“Kirimkan ini ke kediaman Halley.” Avel meminta Daniel mengirimkan amplop cokelat berisikan surat cerai yang sudah ia tanda tangani. Daniel menerimanya dengan sigap. “Baik, Tuan. Saya permisi.” Pria berparas rupawan itu hanya mengangguk kecil. Sesaat, Daniel sudah jauh dari pandangannya. Avel menyipit tajam seolah-olah rencana sedang tersusun di otaknya. Ia juga tahu setelah menerima surat itu, Halley pasti akan langsung menemuinya dan memprotes karena menolak menandatangani surat itu. Suara tawa terdengar di pintu masuk. Ia pastikan itu adalah suara anak dan istrinya. Avel menatap mereka—yang sedang bergandengan tangan—dengan penuh kelembutan. Laxy memanggilnya lantang. “Daddy.” Avel tersenyum. Ia melihat Laxy berlari cepat ke arahnya dan memeluknya. Avel langsung mengangkatnya dan

