki masih terperosok di lubang. Ia memutus rambutnya hingga menjadi gundul, ajaibnya rambut itu bisa tumbuh lagi.
Siluman selalu saja memiliki kelebihan dengan tubuh mereka, namun manusia memiliki kelebihan dengan otak mereka jika digunakan dengan tepat.
Terdengar dua akar gantung berderit, dan makhluk itu berayun akan menendangku. Aku berusaha menarik kakinya namun di luar jangkauan.
Sial, terkutuk siapa pun yang membuat jebakan ini. Aku menggali dedaunan dan mencopot sepatu sebelum siluman itu berayun lagi hampir menjeratku dengan akar pohon.
Aku mencabut pedang dan makhluk itu menghilang di dekat akar gantung yang paling dekat dengan batang pohon paling besar.
Tidak dia tidak menghilang, kamuflase. Aku bisa merasakan dia bergerak sangat lamban di belakangku meskipun aku tidak bisa melihat dan mencium baunya.
Aku berdiri dengan santai, seolah-olah sedang berjalan-jalan sore dan berhenti sejenak di akar gantung yang terlihat tegang. Akar itu tidak seperti akar-akar lain yang mengikuti kemanapun arah angin.
Aku berjongkok dan pedang sudah siap di tanganku. Saat akar tegang itu bergetar, aku melompat dan menghunuskan pedang ke arah atas.
Pedangku bergerak membabi buta, ketika mulai nampak percikan cairan berwarna abu-abu. Serangan semakin gencar mengikuti ke mana arah tetesan itu hingga jeritan melengking saat kutancapkan pedangku di batang pohon setengah busuk.
Genangan darahnya yang berwarna abu-abu memantulkan bayangan pria dengan mata yang mencerminkan kecerdasan yang brutal, bayanganku.
"Jadi, apa masih ada yang ingin menghalangi jalanku menuju Muara Bangkai?" Teriakanku membuat burung-burung meninggalkan sarangnya.
"Aku tidak suka siluman." Aku mulai menggerutu dan membersihkan lendir yang menempel di sepatuku.
Aku berjalan cepat menembus kabut. Kekesalanku muncul kembali karena Jenna telah mencuri pedang Ekor Naga dan membuatku bersusah payah menempuh jalur darat.
Jika ada pedang itu aku bisa mengendarai naga dan tidak akan repot-repot menghadapi berbagai siluman seperti ini.
Beruntung tidak ada lagi siluman yang mengganggu sampai aku tiba di muara. Hawa dingin merasuk seketika tubuhku masuk ke dalam air yang berbau busuk itu.
Benar, bisul-bisul itu mengempis dan menghilang tanpa bekas. Dan muara itu terlihat sangat tenang tanpa kehidupan.
Bahkan tak ada riak air, belum satupun hewan kutemui. Permukaan airnya seperti kepulan teh yang baru diseduh.
Tanaman air pun tidak ada, lumpurnya sangat hitam pekat. Pohon-pohon hitam dan mengering memagari tepiannya, mirip seperti cakar-cakar penyihir tua.
Aku hampir mencelupkan seluruh tubuhku ketika tiba-tiba kakiku ditarik. Muara yang terlantar dan membekukan tulang ini terkenal sebagai tempat mematikan yang angker.
Sebuah beban yang sangat berat menarikku ke bawah. Kedalamannya sangat mengherankan, ada apa di bawah sana?
Jantung berpacu, mata kabur, dan hawa dingin membekukan tulang. Kakiku menarik dan menendang sekeras yang kubisa.
Samar-samar sosok gelap muncul di sampingku. Dia membuka mulutnya dengan takjub. Siluman betina lagi, kemana siluman jantan? Dari pusar ke bawah bentuknya menyerupai kuda laut.
Dia terlihat sangat cantik dengan kulitnya yang seperti baju zirah perang. Namun bibirnya terlalu mengerucut dan tebal, ditambah telinganya yang agak lebar seperti kipas para wanita bangsawan.
Ekornya lah yang ternyata melilit pergelangan kakiku. Ia melepaskan jeratannya dan mengulurkan tangan.
Begitu jariku tertaut dengan tangannya, ia menghempaskanku menuju permukaan begitu cepat hingga seteguk air masuk dalam tenggorokanku.
Aku terkulai di tepi muara dengan terbatuk dan terbatuk. Sial, airnya terasa sangat getir dan busuk. Awas kau Jenna, aku mengumpat dan makhluk tadi sudah berada di atasku.
"Maafkan atas sambutan yang tidak sopan tadi, pria tampan," kata siluman itu.