Do You Still Love Me?

1395 Kata
            Martha terkejut mendapati Christof tengah berdiri di ambang pintu rumahnya. Tapi, bukan pria itu yang membuatnya membelalakkan mata dengan sempurna, melainkan sosok pemuda jangkung di belakangnya. Pemuda yang semalam diberinya sebuah tamparan. Andromeda.             “Martha, Tuan Muda Andromeda ingin menemuimu,” Christof menjelaskan maksud kedatangan mereka. Memang benar Andromeda meminta Christof membawanya ke rumah Emily. Christof berkali-kali mengatakan bahwa itu tidak perlu dilakukan, namun Andromeda tetap memaksa.             “Mau apa lagi?” tanya Martha dengan ketus. Emily sudah berangkat bekerja dan Reinal sudah pergi ke sekolah, sehingga praktis hanya dia sendirian yang ada di rumah saat itu.             “Setidaknya persilakan dulu kami masuk,” bisik Christof, “dan bersikap baiklah sedikit.”             Martha melengos pergi dari ambang pintu.             “Tuan Muda, mari silakan masuk. Maaf jika rumahnya kecil dan berantakan,” ujar Christof.             “Ini bukan rumahmu, kenapa kau yang minta maaf?”Martha menyahut sinis. Christof hanya bisa mengembuskan napas tak sabar sambil mempersilakan Andromeda untuk masuk.             “Christof, bisa kau tinggalkan kami? Aku ingin bicara berdua saja dengan Tante Martha.” Andromeda beralih pada Christof dan pria tua itu tak menunggu lama untuk pergi dari sana.             “Baik, aku akan tunggu di depan, Tuan Muda.” Christof kemudian berjalan ke luar rumah.             “Langsung saja katakan apa yang ingin kau sampaikan!” ketus Martha.             “Sebelumnya saya ingin minta maaf. Ini semua hanya kesalahpahaman saja.” Andromeda memulai percakapan setelah Martha menunjuk kursi plastik, mengisyaratkan pemuda itu untuk duduk di sana.             “Ya. Aku tau ini hanya salah paham. Tidak mungkin Emily mendekatimu atau bahkan menipumu hanya demi harta. Kami memang miskin, tapi kami tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu.”             Andromeda tersenyum, “Aku yang mendekati Emily dan memintanya menikah denganku.”             Martha terkejut mendengar kalimat Andro, “Tapi, kau dan Emily kan….”             “Kami memang tidak saling mengenal sebelum ini. Christof yang mengenalkan saya pada Emily.”             “Tapi kenapa?” Martha masih tak mengerti.             “Situasi di perusahaan sedang tidak baik. Keluargaku sendiri berusaha menyingkirkanku dari sana. Mereka tidak percaya saya mampu memimpin perusahaan, kecuali kalau saya menikah dan memiliki anak.”             Martha mengernyitkan keningnya. Permasalahan orang kaya tidak pernah bisa dimengerti oleh orang seperti dirinya.             “Saya tau ini terdengar konyol dan sulit dipercaya. Tapi, itulah yang terjadi.” Andromeda melanjutkan, “Seharusnya saya lebih cepat kemari menemui Anda, Tante. Maafkan saya.”             “Kau dan Emily tidak saling mencintai, bagaimana mungkin kalian menikah?” tanya Martha. Intonasi suaranya menjadi lebih rendah daripada sebelumnya. Dia memandang ke arah Andromeda dan tidak melihat ada tanda-tanda bahwa lelaki muda ini hanya mengarang cerita.             “Kami memang tidak saling cinta saat ini, tapi saya bisa pastikan akan memperlakukan Emily dengan baik. Lagi pula bagaimana mungkin saya akan tega menyakiti calon ibu dari anak saya?”             “Anak?” Martha tercekat, “Emily tidak siap untuk menikah saat ini. Dia sedang kuliah. Dia masih punya cita-cita yang ingin dia capai.”             “Jika kami menikah, maka saya sendiri yang akan memastikan dia mendapatkan setiap hal yang menjadi cita-citanya.” Andro mengatakan itu sambil menatap ke dalam mata Martha. Yang dia sampaikan adalah kesungguhan. “Emily sudah setuju untuk menikah dengan saya. Tapi, jika Anda tidak memberi restu, saya tidak akan melangkahi Anda, Tante.”             Martha terdiam. Emily sudah setuju untuk menikah dengan Andromeda? Dari tadi Andromeda menyinggung soal anak, itu berarti Emily juga sudah setuju untuk mengandung anak pemuda ini? Apakah Emily menyukainya? Andromeda jelas memiliki wajah dan bentuk tubuh yang menarik. Tidak susah bagi gadis mana pun untuk jatuh cinta padanya. Apakah itu yang Emily rasakan?             Saya akan mengklarifikasi semua pemberitaan buruk tentang Emily. Saya akan memastikan nama Emily kembali bersih dan juga jika memang Anda tidak merestui kami, maka saya tidak akan lagi muncul di hadapan Emily.” Andromeda beranjak dari kursi yang didudukinya, “Saya permisi dulu. Rasanya saya sudah mengatakan semua yang ingin saya sampaikan kepada Anda.”             Martha masih terdiam mencerna segala informasi yang Andromeda berikan padanya.             “Oh, ya.” Andromeda telah berjalan menuju pintu namun tiba-tiba kembali berbalik menatap Martha, “Tentang hutang yang saya lunasi, jika memang Anda tidak berkenan saya melakukannya, maka Anda bisa mengembalikan uang saya, kapan pun Anda mau Tante Martha.”             