Us 4. Kekhawatiran Mia

1044 Kata
Mia menatap ke arah sahabatnya tersebut dengan kening berkerut Entah sudah berapa lama Letta terlihat seperti tidak baik-baik saja “kau yakin kau sedang tidak dalam keadaan sakit?" Tanya Mia penasaran yang kini mendekat kearah Letta yang tengah duduk sambil mencoba mengeratkan sweater yang dia kenakan "aku baik-baik saja mungkin” Jawab. Letta membuat Mia berdecak dengan kesal " itu bukan jawaban yang pasti Letta, kau harus memeriksakan diri mu apa jadwal mu terlalu sibuk, padahal beberapa minggu ini kau menolak untuk melakukan penerbangan "ucap Mia kembali membuat Letta hanya bisa mengepalkan jari jemarinya yang sudah mulai berkeringat “ Sebenarnya aku sudah mengirimkan kan surat pengunduran diriku "ucap Letta tiba-tiba membuat Mia tentu saja merasa terkejut dengan keputusan tiba-tiba yang Letta ambil bahkan Letta tidak menceritakannya sedikit pun kepada Mia yang notabene selalu tahu tentang apapun yang Letta hadapi baik itu masalah ataupun apapun yang dia rasakan tapi kali ini sepertinya Mia sedikit kecewa dengan keputusan Letta tersebut " Lalu? "Tanya Mia menunggu kelanjutan dari perkataan Letta " aku belum bisa keluar begitu saja meskipun Aku mengatakan ingin kali keluar saat ini juga, mungkin membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk memproses data aku, tapi aku sudah meminta kepada Ibu Dora untuk tidak memberikan Ku Terbang lagi "ucap Letta kembali membuat Mia semakin mengerutkan keningnya alasan kenapa dia menolak untuk ikut penerbangan beberapa minggu ini membuat Mia akhirnya duduk disebelah Letta dan menggenggam tangan sahabatnya yang terasa sangat dingin "aku bersahabat denganmu Itu bukan hanya setahun dua tahun, apa kau mengabaikan fakta itu bahkan selama ini jika kau hanya terserang flu saja kau mengabarkannya padaku tapi apa ini?" Tanya Mia yang terlihat tidak senang dengan keputusan Letta membuat Leta membalas genggaman erat tangan dari Mia "aku baik-baik saja Mia, aku hanya jenuh saja dengan pekerjaanku ini" ucap Letta dengan segala alasan yang biasa dia berikan kepada sahabatnya tersebut Meskipun Letta yakin Mia tidak akan percaya begitu saja apalagi ketika melihat reaksinya yang hanya memutar bola matanya seolah menganggap alasannya tersebut hanyalah sebuah omong kosong belaka “Alasannya karena jenuh tentang pekerjaanmu kau pikir aku akan percaya, ini adalah pekerjaan yang kau impikan Bagaimana mungkin kau menganggapnya seperti itu” Ucap Mia kembali membuat Letta hanya terdiam sejenak “ Aku sudah mendapatkan pekerjaan lain dan saat ini mungkin aku sedang sakit Tapi itu bukan rasa sakit yang parah dan juga bisa membuat orang-orang di sekitarku khawatir termasuk dirimu, aku hanya tidak ingin terus-terusan bekerja di maskapai penerbangan, aku sudah melamar pekerjaan di sebuah Kedai Kopi pasti itu akan sangat menyenangkan dengan kerja santai yang hanya akan menghadirkan cemilan manis dan juga kopi hangat pada pelanggan "Ucap Letta kembali membuat Mia terdiam tidak mengerti dengan keputusan tiba-tiba sahabatnya tersebut, Letta memang selain bermimpi untuk menjadi pramugari salah satu pekerjaan yang ingin Letta lakukan adalah menjadi karyawan di salah satu kedai kopi, menurutnya itu sangat mengasyikan dengan menghirup aroma kopi setiap pagi entah selera apa yang Letta punya dan Mia hanya bisa mengabaikannya "Abian sudah tahu?" Tanya Mia membuat jantung Leta berdegup berkali-kali lipat memikirkannya saja membuat kepala Letta berdenyut dengan hebat apalagi jika dia benar-benar harus bertemu dengan Abian yang saat ini dan tentu saja Letta tidak bisa mengatakan hal tersebut kepada Mia yang akhirnya membuat letta menganggukan kepalanya “ tertentu saja aku