Setelah kepergian dari dokter Gufran, Widya lantas ikut keluar dan ingin menenangkan dirinya di taman rumah sakit. Dia memandang kosong pemandangan yang sejuk di taman tersebut sambil merenungkan ucapan dokter Gufran yang membuat dirinya tertampar.
Widya akui, dia kurang bersyukur dan selalu merasa manusia yang sangat tersakiti. Padahal di luar sana, masih banyak juga yang mengalami kesusahan dan naasnya lebih parah dari dia.
Lihatlah sekarang, banyak sekali seumuran dirinya yang mengalami ujian kesehatan dari Pencipta tapi mereka tetap tersenyum seolah ujian yang mereka alami bukanlah apa-apa. Lantas kenapa Widya yang masih sehat tak kekurangan apapun memilih untuk mengeluh tanpa aksi dalam menyelesaikan masalahnya.
Widya menundukkan kepalanya sambil menetaskan beberapa bulir air mata yang tiba-tiba saja turun secara deras. Dia merasa sangat hina sebagai hamba.
Detik kemudian, dia pun menghela napasnya lalu menatap ke depan dengan wajah yang penuh dengan tekad.
"Aku harus bangkit! Yah, aku harus bangkit!"
Tak disangka, ada seorang wanita sekitaran umur tiga puluhan duduk di samping Widya dengan pakaian khas rumah sakit sambil membawa tiang infus di sisi kirinya.
"Hai, kenalkan aku Dina." Wanita itu menjulurkan tangan ke depan Widya.
Widya menoleh lalu ikut menjulurkan tangan juga hingga keduanya menjabat tangan.
"Halo, aku Widya. Salam kenal," sapa Widya.
"Sepertinya kau sedang dalam situasi hati yang bahagia." Dina menatap Widya kembali. "Tapi juga sedih," ujarnya kembali.
Widya terkekeh, dia benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya karena memang dirinya sangat ekspresif.
"Yah, begitulah. Aku sedang mengalami proses pendewasaan diri," jawab Widya dengan senyumannya.
"Memang, saat dimana umur sepantaran dirimu sekarang, Pencipta kita sering memberikan beberapa ujian untuk melihat bagaimana ciptaanNya bertahan di alam sementara ini." Dina menatap jauh ke depan seperti sedang mengingat kejadian lampau.
"Benarkah? Aku baru tahu itu," ujar Widya mulai tertarik.
"Aku juga merasakan apa yang kau rasa saat ini, percayalah jalani saja walaupun itu pelan," jawab Dina. "Ah, iya apa yang kau inginkan saat ini?" tanya Dina seolah ingin mengubah topik pembicaraan.
"Aku ingin sukses di usia muda agar dapat membantu mama untuk bahagia," jawab Widya tampak sendu.
"Sangat bagus niatmu, Widya." Dina nampak ikut senang dengan apa yang dilontarkan Widya. "Saran aku saja, Jadilah sukses tanpa menyakiti orang lain," ujarnya sambil tersenyum hangat. "Walaupun kau dalam keadaan mendesak pun, tak seharusnya menyakiti orang. Sukseslah hingga kau tak mengingat penderitaan yang kau miliki sekarang."
Widya mengerjapkan matanya, lalu merasa tertampar kembali dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Dina. Dia pun menoleh ingin mengucapkan terima kasih, tapi entah sejak kapan Dina telah meninggalkan dirinya. Akan tetapi, mungkin ini cara Allah untuk memberikannya semangat dalam hidup.
Mungkin, ini saatnya Widya untuk berubah menjadi orang yang sukses dan tentunya tetap dengan rendah hati.
Widya pun akhirnya memilih untuk pulang, sambil mengeluarkan lembaran brosur tentang universitas yang dia lewati tadi.
Bukankah melanjutkan pendidikan bisa tanpa mengeluarkan biaya? Mungkin untuk saat ini dia akan belajar semaksimal mungkin untuk melanjutkan pendidikannya.
Tibanya di depan universitas, dia langsung berdiri di depan gerbang dan merasa ragu untuk melangkahkan kaki untuk masuk. Tiba-tiba satpam dari arah depan menghampiri Widya.
"Dik, kau kenapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Satpam.
"Aku ingin tahu Pak, tata cara ingin mendaftarkan diri di sini tapi saya masih kekurangan uang, hehe." Widya menyengir lucu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aduh, kalau masalah itu setahu Bapak untuk mahasiswa kurang mampu ada beasiswanya. Akan tetapi, Bapak tak tahu bagaimana syarat dan ketentuannya."
Widya mengangguk paham. "Terima kasih Pak, tapi aku boleh minta tolong untuk mengantarkan aku ke bagian informasi mengenai ini?" tanya Widya.
Satpam itu pun mengangguk paham lalu dia pun langsung mengantar Widya ke tempat informasi yang disediakan.
"Terima kasih banyak Pak," ujar Widya.
"Sama-sama Nak, Bapak tinggal dulu ya." Widya akhirnya mengangguk dan memilih membaca semua syarat yang tertera di bagian papan pengumuman.
Untung saja dia mendapatkan nilai yang cukup memuaskan sehingga sedikit tidak dia dapat memasukkan berkasnya.
Akan tetapi, kembali lagi dirinya merasa sangat kurang yakin dengan jurusan yang dia inginkan yaitu bagian psikologi. Namun, detik berikutnya dia juga ingin untuk mengambil bisnis.
Setelah sekian lama menimang keputusan, akhirnya dia mengambil brosur di jurusan bisnis. Yah, mungkin ini saatnya dia belajar untuk menciptakan lapangan kerja sendiri daripada mencari pekerjaan.
Dia pun langsung mengambil form untuk mengisi pendaftaran. Tak lama kemudian, dia pun langsung menyimpan di dalam tasnya dan memutuskan untuk pulang saja, takut Suci khawatir dan Bian segera balik ke apartemen.
Di dalam perjalanan dia bersenandung kecil sambil menyusun strategi untuk melakukan rencana hidupnya kedepannya. Akan tetapi, matanya menangkap seseorang wanita dengan berpakaian elegan melangkahkan kakinya sambil memainkan gawai di tangannya.
Widya pun menoleh ke arah berlawanan dari wanita tersebut dan melihat mobil yang melaju sangat kencang.
"Awas!" teriak Widya.
Dia langsung berlari sangat kencang hingga tas yang dia jinjing dilepas begitu saja di atas trotoar.
Boam!?
Kecelakaan tak bisa terelakkan kembali, wanita yang dilihat oleh Widya telah bercucuran darah dengan badan yang tergeletak di atas jalan.
Widya terengah-engah, sambil melihat sekitarnya dan merasa dia melakukan kejadian ini lagi. Dadanya mulai merasa sesak, menahan gugup yang entah kenapa tiba-tiba dia rasakan.
Dia segera menampik rasa tersebut dan mulai melakukan pertolongan pertama kepada wanita tersebut dengan cepat dia menelepon ambulance dan segera membawa wanita ini.
Di ambulance Widya menatap wajah bersimpah darah tersebut tapi dia merasa kenal dengannya. Dia sempat berpikir, apa mungkin dirinya pernah bertemu? Tapi dimana? Widya menggelengkan kepalanya, rasanya tak mungkin melihat penampilan wanita itu seperti dari luar negeri saja.
Sesampainya di rumah sakit, wanita yang ditolong oleh Widya segera melakukan penanganan pertama, dia pun dengan terpaksa menemani wanita tersebut karena dirinya berada di pihak saksi.
"Maaf, ada keluarga dari korban?" tanya perawat yang keluar dari ruangan UGD.
Widya mengerjapkan matanya. "Mmm, aku hanya sebagai saksi Mbak, ada yang bisa aku bantu?" tanya Widya.
"Korban sedang mengalami pendarahan sehingga membutuhkan donor darah yang serupa yaitu darah AB."
"Aku juga AB dokter, silakan ambil saja darahku," jawab Widya.
"Baik, silakan masuk ke dalam ruangan di sana."
Widya mengangguk lalu dia pun berjalan memasuki ruangan tempat melakukan pendonoran darah. Dia pun langsung melakukan proses tersebut.
Operasi yang dijalankan pun berjalan dengan lancar, tapi wanita yang ditolong Widya masih saja belum sadar hingga laki-laki berpakaian formal mendatangi dirinya.
"Terima kasih telah membantu kekasihku." Dia pun menyodorkan amplop coklat yang sangat tebal. "Ini ada sedikit untukmu, sekali lagi terima kasih."
Widya hampir menolak, tapi laki-laki itu segera meninggalkannya untuk masuk dalam ruangan.