Martha hanya mengangguk pelan sambil memandangi punggung Andromeda yang menghilang di balik dinding. Tampaknya Andromeda memang pemuda yang baik dan dia juga tampak bersungguh-sungguh. Jika Emily juga menginginkan pernikahan ini, maka bukankah sebagai seorang ibu, dia harus mendukung dan merestuinya?   ***             “Pak, Nyonya Farida menunggu Anda di dalam.” Begitu Andromeda tiba kembali di kantor, Via, sekretarisnya menghampiri.             Andromeda mengernyit. Untuk apa tantenya itu datang menemuinya di kantor? “Oke,” sahut Andromeda sambil berlalu menuju ruang kerjanya.             “Pak, ada Nona Renata juga di dalam.” Via kembali bersuara membuat langkah kaki Andromeda mendadak terhenti.             “Renata?”             “Maaf, Pak. Tapi Nona Renata datang bersama Nyonya Farida jadi aku….”             “Oke, tidak apa-apa,” ujar Andromeda memotong ucapan Via yang tampak merasa bersalah karena telah membiarkan Renata masuk. “Oh, ya. Tolong siapkan konfrensi pers besok pagi. Ada yang ingin aku sampaikan pada media.”             Kening Via berkerut. Selama ini Andro dikenal sebagai sosok yang sangat membenci awak media. Ada apa gerangan sampai dia justru mengadakan konfrensi pers besok? “Baik, Pak.” Hanya itu yang dapat Via katakan.             Andromeda mendrong pintu ruangannya dan langsung disambut oleh Farida, “Ini dia yang ditunggu-tunggu.”             Andromeda menatap sekilas ke arah Renata yang duduk di sofa sebelum menyalami dan mencium dengan takzim tangan Farida, “Ada keperluan apa Tante Farida mencariku?”             Farida tersenyum, “Apa lagi kalau bukan untuk mengantarkan Renata yang seminggu ini sampai sakit memikirkan kamu, Andro. Kalian ini kalau ada masalah, bicarakanlah baik-baik. Kalian kan bukan anak kecil lagi.”             Renata beranjak dari sofa dan mendekati Andromeda, “Sayang, aku tidak mengerti kenapa kamu menghindariku.”             “Oke, aku akan tinggalkan kalian berdua supaya kalian bisa bebas bicara.” Farida berjalan ke arah pintu, “Renata, aku akan menunggu di ruangan ayahku. Kalau kamu mau pulang denganku lagi kamu bisa mencari di sana. Oke, Sayang?”             “Terima kasih, Tante.” Renata melempar senyum sebelum Farida menghilang di balik pintu.             Andromeda berjalan ke arah sofa dan mengempaskan dirinya di sana, “Apa lagi yang mau kamu bicarakan, Rena? Aku kira di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi.”             Renata menatap Andromeda tak percaya. Dia mengambil posisi duduk di sofa berhadapan dengan Andromeda, “Sayang, aku shock saat kamu melamarku di restoran waktu itu. Aku tidak siap. Tolong kasih aku waktu untuk memikirkan semua ini”             Andromeda tersenyum sinis, “Waktu? Sayangnya hal itulah yang tidak aku punya. Lagi pula apakah waktu lima tahun kebersamaan kita tidak cukup untukmu?”             Renata menggeleng. Dia beranjak dan berpindah duduk di sampaing Andromeda. Dia kemudian meraih tangan pemuda itu, “Bukan itu maksudku, Andro. Tentu saja aku mau menikah denganmu, tapi soal anak….”             Andromeda menepiskan tangannya dari genggaman Renata. “Aku rasa kita tidak perlu membicarakan ini lagi, Rena. Untuk apa orang menikah kalau bukan untuk memperoleh keturunan?”             Renata memandang Adromeda tak percaya. Seorang Andromeda Jocom, yang selama ini dikenalnya tak pernah sedikit pun memikirkan pernikahan, kenapa sekarang malah sangat ingin memiliki anak? Ada apa sebenarnya?             “Oke, oke. Kita menikah. Oke, Sayang. Dan soal anak….”             “Sudahlah Renata!” seru Andromeda memotong ucapan gadis itu sehingga membuatnya terkejut karena selama mereka menjalin hubungan, Adromeda tak pernah bersikap sedingin ini padanya.             “Apa karena gadis itu? Apa kamu benar-benar akan menikahinya!?” Mata Renata terasa memanas.             “Emily?” Andromeda memastikan.             “Ya. Keponakan supirmu itu!”             Andromeda kembali tersenyum sinis karena terkejut dengan fakta bahwa Renata mengetahui identitas Emily.             “Kamu tidak sungguh-sungguh kan dengan dia?” Renata terus mengejar.             “Itu sama sekali bukan urusanmu, Rena.”             “Bukan urusanku? Lalu kamu anggap apa hubungan kita selama lima tahun ini, Andro?” Saat mengucapkan itu sebutir air lolos dari kelopak mata Renata. “Kamu tidak mencintaiku lagi?”             Andromeda balas menatap Renata. Cinta? Dia sendiri pun tidak tahu apa yang dirasakannya selama ini pada Renata. Dia nyaman bersama gadis itu. Renata cantik dan baik. Gadis itu berprestasi di karirnya dan juga memiliki ambisi. Andromeda suka dengan wanita yang mandiri dan memiliki visi hidup yang jelas. Semua itu ada pada Renata. Apakah itu perasaan cinta? Detik berikutnya Renata menghambur ke pelukan Andromeda, menangis di d**a bidang pemuda itu. Andromeda membiarkannya. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN