Kayana menatap sebuah amplop di tangannya dengan sesekali menghela napas panjang, sesekali ia pun menoleh ke arah lobi yang tampak lengang, tidak ada siapapun. Kayana menatap ke arah amplop di tangannya lagi kemudian menghembuskan napas berat. Sudah sepenuh hati ia membuat surat itu, setulus hati dan sejujur yang ia bisa. Dalam hati ia berharap Jaden akan berbalik mencintainya lagi, melupakan perempuan baru yang lelaki itu sambut baik dalam hidupnya. Setelah merenung selama beberapa saat, Kayana kemudian keluar dari dalam mobil kuning miliknya, setelah itu berjalan dengan tenang ke arah resepsionis. “Selamat siang, ada yang dapat saya bantu Miss?” “Saya ingin menitipkan ini untuk Mr. Jaden. Bisakah saya meminta anda memberikannya?” Perempuan itu menatap surat di tangan

