Blessing

1167 Kata
            Emily sudah mengenakan seragam kerjanya tapi masih urung untuk berangkat. Sejak kejadian ibunya mendatangi bioskop dan menamparnya, dia belum berbicara lagi dengan wanita itu. Emily memutuskan untuk menjelaskan semuanya hari ini.             “Ma, soal Andromeda,” gumam Emily hati-hati. Martha sedang menata lauk pauk di rantang untuk dijajakannya di mall ketika putrinya itu menghampiri, “aku mengaku sudah berpikiran pendek. Andromeda menawarkan untuk melunasi hutang-hutang kita, jika aku menerima tawarannya untuk menikah. Tapi, percayalah Ma, pernikahan ini tidak akan berlangsung lama.”             Martha mengernyitkan keningnya sambil menatap wajah Emily tak mengerti, “Tidak ada pasangan yang mengaharapkan pernikahan mereka berakhir, Emily. Kamu ini aneh!”             “Ma, aku melakukannya supaya kita tidak perlu memikirkan hutang lagi. Tapi, bukan berarti aku bersikap murahan dengan menjual diri. Aku pikir, meski kita menjual rumah ini, hasilnya juga tidak akan sanggup untuk melunasi hutang-hutang kita. Lalu kita mau bagaimana, Ma? Tidak punya rumah dan juga masih berhutang. Aku tidak bisa bayangkan kita….”             “Kamu menyukai Andro?” tanya Martha memotong ucapan Emily.             “Ha?” Emily terkejut.             “Kemarin dia datang ke sini dan menceritakan semuanya.”             “Andromeda datang kemari?” Emily terperangah. Jadi, pemuda itu sudah datang kemari dan menceritakan semuanya pada ibunya? Lalu apa tanggapan ibunya ini kira-kira?             “Mama setuju.” Martha bergumam. “Kalau kalian memang saling suka, tidak ada yang bisa Mama lakukan selain merestui. Dia juga kelihatannya baik dan bersungguh-sungguh. Kalau dipikir-dipikir dia juga sebenarnya sangat tampan. Iya kan, Em?” Martha menelisik wajah putrinya dengan tatapan menggoda.             Emily menautan kedua alisnya karena tidak mengerti apa yang tengah ibunya ini bicarakan. Bukankah Martha sangat marah hingga menampar Emily tempo hari? Lalu, begitu Andromeda datang kemarin, sikap ibunya ini langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Emily menjadi sangat penasaran tentang apa sebenarnya yang diucapkan oleh Andromeda. Dia harus segera mencari tahu.             “Eh, itu Andromeda kan?” Pandangan Martha beralih ke layar televisi yang sedang menayangkan gosip selebriti. Dia menekan tombol volume pada remot demi mengencangkan suaranya. Emily refleks ikut memandang ke layar televisi. Andromeda tampak sedang menyampaikan sesuatu pada awak media yang mengerumuninya. Tayangan itu disiarkan secara live.             “Apa yang diberitakan tentang Emily itu tidak benar.” Terdengar suara Andromeda. “Dia tidak mendekatiku karena materi atau karena hal-hal lain yang diberitakan. Faktanya, aku yang memintanya menikah denganku.”             Emily terkejut setengah mati mendengar ucapan Andromeda. Sementara Martha justru tersenyum penuh arti. Andromeda memegang ucapannya untuk membersihkan nama Emily. Pemuda itu sepertinya memang benar-benar baik.             “Tapi, benarkah Emily adalah keponakan supir pribadi Anda?” Salah satu awak media bertanya.             “Ya.” Andromeda menjawab lugas. “Ada masalah dengan itu?”             “Jadi, Anda benar-benar akan melangsungkan pernikahan dengan Emily? Lalu bagaimana dngan Renata?” Awak media lainnya memberondong Andromeda dengan pertnyaan.             “Kalau Emily setuju, maka kami akan melangsungkan pernikahan ini. Soal Renata, aku rasa tidak perlu menjelaskan masalah pribadiku kepada publik.”             Andromeda menjawab beberapa pertanyaan lain namun tidak ada satu pun yang benar-benar didengarkan oleh Emily. Pikirannya berlarian ke sana ke mari. Kenapa semuanya jadi heboh seperti ini? Dia benar-benar harus menemui Andromeda.             “Ma, aku pergi dulu ya.” Emily menyambar tasnya dan segera pergi menuju ke mall tempatnya bekerja.   ***             Andromeda tidak mengharapkan apa-apa dari kunjungannya menemui Martha kemarin. Dia juga tidak mengharapkan apa-apa dari konfrensi pers yang baru saja dilakukannya. Pemuda itu menyugar rambut under cut-nya dengan sedikit frustasi. Kalau memang rencananya menikahi Emily gagal maka mungkin dia harus merelakan kakek-kakeknya menyingkirkan dia dari perusahaan. Nyonya Sofia pasti kecewa tapi Andromeda sungguh tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Apakah dia harus mencari calon istri lainnya? Atau kembali pada Renata dan meyakinkan gadis itu untuk memberinya anak dalam waktu dekat?             “Pak, ada tamu yang mencari Anda.” Lamunan Andro dikejutkan oleh kedatangan Via, sekretarisnya.             “Siapa?”             “Seorang wanita bernama Emily.”             Andromeda berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan tetap bersikap tenang, “Suruh dia masuk.”             “Baik, Pak.” Via berbalik dan keluar dari ruangan. Tak berapa lama kemudian, Emily berganti masuk.             “Apa yang kamu katakan kepada ibuku waktu datang ke rumah kemarin?” Emily bertanya tanpa basa-basi.             Andromeda menaikkan kedua alisnya, “Aku mengatakan hal-hal yang memang seharusnya aku katakan.”             “Misalnya apa?” Emily terus memburu.             “Aku tidak mengerti apa maksudmu.”             Emily mendengkus kesal, “Ibuku bilang dia merestui hubungan kita. Kenapa tiba-tiba? Sebelum ini dia bahkan menamparku karena melihatku ada di majalah.”             Andromeda tertawa demi mendengar ucapan Emily. Sebaliknya, gadis itu justru terkejut mendapati reaksi Andromeda. “Bagus kan kalau ibumu merestui. Pernikahan kita bisa mendapatkan keberkahan dunia akhirat.”             Emily menatap Andromeda tak percaya, “Tapi ini kan hanya kesepakatan bisnis.”             “Kau selalu mengungkit-ungkit soal kesepakatan bisnis. Aku kan sudah bilang kita akan menikah sungguhan.” Andromeda menyela.             “Iya. Sungguhan. Tapi kan kamu sendiri yang bilang pernikahan ini untuk memuluskanmu mendapatkan proyek.”             “Iya. Lalu apa masalahnya sekarang?” Andromeda mulai kehilangan kesabarannya. Apakah Emily benar-benar tak sudi menikah dengannya? Apakah seorang Andromeda Jocom sama sekali tak menarik bagi gadis ini?             “Kamu janji kan ini tidak berlangsung lama?” tanya Emily.             Andromeda mengangguk, “Ya. Setelah proyek itu kudapatkan, maka aku akan mengabulkan semua yang kau inginkan termasuk jika kau ingin bercerai dariku.”             Emily memandang Andromeda dengan tatapan menyelidik, “Aku bukannya tidak percaya padamu, tapi kita harus membuat perjanjian sebelum pernikahan itu berlangsung.”             “Oke, tidak jadi masalah. Premarital Agreement. Sebaiknya kita memang membuatnya. Kapan?”             “Secepatnya!”             “Oke.”             Emily masih menatap Andromeda ragu, “Tapi….”             “Apa lagi?”             “Kalau boleh tau kapan kira-kira pernikahan ini dilangsungkan?”             “Kurang dari dua bulan lagi.”             “Apa!?” pekik Emily.             “Jangan panik! Aku yang akan mengurus semuanya.”             Emily mengempaskan dirinya di sofa dan memijit pelipisnya sekilas, “Astaga. Apa yang akan Seli dan anak-anak lain di bioskop katakan kalau mendengar ini?”             Andromeda memandangi Emily dari meja kerjanya, “Seli siapa maksudmu?”             “Tapi, aku sedang kuliah. Sedang menyusun skripsi. Aku ingin melanjutkan kuliahku sampai sarjana.”             “Bukankah aku sudah bilang kau tetap boleh kuliah? Sarjana. Magister. Dan seterusnya. Silakan saja. Memangnya siapa akan menghalangimu?”             Emily terdiam cukup lama sebelum kembali menyahut, “Oke, baiklah.”             “Oke apa?”             “Oke, kita menikah.” Emily beranjak dari sofa. Memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan? Andromeda telah melunasi utang-utang keluarganya, ibunya-entah bagaimana-juga telah mersetui. Satu tahun terikat dalam pernikahan dengan Andromeda sepertinya juga tidak buruk-buruk amat.             Andromeda tersenyum penuh arti mendengar ucapan Emily. “Em, bagaimana kalau malam ini kita dinner?”             “Untuk apa?” Emily menatap sinis.             “Ya…anggap saja untuk merayakan rencana pernikahan kita.”             “Ini bukan prestasi, untuk apa dirayakan?” Emily menyahut cuek sambil berjalan menuju pintu. “Ya sudah. Aku permisi dulu.”             “Hei!” seru Andromeda saat melihat Emily keluar dari ruangannya begitu saja. Gadis itu benar-benar menguji kesabarannya. Baru kali ini ada wanita yang menolak ajakannya untuk dinner. []  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN