Jaden tidak tahu hal gila apa yang sedang ia lakukan saat ini. Duduk di atas bangku di tengah hembusan angin di penghujung musim gugur yang begitu dingin, hingga menusuk tulang. Sementara itu iris matanya hanya memandangi satu titik, sebuah pintu dimana seseorang yang ia cintai selalu muncul. Hanya menunggu dalam diam. Setelah hari-hari yang diliputi oleh rasa sakit dan kecewa, setelah hari-hari yang diliputi oleh amarah yang menggelora. Secara impulsif, Jaden bersama sekretarisnya tiba-tiba terbang ke Korea. Tanpa rencana, tanpa banyak orang yang tahu. Ia hanya mendadak memesan tiket, kemudian pergi begitu saja, bahkan tanpa membawa apapun selain dompet dan dokumen penting untuk kepergiaannya. Gila memang, Jaden sendiri mengakui kegilaan yang sedang ia lakukan ini. Tapi jujur

