Bilqis baru saja selesai bersiap. Balutan gamis dan khimar berwarna merah muda menjadi busana pelengkap. Wanita muslimah itu menuruni anak tangga. Berjalan pelan sembari mengedarkan pandangan. Netranya beradu tatap dengan seorang pria paruh baya yang masih berada di rumah. Bilqis memandang jam dinding yang berdentang di ruang tengah. Jam dinding dari bahan kayu jati tersebut menunjukkan pukul sembilan tepat. Tak biasanya Ahmad belum berangkat. “Assalamualaikum, Pa,” Bilqis menyapa. “Waalaikumsalam, apakah kau hendak berangkat ke butik?” Ahmad bertanya. Lagi-lagi Bilqis terheran. Tak biasanya Ahmad bertanya perihal jam keberangkatan Bilqis untuk bekerja. “Benar, Pa. Insya Allah, Bilqis hendak berangkat.” “Baiklah, biar Papa mengantarmu ke butik.” Bilqis melongo. Ada apa gerangan den

