"Kau sudah siap, Pak?" tanya Lynne pada Gabriel setelah Clarista meninggalkan rumah. Ia ingin bertanya dengan Gabriel perihal para tetuah, tetapi Lynne takut melewati batas. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah diam ... menunggu Gabriel menjelaskan semuanya.
"Aku rasa kita harus mulai membiasakan diri untuk memanggil nama, Lynne." Gabriel berjalan keluar kamar dan menyodorkan lengannya ke arah Lynne. Dia lebih baik dan tidak sepucat tadi.
Lynne sempat bingung. Namun, kemudian ia sadar maksud Gabriel. Dengan cepat, ia melingkarkan tangannya pada lengan Gabriel lalu menatap kedua bola mata lelaki itu. “Apa kau yakin akan baik-baik saja, Gabriel?”
"Tentu. Aku sudah jauh lebih baik, meski masih sedikit pusing." Gabriel menuntun Lynne berjalan. Ternyata ada lift di dalam apartment Gabriel. Lynne tidak melihatnya tadi. Mereka turun ke lantai bawah, setelah Gabriel menekan tombol G. Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka.
Lynne mengernyit melihat mobil-mobil yang terparkir di sana. Semuanya mewah, semuanya mengkilap dan semuanya ... tentu mahal. Ini bukan tempat parkir bawah tanah biasa.
"Yang mana mobilmu, uhm ... aku harus memanggilmu Riel atau Gabe?" tanya Lynne bingung.
"Panggil aku Gabe saja. Panggilan Riel mengingatkanku pada Daniel," ucap Gabriel sembari memutar kedua matanya. Kepalanya masih agak pusing meski sudah lebih baik, tetapi tetap saja Gabriel butuh topangan. Karena itu dia memeluk tubuh kecil Lynne erat, agar tak terjatuh.
Lynne sendiri tahu kalau Gabriel memang lebih baik daripada tadi, tetapi bukan berarti lelaki itu akan baik-baik saja. Dia hanya bisa berharap Gabriel tidak akan kenapa-napa nanti.
"Kau tanya yang mana mobilku?" ulang Gabriel dengan alis yang terangkat.
"Ya. Yang mana?" tanya Lynne penasaran.
Dari deretan mobil mewah ini ... kira-kira yang mana mobil Gabriel?
Lynne tidak bisa menebak. Semua mobil di sini bagus dan mahal.
"Semuanya milikku, Lynne." Gabriel terkekeh pelan. "Aku menyukai mobil."
"Jadi ... ini koleksimu, Gab?" Lynne ternganga. Bukan main, Wallance ternyata memang benar-benar kaya. Padahal tadinya Lynne pikir Gabriel itu miskin karena ia tidak punya apa-apa di dalam kulkasnya.
"Yes ...." Gabriel mengulurkan tangannya lalu menekan salah satu tombol pada kunci mobilnya. "Malam ini, kita pakai yang itu."
Sebuah mobil putih dengan dua kursi tengah terparkir manis di antara jajaran mobil mahal lainnya. Lynne belum pernah menaiki, ah bahkan melihat mobil mahal seperti ini baru pertama dalam hidupnya.
Lynne melepaskan tangannya dari lengan Gabriel saat lelaki itu membukakannya pintu. Lelaki itu benar-benar memperlakukan Lynne layaknya Cinderella, malam ini.
"Gab ... kau yakin bisa menyetir?" tanya Lynne cemas saat Gabriel nekat mau mengambil alih kemudi ketika kondisinya sedang tidak fit. "Jika kau tidak bisa, jangan memaksakan diri. Kita bisa memanggil--"
"Aku tidak suka ada orang yang tidak kukenal masuk ke dalam mobilku, Lynne." Gabriel memotong ucapan Lynne. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Gabriel harap, rasa pusingnya tidak semakin menjadi-jadi saat ia menyetir nanti.
"Baiklah ... tapi, bagaimana kalau aku saja?" tanya Lynne. Ia tidak mau mengambil risiko dengan kecelakaan yang bisa menyebabkan luka atau yang lebih fatal kematian. Lynne masih harus menjaga Judith di rumah sakit. Ia juga belum memaafkan Robert. "Aku bisa mengendarainya."
"Tapi kau memakai gaun," ucap Gabriel bingung. "Apa kau tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu," balas Lynne ragu. "Hanya saja, aku berpikir kau terlalu memaksakan dirimu sedaritadi."
Gabriel menatap Lynne sejenak lalu menghela napas. "Sudah kubilang ... kau hanya perlu melakukan bagianmu. Jangan khawatirkan aku." Gabriel memutar kuncinya dan mulai menghidupkan mesin. "Jangan melewati batas terus-terusan, Lynne. Aku tidak bisa selalu memberikanmu peringatan."
"Maaf," gumam Lynne pelan. Ia hanya peduli ... tapi kenapa?
Kenapa Gabriel menutup diri darinya?
Kenapa Gabriel menggambar batas diantara mereka?
Lynne tidak mengerti ....
Suasana perjalanan mereka sunyi. Kecanggungan luar biasa terasa dan Lynne merasa tak nyaman. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap langit malam dengan bintang yang berkelap-kelip.
"Apa aku boleh bertanya?" celetuk Lynne pada akhirnya. Ia ingin mencairkan suasana ini. Mereka tidak boleh secanggung ini jika mau mendapatkan kepercayaan keluarga Gabriel. Belum lagi Lynne belum mengetahui siapa para tetuah itu.
"Silakan."
"Kenapa kau memilihku?" tanya Lynne. "Maksudku, ada banyak wanita cantik yang bisa kau jadikan tunangan palsumu jika kau mau. Lantas, kenapa kau memilihku? Apa karena aku menolongmu dari Stacy?"
"Bukan begitu," gumam Gabriel. "Aku memilihmu karena kau tekresan sederhana dan kelihatannya kau tidak akan menuntut apa-apa dariku. Aku malas jika harus berurusan dengan wanita ribet yang nantinya akan menuntut berbagai macam permintaan."
Lynne tersenyum. Senyuman penuh ejekan pada dirinya sendiri.
Gabriel salah sangka. Lynne sama saja dengan gadis-gadis yang ingin ia hindari. Hanya saja, Lynne tidak menuntut atas nama materi. Ia hanya ingin meminta hati Gabriel.
"Oh begitu," ucap Lynne. "Tapi kau tampak baik-baik saja. Maksudku, kau bisa berinteraksi dengan Cla meski kau trauma dengan wanita."
"Aku trauma ... hingga kehilangan minat untuk berpacaran dengan mereka Lynne. Karena itu aku hampir tidak pernah melirik wanita," tukas Gabriel. "Bukan berarti aku alergi atau jijik. Tidak. Hanya saja, aku malas menjalin hubungan dengan orang lain."
"Apa mungkin ...kau punya masa lalu yang buruk?" tanya Lynne lagi.
"Kurasa kau terlalu banyak bertanya." Gabriel menatap lurus ke depan tanpa memandang ke arah Lynne. Ucapan Gabriel sukses membuat Lynne bungkam. Tidak berniat lagi untuk bertanya padanya.
"Maaf," gumam Lynne lagi.
"Apa kau selalu meminta maaf?" Gabriel mengkerutkan alisnya. "Aku tidak suka. Kau tidak berbuat salah tapi kau meminta maaf."
"Heh?" Lynne membulatkan matanya bingung. Ia memang bersalah karena sudah bertanya terus-menerus, 'kan?
"Maksudku, aku tidak suka kau terlihat lemah dengan meminta maaf berkali-kali." Gabriel terlihat serius dari samping, membuat Lynne tanpa sadar terus memandanginya. "Jangan mau terlihat rapuh di pesta nanti. Kau harus tangguh Lynne. Setangguh ketika kau jambak-jambakkan dengan Stacy."
"Kenapa harus begitu? Bukankah aku seharusnya menjadi elegan, Gab?" tanya Lynne bingung.
Ia sudah berpakaian layaknya putri dengan seluruh pernak-pernik ini, bukankah sudah seharusnya ia menjadi anggun?
"Satu lagi alasan kenapa aku memilihmu jadi tunangan palsuku adalah ... karena kau kuat, Lynne." Gabriel tersenyum tipis. "Kau tidak gentar melawan Stacy di saat ia merendahkanmu habis-habisan. Kau bahkan membalasnya dengan telak dan aku terkesima waktu itu."
Lynne mengerjap-ngerjap. Ia bingung harus bereaksi bagaimana.
"Aku yakin Daniel akan membawa salah satu wanita sejenis Stacy nantinya. Jadi kau tidak boleh lemah di hadapan mereka."
"Aku mengerti," ucap Lynne seraya mengangguk.
"Bagus kalau kau mengerti, tetapi ... dibanding dengan wanita yang Daniel bawa, ada hal yang lebih parah dibandingkan itu."
Lynne mengernyit melihat perubahan ekspresi wajah Gabriel. Apa ini? Apa lelaki itu kembali sakit?
"Apa itu?" tanya Lynne.
"Para tetuahku," gumam Gabriel pelan. "Aku harap kau tahan banting dengan serangan mereka nanti, Lynne. Sebab sekali mereka berbicara ... seluruh hatimu mungkin akan hancur berkeping-keping. Jadi aku harap, kau siap untuk itu."