Jaden memainkan gelas di tangannya, dengan iris mata menatap kosong ke arah hiruk-pikuk pemandangan padatnya ibu kota dari dinding kaca ruang kantornya. Sesekali mendesah pelan, kemudian memejamkan mata, lalu mendengus kembali sebelum menenggak habis air di dalam gelas itu. Pikiran dan hatinya kini bercabang, masih antara cinta dan benci yang membelenggu hatinya. Jaden akui, ia masih mencintai Kayana. Itu adalah kenyataan yang membuat hatinya sesak. Ya... tentu, tentu saja ia masih mencintai perempuan itu sekalipun ia telah dilukai begitu dalam, tidak akan semudah itu ia melepaskan Kayana setelah hampir ia miliki, tidak semudah itu pula ia menghilangkan perasaannya yang sudah tertanam bertahun-tahun di hatinya. Namun rasa kesal, sakit hati dan benci masih mengerak di dasar hati

