Warning 21+
"Hendrik, apa kita jadi ke Indonesia?" tanya Zizi dengan posisi duduk di pangkuan Hendrik.
"Tentu, Sayang. Apa kau merasa keberatan?" tanya Hendrik.
Zizi menggelengkan kepalanya dengan lemas lalu menyenderkan kepalanya di bahu polos Hendrik. "Tidak, aku hanya memastikan saja," jawab Zizi.
"Apa kau mengingat kembali laki-laki itu?" tanya Hendrik.
Zizi mendongakkan kepalanya lalu menatap sayu al U Hendrik sambil mengelus lembut lrahang yang banyak ditumbuhi jambang tipis. "Sayang, percayalah kepadaku kau adalah satu-satunya laki-laki yang ku cintai," ujar Zizi.
"Benarkah? Jika seperti itu, menikahlah bersamaku," ajak Hendrik.
Zizi tersenyum kecut lalu meletakkan kembali kepalanya di bahu Hendrik. "Kau tahu sendiri bagaimana prinsipku mengenai pernikahan," jawab Zizi sedikit ambigu.
Hendrik menghela napasnya dengan lelah, lalu mengecup lembut kepala Zizi dengan sayang. Lalu mengelus lembut tulang punggung Zizi.
"Sayang, jangan seperti itu," lenguh Zizi yang semakin keenakan. "Aku ingin terlelap sebentar," ucapnya.
Hendrik terkekeh dengan geli. "Apa kau merasa kelelahan?" tanyanya.
"Sangat, kau tak memberikanku waktu untuk istirahat dari semalam. Rasanya badanku ini sangatlah remuk." Zizi mencubit kecil pinggang Hendrik yang hanya tertutup oleh selimut.
"Sayang, itu sangat menyakitkan," ringis Hendrik.
"Maaf," cicit Zizi sambil memeluk erat Hendrik.
"Tak apa." Hendrik mengecup kembali puncak kepala dari Zizi. "Lebih baik kau bersiap, karena kita akan pergi ke Indonesia," ujar Hendrik.
Sontak mata Zizi membulat sempurna. "Kau sangat jahat! Bagaimana mungkin kau memberitahukan ku sekarang untuk bersiap pergi ke Indonesia!" omel Zizi.
Hendrik terkekeh dengan geli, lalu dengan jahilnya dia mengarahkan mulutnya ke salah satu gunung kembar milik Zizi dan tanpa menunggu lama dia langsung menyesap dan menjilat secara bergantian sedangkan gunung kembar yang satunya dia memijat dengan perlahan.
"Hendrik, sudah cukup!" Beda di mulut beda di hati, padahal ZiI sangat menikmati kenikmatan yang diberikan oleh Hendrik.
"Aku belum puas, Sayang. Sekali lagi ya, sebelum kita berangkat ke Indonesia," pinta Hendrik dengan raut wajah yang memohon.
Zizi bangkit dari pangkuan Hendrik dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, lalu dia berbalik dan menjulurkan lidahnya keluar.
Hendrik merasa sangat gemas dengan Zizi lalu dirinya ikut masuk ke dalam kamar mandi. Namun, belum sempat Zizi memasuki kamar mandi, Hendrik terlebih dahulu meraih pinggul Zizi dan membantingkan badan langsing wanita itu ke tempat tidur.
"Hendrik, aku mohon," pinta Zizi dengan lirih. "Aku sangat lelah."
"Tidak Sayang, kau tak boleh lelah sama sekali. Aku masih menginginkan dirimu."
Hendrik langsung mengarahkan wajahnya untuk memagut bibir kenyal milik Zizi dan salah satu tangan nakalnya meremas dengan gemas gundukan kenyal milik Zizi, sedangkan tangan satunya dia arahkan ke dalam goa hangat yang sangat menggiurkan.
"Hendrik sudah cukup," rengek Zizi.
Demi apapun, dirinya sangat lelah. Bayangkan saja, dia digempur oleh Hendrik dari tadi malam hingga pagi ini mereka masih tak tertutupi oleh sehelai benang pun kecuali selimut tebal.
"Kau menyuruhku berhenti tapi badanmu tak bisa membohongi jika kau menginginkan diriku juga, Zi." Hendrik menyeringai dengan nakal lalu dia segera mengecup seluruh permukaan kulit leher Zizi.
"Hendrik," lenguh Zizi yang lolos begitu saja.
"Apa Sayang, sebutkan maumu." Hendrik menjilat sensual telinga kiri Zizi dan itu dapat menambah rasa gairah yang dialami Zizi.
