Kayana memang terpaksa harus selalu mandiri, melakukan apapun sendiri dan memutuskan apapun atas kehendak sendiri. Sejak remaja ia dilatih untuk mandiri, bukan karena keinginan sendiri tapi keadaan yang memaksanya. Tapi ternyata baru ia sadari tidak selamanya orang-orang menyukai perempuan yang terlalu mandiri. Ah—tidak bukan tidak menyukai kemandirian, namun tidak menyukai sikap impulsif, dan keputusan sepihak tanpa adanya komunikasi karena merasa benar dengan keputusan sendiri. Seperti yang Kayana lakukan dulu dan sekarang Kayana menyadarinya. Baginya mungkin sikap itu memang benar, keputusan yang ia ambil terasa paling benar. Namun ternyata keputusannya menumbuhkan rasa tidak dihargai, tidak diinginkan dari pasangan. Hingga rasa tidak dibutuhkan. Awalnya ketika ia mende

