Tak Sengaja

1008 Kata
Sepeninggalan laki-laki yang tak ketahui identitasnya, Widya masih menatap kosong amplop coklat ditangannya. Dia tak menyangka akan mendapatkan ini, benar kata orang "Jika kau berbuat baik ke sesama manusia, maka Allah akan memberikan bantuan dua kali lipat juga." Tanpa ingin berpikir panjang lagi, Widya lebih memilih untuk pulang saja. Sesampainya di apartemen, terlihat Suci yang senyum sumringah dengan menatap lamat layar benda canggihnya. Widya hanya memicingkan matanya tanpa ingin mengetahui lebih dalam. "Assalamualaikum, Widya pulang Tante." Suci mendongakkan kepalanya lantas tersenyum hangat. "Kau sudah pulang ternyata, lebih baik kau bersih-bersih dulu lalu membantu Tante menyiapkan makanan untuk nanti siang." Widya mengangguk kepalanya paham, tapi langkahnya terhenti saat Suci berujar. "Kenapa ada bercak darah di pakaian mu, Nak?" "Oh, itu Tante Widya bantu orang yang mengalami kecelakaan tadi. Kasihan banget," jawab Widya. "Oh gitu, ya sudah langsung saja deh masuk ke dalam kamar," jawab Suci. Sepeninggalan Widya, Suci menatap layar benda canggihnya kembali lalu membulatkan matanya saat melihat Widya dari layar telponnya. "B-berarti yang nolongin wanita itu tadi Widya?" batin Suci. Akan tetapi, Suci tak mempermasalahkan kembali dan lebih memilih untuk mengabaikan karena dia juga merasa tak masalah jika ada orang yang membantu wanita itu, terpenting rencananya telah berhasil. Tak lama kemudian, Widya pun telah keluar dari kamar dengan pakaian rumahan. "Tante, apa yang bisa Widya bantu?" tanyanya. "Ah, kau potong-potong sayur saja, Nak." Widya mengangguk lalu berjalan ke arah dapur dan mulai memotong kecil-kecil sayuran tersebut. "Tante tinggal sebentar ya Nak," ujar Suci. "Kau tak apa kan?" tanya Suci. "Tak masalah Tante, aku sudah terbiasa sendiri," ujar Widya dengan senyuman. Suci pun mengangguk kepalanya dan melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen hingga di basemen Suci menghentikan langkah kakinya dan menyerahkan kantong hitam yang berisikan banyak uang. "Ini, untuk kalian. Terima kasih banyak karena telah membantuku untuk melancarkan rencana." "T-tapi Nyonya, kami tak bisa menghilangkan nyawa wanita itu," jawabnya. "Tak masalah, aku pun tak mau menghilangkan nyawa seseorang yang terpenting wanita itu sudah masuk ke rumah sakit," jawab Suci. "Tadi ada seorang gadis manis yang membantu wanita itu." "Aku tahu gadis itu, tapi tak masalah itu diluar kendali kita." Suci menghela napasnya. "Semoga saka nyawanya benar-benar terancam." "Iya Nyonya." "Lain kali aku akan membutuhkan bantuan kalian lagi." Orang-orang suruhan Suci pun langsung meninggalkan tempat sedangkan Suci sendiri juga memilih untuk kembali ke apartemen. Sesuatu di luar dugaan, Widya yang tak sengaja membuang sampah pun melihat Suci berbicara dengan tiga laki-laki berpakaian serba hitam. Dia yang memiliki jiwa ingin tahu yang sangat tinggi pun menguping pembicaraan Suci. Sungguh, tak disangka-sangka bahwa Suci melakukan hal yang sangat keji menurut Widya. Akan tetapi, kali ini dia tak ingin ambil pusing dan berakhir dia pura-pura tak tahu mengenai itu. "Loh? Dari luar ya?" Suci sedikit tersentak ketika Widya masuk ke dalam apartemen. "Iya Tante, soalnya tadi sampah sedikit menumpuk. Jadinya Widya buang saja tadi." "Baiklah, semua yang Tante suruh sudah dilakukan?" tanya Suci. "Sudah Tante," jawab Widya. "Ada lagi yang bisa aku bantu?" tanya Widya. "Tidak ada, Nak. Istirahat saja langsung." *** Di lain sisi, Bian sedang sibuk mengurus semua berkas untuk melakukan pengajuan kerja sama bersama dengan Jack. "Tuan, sebaiknya kita pergi sekarang untuk menemui CEO H Corporation," ajak Jack. "Memangnya tak masalah kita pergi sekarang?" tanya Bian. "Lebih baik seperti itu Tuan." Bian mengangguk lalu segera mengambil jas kantor yang tersampir di sandaran kursinya. "Ayok langsung saja kita berangkat Jack." Kali ini, hanya Jack dan Bian saja yang pergi dengan Jack sebagai pengemudi tentunya. Sesampainya di H Corporation, Bian sedikit terperangah karena ternyata perusahaan tersebut sangatlah besar daripada perusahaannya. "Selamat datang Bapak, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis H Corporation. "Saya sudah menghubungi CEO H Corporation untuk melakukan kerja sama sebelumnya Nona," jawab Jack. "Baiklah, ikut dengan saya ya Pak." Resepsionis itu pun langsung menunjukkan arah tempat yang dimaksudkan. Setibanya di ruangan resepsionis itu pun langsung membuka pintu dan mempersilakan Jack dan Bian untuk masuk. "Terima kasih Nona." Jack dan Bian pun langsung duduk di kursi sambil menunggu CEO H Corporation. Tak lama kemudian, pria yang ditunggu langsung masuk ke dalam ruangan. Bian dan Jack langsung berdiri menyambut CEO H Corporation. "Selamat datang Tuan Bian dan Jack. Maaf menunggu lama," ujar laki-laki tersebut. "Kenalkan aku Hendrik sebagai CEO H Corporation ini." Hendrik dan Bian pun langsung menjabat tangan sedangkan Jack hanya menunduk sedikit tanpa berjabat tangan. "Baiklah, silakan duduk." Hendrik pun langsung duduk terlebih dahulu disusul Bian dan Jack. "Langsung saja Tuan Bian, dengan rencana pengajuan kerja samanya." "Baiklah, terima kasih Tuan Hendrik. Saya berencana untuk melakukan kerja sama dalam membangun sebuah hotel dengan kualitas bintang lima di daerah pesisir Bali. Letaknya cukup strategis yang mana dekat dengan wisata, tempat berbelanja ataupun hal yang lainnya. Di sana, masih sedikit saingan mengingat di sana masih daerah pedesaan yang masih asri." Hendrik mengangkat alisnya sebelah dan mulai tertarik di dalam hati. "Begitukah? Itu sangat bagus sekali, saya juga tertarik dan berencana untuk melakukan kerja sama dengan Anda." Hendrik tersenyum. "Kira-kira berapa lama pembangunan di sana?" tanya Hendrik. "Kurang lebih dua belas bulan pembangunan karena ada beberapa fasilitas yang ingin dibangun juga." "Wah, lumayan cepat menurut saya." Hendrik tersenyum. "Kira-kira berapa persen keuntungan bagi H Corporation?" tanya Hendrik. "30% untuk keuntungan H Corporation, sisanya untuk BA Corporation." Hendrik mengangguk kepalanya. "Baiklah, saya setuju dengan kerja sama ini." "Untuk menambah kepercayaan kami ke perusahaan Anda, kapan sekiranya dapat memantau ke Bali langsung?" tanya Hendrik. "Secepatnya Tuan Hendrik, kami berencana untuk pergi sekitar pertengahan tanggal di bulan depan. Mungkin nanti kami kabari lagi untuk kepastian tanggal keberangkatannya," ujar Bian. "Baiklah kalau seperti itu. Saya sudah percaya dengan berkas-berkas yang Anda siapkan mengingat hanya beberapa saja yang kurang kemarin saat pengajuan yang pertama." "Apakah boleh saya mengajak kekasih saya untuk meninjau pembangunan hotel tersebut?" tanya Hendrik. Bian terkekeh dengan geli diikuti Jack yang ikut tersenyum. "Tentu saja Tuan Hendrik, dengan senang hati." "Baiklah kalau seperti itu, senang bekerja sama dengan Anda. Semoga bisnis kita ini mengalami kemajuan kedepannya." Hendrik berdiri diikuti Bian, keduanya pun langsung berjabat tangan. "Kalau seperti itu, kami undur diri." Bian dan Jack pun langsung keluar ruangan dan kembali ke perusahaan dengan raut sumringah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN