“Jay. Jaden! Jaden awas lampu merah!” Ciiittt!!! “Duk! Argh!” Kayana mengerang kecil saat merasakan hentakan tiba-tiba ketika Jaden mendadak menginjak rem. Napas Kayana memburu, jantungnya bahkan berdetak dengan sangat kencang, kedua mata Kayana kini terpejam, dengan kedua tangan meremat sabuk mengaman. Masih sangat terkejut dengan kejadian tidak di duga itu. “Ya Tuhan, Kay... Maaf, Maafkan aku Kay. Kamu tidak apa-apa?” Kayana masih memejamkan mata ketika merasakan tangannya mulai digenggam erat oleh tangan Jaden. Lelaki itu bahkan mengelus, juga menciumi punggung tangannya. “Kay, hei. Kayana... maaf.” Kayana menarik napas panjang kemudian menghembuskan napasnya kembali secara perlahan, satu kali, dua kali hingga berulang kali sampai napasnya kembali stabil. Set

