Jalani, Nikmati dan Syukuri

1017 Kata
Suci dari tadi terlihat sangat gelisah dia mengangkat lengan kanannya untuk melihat jam. Dia menghela napasnya lalu mengembuskan napas berulang kali. Suci yakin, sangat yakin kalau rencananya akan berhasil sekarang walaupun Bian nantinya benar-benar akan terpuruk tapi tak apa, dengan kekuasaan dan harta peninggalan sang suami dia akan membawa Bian untuk berobat. Widya sedari tadi mengerjapkan matanya melihat Suci yang begitu khawatir. Kemudian, dia dengan beraninya menepuk pelan bahu Suci lalu dia pun tersenyum hangat. "Tante kenapa?" tanya Widya. "T-tak apa, Tante hanya merasa kecapekan," jawab Suci dengan gagap. "Benarkah? Lebih baik Tante istirahat atau tidur saja di kamar Tante, biar Widya yang merapikan dapur," ujar Widya. Suci menggelengkan kepalanya. "Tante tak mau berdiam diri saja, nanti badan Tante semakin ke samping," ujar Suci dengan tatapan sendu yang dibuat-buat. Widya terkekeh pelan. "Ah, Tante lebih menggemaskan dengan badan yang melebar ke samping." Widya tersenyum hangat ke arah Suci. Suci memicingkan matanya sambil menepuk pelan bahu Widya. "Kau bisa saja! Kau sangat ahli mengejek seseorang," kekeh Suci di akhir kalimat. Widya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maaf, bukannya bermaksud mengolok Tante, tapi benar adanya." Suci mengangguk lalu memeluk pelan badan Widya yang semakin hari semakin kurus. "Kau kenapa? Kenapa akhir-akhir badanmu semakin kurus saja?" tanya Suci dengan khawatir. "Tidak kenapa-kenapa Tante, badan Widya pun memang begini adanya," jawabnya. "Tak usah berkilah, jawab saja apakah Bian selalu merepotkan mu? Ah! Anak itu benar-benar sangat menyebalkan!" gerutu Suci. "Bukan Tante, Kak Bian tak melakukan apapun. Percayalah, selama ini dia tak pernah merepotkan aku walaupun sih dia akhir-akhir ini seperti wanita yang kedatangan bulan," kekeh Widya. "Tuh, apa Tante ucap! Ih! Sudah tua masih saja seperti itu Bian!" Suci menggelengkan kepalanya sambil memijit kepalanya dengan pusing. "Tante, Widya tak masalah dengan perilaku Kak Bian yang terpenting Kak Bian tetap sehat," jawab Widya. Suci menatap sendu Widya. "Tante juga berharap seperti itu." "Tante, aku sebenarnya meminta izin untuk pergi ke rumah sakit menjenguk mama. Aku sangat merindukannya," ujar Zizi. "Pergilah, aku memberikan izin kepadamu. Jaga diri baik-baik di jalan." Suci tersenyum lalu Widya pun mengangguk kepalanya lalu berbalik. Namun, sebelum Widya melangkahkan kakinya Suci terlebih dahulu mencekal tangan Widya. "Widya, Tante berharap kau ingin melanjutkan pendidikan mu. Sayang sekali jika kau berhenti sampai di sini," ujar pelan Suci. "Sepertinya tak mungkin aku berharap sejauh itu Tante mengingat kondisi keuangan yang tak baik-baik saja. Sepertinya aku akan bekerja terlebih dahulu." Beda di mulut, beda di hati, Widya sangat menginginkan kelanjutan pendidikan yang tinggi seperti para remaja yang lainnya. Akan tetapi, Widya sadar diri, sadar posisi, dia tak mungkin melakukan keinginannya. Entahlah dirinya tak ingin berekspektasi tinggi dengan kenyataan yang sangat menyakiti hati. Widya pun tak ingin larut dalam pembicaraan itu, lalu berpamitan kepada Suci. "Tante, lebih baik aku pergi dulu." "Pikirkan saja ucapan Tante. Pun semisalnya kau ingin berkuliah, Tante siap memberikanmu fasilitas untuk belajar tentunya di universitas ternama agar kau kelak mendapatkan ilmu dan menjadi anak yang sukses." Widya hanya tersenyum kecut, lalu dia pun meninggalkan apartemen untuk menuju ke rumah sakit. Di jalan, Widya berjalan dengan tatapan kosong karena memikirkan ucapan Suci. Ini sudah kedua kalinya dia disarankan untuk melanjutkan pendidikan. Widya tentu saja menjadi bimbang, ah! Rasanya dia ingin menjadi anak orang kaya saja! Secara kebetulan, dia sedang melewati universitas yang cukup ternama di Jakarta. Lalu dia memberhentikan langkah dan menatap ke arah pintu gerbang. "Aku juga ingin bersekolah di sana," batin Widya. Tiba-tiba datanglah seorang wanita lalu memberikannya sebuah brosur. "Ini untukmu." Dia tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya dan berlalu meninggal Widya. Widya mengerjapkan matanya berulang kali lalu mengangkat brosurnya untuk di baca. Semua jurusan sangatlah menarik dan rata-rata memiliki akreditasi A. Akan tetapi, mata Widya sontak membulat sempurna dengan mulut yang terbuka lebar saat dia membaca jumlah angsuran yang harus dibayar. Kemudian, dia menghela napasnya dengan gusar dan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan. Dia pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya dan berjalan menuju rumah sakit yang tak jauh dari sini. Sesampainya di rumah sakit, dia pun langsung masuk ke dalam ruangan Zia. "Mama, apa kabar? Widya baik-baik saja kalau Mama khawatir. Majikan Widya sangat baik, bahkan Widya diperlakukan seperti anak sendiri." Widya mengelus lembut surai Zia. "Mama kok semakin mempesona sih? Ah, rasanya Widya sangat iri kepada Mama," kekehan kecil dari mulut Widya. "Ah, iya! Ini bunga untuk Mama. Bunga lili yang sangat cantik untuk Mama yang cantik juga." "Ma, jangan sakit lagi dong, Widya rindu Mama. Rindu membuat Mama ngomel, rindu peluk Mama, rindu dimasakin sama Mama." Widya menundukkan kepalanya hingga beberapa tetesan air mata menetas dengan deras dari matanya. "Ma, Widya sudah tak kuat menahan sesak di d**a karena tak ada Mama yang mendukung Widya. Cepatlah bangun, cepatlah! Aku merindukan dirimu," isak tangis tak dapat dia tahan lagi saat ini. "Kenapa-kenapa? Kenapa Allah sangat tak adil terhadap Widya Ma? Apakah Allah tak sayang terhadapku? Widya salah apa sampai-sampai harus mendapat ujian yang sangat berat!? Ma, aku tak sekuat anak yang lain, a-aku sangat rapuh!?" Dokter paruh baya yang kerap kali dipanggil dokter Gufran menatap iba gadis mungil yang sedang terisak pilu di brangkar sang mama. Lalu, dia pun melangkahkan kakinya menuju Widya dan menepuk pelan bahunya. "Nak, tak seharusnya kau berbicara seperti itu kepada Allah yang jelas-jelas sebagai Pencipta kita manusia," ujar dokter Gufran. Widya mendongakkan kepalanya lalu menghapus pelan jejak bulir air matanya. "Lantas kenapa hidupku terasa sangat berat dokter! Aku membenci situasi seperti ini!? Aku bisa menahan lapar, aku bisa tak melanjutkan pendidikan tapi kenapa Allah membuat Mama seperti ini!? Kenapa harus begini? Kenapa?" Dokter Gufran menunduk kepalanya sambil tersenyum hangat sarat akan ketenangan. "Allah tetap sayang kepada hambaNya, tapi cara Beliau menyampaikan sayang ke setiap hambanya berbeda-beda dan tentunya sangat unik." "Aku hanya manusia yang rapuh, terkadang tak sanggup menjalankan skenario yang diarahkan oleh Allah dokter. Aku lelah," ujar Widya sambil menunduk dan menahan sesak dadanya yang semakin menjadi-jadi. Dokter Gufran mengelus lembut surai Widya dengan sayang. "Jalani, nikmati dan syukuri apa yang diberikan Allah kepadamu, Nak. Kau adalah salah satu manusia yang terpilih untuk menjadi sosok yang kuat dalam menjalani kefanaan di dunia ini." Setelah memberikan secuil nasehat, ah lebih tepatnya saling mengingat Widya, dia pun langsung keluar dari ruangan untuk menjalankan kewajibannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN