Hari berganti malam. Usai seharian sibuk dengan acara syukuran. Akhirnya, sepasang suami istri itu bisa merebahkan tubuh dengan tenang. Sebuah kamar berukuran besar, dengan hiasan dinding bergaya kontemporer dan dilapisi warna putih terang, menyejukkan setiap badan yang mulai kelelahan. Meski lelah, keduanya tak langsung beranjak tidur begitu saja. Bagaimana tidak, hari kepindahan mereka bertepatan dengan hari masa subur Bilqis. Sehingga, rutinitas malam mereka wajib terlaksana. Ditambah lagi, rasa rindu yang mendera menyebabkan kedua insan itu tak lagi dapat menahan gairah. “Sayang, apa kau senang akhirnya bisa pindah ke mari?” Ghibran bertanya. Mendekap erat tubuh Bilqis yang hangat. “Tentu, Mas. Bilqis merasa tidak enak jika tinggal di rumah Mama dan Papa,” Ghibran mengerutkan dah