sudah mengatakannya kepada Abian meskipun hanya melalui lewat telepon karena aku belum bisa bertemu langsung dengannya dan akan membicarakannya secara langsung kepadanya setelah kami mempunyai waktu untuk berbicara "ucap Letta membuat Mia menghembuskan nafas panjangnya padahal yang mempunyai masalah saat ini adalah dirinya tapi Mia terlihat lebih prustasi ketika melihat dirinya sendiri “Baiklah setidaknya aku bisa mengandalkan Abian disisimu meskipun kau sudah tidak percaya padaku" ucap Mia membuat Letta langsung mengerucutkan bibirnya "Ayolah aku tidak menganggapku seperti itu Aku hanya tidak ingin membuat pikiranmu kacau sebelum kau berangkat untuk penerbangan selanjutnya "Ucap Letta membuat Mia hanya mengangkat bahunya Acuh " Baiklah Jaga dirimu selamat bertemu lagi di akhir pekan dan sampaikan salamku pada Abian jika kalian bertemu "ucap Mia membuat Letta menganggukkan kepalanya menatap sahabatnya tersebut menarik kopernya menuju pesawat yang akan membawanya kembali dan melayani beberapa penumpang seperti yang dia lakukan namun beberapa minggu ini Letta tidak bisa melakukannya, letta kemudian menghembuskan nafas panjangnya sebagai gantinya dia harus membantu beberapa para pegawai lain tentang bagian kantornya bagi Letta itu lebih baik daripada dia harus memaksakan diri mengikuti penerbangan dan membahayakan diri dan juga calon Buah Hati di dalam rahimnya. gerakan Letta terhenti ketika jari jemarinya hendak bermain-main di atas keyboard ketika nama Abian kembali terlintas, Letta benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi Abian, apa dia harus mengatakan dengan jujur bahwa dirinya tidur dengan laki-laki yang tidak dikenal dan saat ini dia hamil membuat Letta lagi-lagi menghembuskan nafas panjangnya bahkan membayangkan ekspresi seperti apa yang akan Abian berikan kepadanya saja membuat Letta tidak sanggup apalagi harus menghadapinya secara langsung, Letta mulai menggelengkan kepalanya sepertinya memikirkannya saja akan membuat pekerjaannya semakin terhambat membuat Letta harus kembali fokus namun baru saja dia hendak mulai kembali bekerja tiba-tiba rasa mual langsung naik dari perutnya ke atas menuju kerongkongan yang membuat Letta tidak bisa untuk menahan nya lagi, Letta kemudian berlari menuju kamar mandi yang paling dekat dengan ruangannya saat ini Untung saja orang-orang di sekitarnya tidak terlalu peduli dengan keadaannya jadi Letta tidak perlu mencari alasan untuk berbasa-basi tentang setiap mualnya yang dirasakan setiap pagi yang kadang menyiksanya bahkan membuat kerongkongannya terasa perih Apakah seperti ini rasanya menghadapi kehamilan pikir Letta yang terus memuntahkan cairan bening dari dalam kerongkongannya membuat hidungnya terasa sangat perih, Letta kemudian membasuh mukanya menatap cermin besar di hadapannya wajahnya semakin pucat dan tirus Apakah selama ini dirinya melupakan makannya Lalu bagaimana dengan calon Buah Hati di dalam perutnya Apakah dia mendapatkan asupan nutrisi dengan baik pikir Letta, saat ini dia tidak hanya bisa memikirkan dirinya sendiri tapi ada satu nyawa yang harus dipikirkan Letta tidak bisa bersikap egois hanya karena kesalahannya membuat dirinya akhirnya memilih untuk kembali ke ruangannya namun langkahnya terhenti ketika melihat seorang laki-laki yang familiar yang berada di ujung lorong dengan langkah lebar nya dengan beberapa orang yang berada di sampingnya, entah obrolan semacam Apa yang membuat Mereka terlihat tergesa-gesa membuat Letta akhirnya memilih untuk menggeserkan tubuhnya memberi jalan kepada pemilik dari maskapai penerbangan ini yang membuat jantungnya seperti ingin meledak saat itu juga
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN