"Jadi … ini tunanganmu, Gab?" tanya Clarista—stylist, make up artist, temannya adik Gabriel—dengan mata yang naik turun, seakan men-scan tubuh Lynne.
"Begitulah," ucap Gabriel pelan. "Terima kasih karena sudah datang di saat kita sama sekali tidak dekat, Cla."
"It's okay. Angel memintaku untuk membantumu. Katanya kau baru mendapatkan tunangan, dan itu sangat langka." Clarista terkekeh pelan, penuh ejekan. "Kita kenal sudah lama, tetapi baru kali ini aku melihatmu bersama wanita."
Lynne menyimak pembicaraan itu tanpa tahu harus berbuat apa. Tampaknya, Clarista adalah tipe wanita pemberani. Ia bisa mengejek Gabriel secara tak langsung tanpa takut akan membuat lelaki itu marah.
"Terima kasih pujiannya." Gabriel berdiri dari tempatnya, berjalan mendekati Lynne dan memegang bahunya. "Tolong dandani wanitaku secantik mungkin. Jadikan dia princess di pesta nanti."
Wajah Lynne bersemu merah saat Gabriel menatap matanya begitu dalam, seakan penuh cinta. Ia terhipnotis pada mata itu. Begitu indah, begitu menawan.
"Baiklah, aku akan mendandaninya seperti Cinderella malam ini," tukas Clarista dengan senyumannya yang lebar.
"Jadikanlah ia Cinderella, dan aku akan mengikatnya di kamarku sebelum pukul dua belas tiba." Gabriel tersenyum miring.
Lynne hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Gabriel sudah menjadi orang lain sekarang. Ia bahkan membicarakan hal yang v****r.
Oh, sial. Apa mereka sudah masuk ke dalam sandiwara?
Karena itu Gabriel menekan bahunya tadi? Sebagai kode?
Astaga ... Lynne bodoh sekali.
"Kurasa ... tidak baik membicarakan hal itu sekarang, Sayang," ucap Lynne dengan ekspresinya yang dibuat-buat. Ia bisa berakting karena sejak orang tuanya meninggal, Lynne terbiasa berpura-pura terlihat baik-baik saja.
Gabriel tampak terkejut. Sepertinya ia juga memutuskan untuk jatuh ke dalam sandiwara ini bersama Lynne. Mereka berdua membutuhkan totalitas agar semua orang percaya bahwa mereka bertunangan.
"Baiklah, berhenti," ucap Clarista sembari memutar bola matanya. "Lebih baik kau tidur dulu, Gab. Masih satu jam lagi sebelum pesta. Wajahmu itu pucat sekali. Kau bahkan gemetaran saat berjalan tadi."
"Aku tidak apa-apa," ujar Gabriel.
"Kau tidak dalam keadaan baik, Sayang," potong Lynne tidak setuju. Mumpung ia sedang berperan sebagai tunangan Gabriel, bukan sekretaris, jadi Lynne bisa membantah ucapan atasannya, bukan?
Mungkin Gabriel akan marah padanya nanti, tetapi tak apa, Lynne rasa ia bisa mengatasi kemarahan Gabriel.
Mungkin ... Lynne bisa.
"Tidurlah," sambung Lynne lembut. Ia meminta Gabriel berbaring di atas ranjang dan menyelimutinya. "Aku akan membangunkanmu ketika selesai. Jangan memaksakan diri."
Gabriel tampak tertegun. Ia hanya bisa membeku dan mengikuti seluruh perintah Lynne. Sedangkan Clarista lagi-lagi memutar kedua bola mata, sedikit jijik melihat kedua pasangan ini.
"Oke. Sudah, ‘kan?" tanya Clarista. "Kita make up di depan saja. Aku yakin, kau tidak mau menganggu waktu tidur Gabriel."
"Ya, begitulah," ucap Lynne sembari tersenyum.
Clarista mengangguk. "Kalau begitu, kutunggu kau di sana."
******
"Bagaimana caramu mendapatkan hati Gabriel?" tanya Clarista tiba-tiba saat mereka memulai untuk melakukan persiapan.
Lynne sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, tetapi ia berusaha merilekskan diri dan meyakinkan bahwa ia bisa menjawab.
"Aku tidak tahu. Semuanya terjadi begitu saja. Kami tidak dekat pada awalnya, tapi takdir seolah mempertemukan kami dan membuat kami menjalin hubungan ini," jawab Lynne jujur.
"Oh begitu," balas Clarista. "Ah, aku belum memperkenalkan diri. Namaku, Clarista Hweeyone. Aku temannya adiknya Gabriel."
Lynne tersenyum balik. "Aku Lynne Dawn. Senang bertemu denganmu, Clarista. Kuharap kita bisa berteman."
"Panggil saja aku Cla, dan senang bertemu denganmu juga Lynne," ucap Clarista sembari mengoleskan foundation di wajah Lynne. "Jika kau mau tau, aku sudah kenal dengan Gabriel lama karena Angel. Namun, aku tidak pernah sekalipun melihatnya berpacaran atau minimal dekat dengan wanita. Dia begitu tertutup. Tak tersentuh. Berbeda dari Daniel yang selalu tersenyum meskipun tak di minta.
“Tentu saja, Gabriel tidak mengenalku dulu. Tepatnya, ia baru mengetahui namaku setelah aku berteman dengan Angel selama enam tahun. Itu pun karena Papaku adalah kolega bisnisnya." Cla mencibir pelan. "Dia lelaki dingin."
Lynne meringis, membenarkan perkataan Cla. Gabriel memang tidak tersentuh. Lynne berharap, suatu hari nanti ia bisa menggapai hati lelaki itu.
"Aku begitu terkejut saat mendengar kabar bahwa ia sudah bertunangan dengan seorang wanita. Selamat ya, Lynne. Kau dan Gabriel tampak serasi bersama." Clarista tersenyum tulus. "Seluruh keluarga Wallance shock karena Gabriel tiba-tiba saja bilang ia akan membawa tunangannya ke pesta malam ini. Hal yang menakjubkan, karena sejak dulu, aku selalu bertanya-tanya. Bisakah Gabriel meraih kebahagiaan jika ia terus hidup seperti itu?
"Kurasa, aku sudah mendapatkan jawabannya sekarang," sambung Clarista.
"Jawabannya?" tanya Lynne.
"Kau." Clarista menatap Lynne dari kaca, membuat Lynne ikut memandangi sahabat adik Gabriel itu. "Kurasa kaulah kebahagiaannya, Lynne. Kau bisa membuat es yang beku selama bertahun-tahun itu cair. Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya."
Lynne tersanjung. Andai perkataan Cla benar, maka Lynne akan sangat bahagia. Ia akan menjadi wanita paling spesial di dunia, saat Gabriel menganggapnya sebagai pasangan yang sesungguhnya.
Lynne tersenyum miris. Ia kembali lagi mengharapkan hal yang tak mungkin terjadi. Kenapa ia jadi begini? Ia tidak mau terlalu berharap, karena ia tahu kemungkinan untuk jatuh dan terluka sangat mungkin terjadi. Tapi kenapa ia tidak bisa mengendalikan hatinya sendiri?
"Terima kasih," ucap Lynne gugup. Ia tidak tahu harus berbicara apa lagi.
"Tentu."
******
Lynne sudah selesai dengan seluruh urusannya. Ia memakai gaun yang begitu indah, berasal dari Paris, dan hanya ada satu di dunia. Sebenarnya, gaun ini mirip dengan gaun Belle di film Beauty and The Beast. Hanya saja, warna milik Lynne adalah mint, bukan kuning cerah.
Clarista mencepol rambut Lynne ke atas. Mahkota kecil diletakkan di rambutnya, membuat Lynne tampak begitu menawan.
Kalung mahal dan anting-anting mewah terpasang dengan begitu sempurna. Lynne hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
"Kalian akan menjadi best couple." Cla mengedipkan mata. "Kau begitu cantik, dan aku mengerti kenapa Gabriel memilihmu sebagai pasangannya, Lynne."
"Benarkah?" Lynne tersenyum manis. Ia memutar tubuh hingga gaun itu melebar, tampak begitu indah. "Terima kasih atas kerja kerasmu, Cla."
"Sama-sama, sebaiknya kau bangunkan Gabriel sekarang, Lynne. Aku akan mendandaninya agar tidak terlalu pucat, tapi apa kau yakin dia akan baik-baik saja?"
"Tidak, dia terlalu memaksakan diri." Lynne menunduk. "Aku sudah memintanya untuk tidak datang. Namun, dia sangat ingin ke sana."
"Mungkin karena ada kedua tetua Wallance di sana." Cla merenung. "Gabriel mungkin tidak ingin mengecewakan mereka setelah dia bilang, ia akan datang bersama tunangannya."
"Tetua Wallance?" gumam Lynne pelan.
"Ya, begitulah," ucap Cla lagi. "Kau harus segera bangunkan Gabriel, Lynne. Kita tidak punya banyak waktu untuk bersiap."
Lynne mengangguk dengan ragu dan berjalan mendekati kamar Gabriel.
Sebenarnya siapa para tetua itu? Kenapa Gabriel sampai memaksakan diri seperti ini?