Tanpa menunggu lama, Hendrik langsung saja memasukkan benda pusakanya ke dalam lembah hangat milik Zizi. Tentu saja keduanya mengerang nikmat. Hendrik pun tak main-main bermain dengan ritme yang sangat kencang hingga dua gunung Zizi ikut tersentak-sentak.
"Aku akan sampai, Hendrik," lenguh Zizi.
"Bersama, aku juga akan sampai Sayang." Hendrik menambah kecepatannya hingga cairan cinta itu keluar di dalam rahim Zizi.
"Aku lelah," rengek Zizi
"Aku belum puas," jawab Hendrik dengan santai.
Kemudian, Zizi tetap bakalan mengikuti permainan nakal dari Hendrik yang tak bisa berhenti hingga mereka puas.
Satu jam kemudian, mereka berdua telah masuk ke dalam pesawat pribadi milik Hendrik.
"Sayang, jangan cemberut dong," ujar Hendrik sambil mengecup pelan kedua pipi Zizi.
Zizi menepis kasar tangan Hendrik. "Jangan sentuh! Nanti kau ingin menerjangku kembali! Kau itu benar-benar maniak s**********n!" ketus Zizi.
Hendrik terkekeh dengan pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Maaf, bukankah aku pemain yang sangat handal di atas ranjang?" goda Hendrik.
Zizi mengalihkan pandangannya ke arah jendela pesawat untuk menyembunyikan semburat merah yang timbul akibat mendengarkan perkataan dewasa dari Hendrik.
"Sayang, sampai di Indonesia aku ingin sekali menggagahi mu kembali," pinta Hendrik dengan manja.
"Aku itu manusia! Bukan robot!" gerutu Zizi.
"Itulah sebabnya aku ingin sekali bermain denganmu berulang kali."
Zizi hanya mendengkus dengan sebal lalu menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. Akan tetapi, belum juga dia masuk ke dalam dunia mimpi Hendrik telah menggendong dirinya untuk masuk ke dalam kamar pribadi pesawat.
"Sayang, kau mau ngapain!" bentak Zizi karena kaget.
"Tentu saja menidurimu!" jawab santai Hendrik.
"Hei! Ayoklah, aku sangatlah lelah," protes Zizi.
Hendrik tak menyahut dan lebih memilih untuk membaringkan Zizi diikuti dirinya yang ikut merebahkan dirinya.
"Aku haus, ingin meminum ini." Hendrik menepuk pelan gunung kembar milik Zizi. Tentu saja Zizi langsung mendengkus dengan sebal. Akan tetapi, dirinya tetap mengeluarkan gunung kembarnya dari kain segitiga atasnya.
Hendrik pun mulai menyesap dengan rakus seperti bayi yang sedang kehausan. Akibat kelelahan, keduanya pun tertidur mengingat penerbangan masih lama.
***
Di Indonesia, tepatnya BA Corporation Bian sedang menunggu kedatangan Jack yang entah kemana sekarang.
"Lama sekali Jack itu!" geram Bian sambil melirik jam tangannya.
"Mungkin Kak Jack sedang ada keperluan." Widya tersenyum lembut ke arah Bian.
"Kau benar-benar selalu mendukung Jack!" Widya mengernyitkan dahinya tak paham.
"Maksudnya apa?" tanya Widya.
"Sudahlah! Kau tak paham sama sekali anak kecil."
Widya hanya mengangkat bahunya dengan malas, Bian seperti wanita yang sedang mengalami kenaikan masa datang bulan! Lihat saja sekarang, Bian sedang menggerutu tak jelas padahal perutnya sudah terisi sangat penuh.
Akan tetapi, tak lama kemudian Jack masuk ke dalam ruangan Bian.
"Jack! Kemana saja kau! Aku telah menunggu sejak tadi!" omel Bian.
Jack menatap Widya dan keduanya saling pandang tak mengetahui apa penyebab Bian yang sangat rewel saat ini.
"Maaf Tuan, saya sedang melakukan pekerjaan di bawah tadi." Jack menunduk. "Saya ingin menyampaikan sesuatu," ujar Jack.
"Cepatlah, aku tak sabar mendengar ucapan kau!"
"Dari pengajuan yang kita lakukan, H Corporation menolak secara mentah-mentah tanpa memberitahukan penyebab mereka menolak kerja sama kita," jawab Jack *to the point*
Bian mengepal tangannya tak terima dengan keputusan yang diberikan oleh H Corporation.
"Cari celah kembali, berkas apa yang kurang atau perusahaan seperti apa yang diterima oleh H Corporation."