Berbeda

1011 Kata
Sesuai dengan rencana dengan dewan direksi, Bian langsung mengajukan permintaan kerja sama dengan H Corporation hari itu juga. Sekarang hanya dapat Bian berharap bahwa H Corporation akan menerima pengajuannya karena bagaimanapun dia tak ingin kalau perusahaannya benar-benar hancur. Tak apa kalau hidupnya yang menderita, tapi bagaimana kalau yang menderita karyawannya? Kasihan sekali dengan kehidupan keluarga mereka. Itulah sebabnya Bian, semenjak pulih yang dipulih-pulihkan memilih untuk tetap bekerja sampai larut malam. Untuk kebiasaan dirinya yang selalu menyakiti diri sendiri, berkurang sedikit demi sedikit. Entah kapan kebiasaan baiknya akan terlaksana yang pasti doakan saja Bian tetap memiliki jiwa yang sehat. "Kak Bian, makan dulu yuk." Bian langsung tersentak dari lamunannya dan menoleh ke arah Widya. "Aku tak lapar," jawab Bian dengan acuh. "BOS dari suatu perusahaan besar, tak baik kalau mengabaikan kesehatan seperti ini. Kalau Kakak sakit terus yang mengurusi perusahaan siapa?" Widya melirik Bian dengan senyuman manisnya. "Ada Jack yang akan mengurusinya," jawab Bian lagi. "Apa iya, Kak Jack akan melakukan semuanya secara terus-menerus. Ah, apa baiknya kalau Kak Jack saja yang menjadi BOS di sini?" tanya Widya. Bian menatap Zizi dengan tatapan marah. "Jaga mulutmu Widya! Bagaimanapun aku yang menjadi BOS di sini!" omel Bian. Bukannya tersinggung atau takut, saat Bian memarahinya, Widya lebih seperti terkikik geli sambil menggelengkan kepalanya. "Apa yang lucu!? Sepertinya aku gak melakukan lawakan di sini!?" ketus Bian. "Tak ada, hanya saja aku merasa Kak Bian semakin hari emosinya tak terkontrolkan. Kakak baik-baik saja?" tanya Widya sarat dengan nada ejekan. "Kau sangat usil jadi bocah!" Bian mendengkus dengan sebal menatap Widya dengan tatapan sengit. "Sudahlah, aku lapar sekarang tapi malas untuk makan," ujar Bian. "Ha? Maksudnya lapar tapi malas makan itu gimana sih?" Widya menggaruk kepalanya lalu memicingkan matanya ke arah Bian. "Sudahlah! Lupakan saja!" Bian mendengkus napasnya dengan sebal. "Dasar anak di bawah umur!" gerutunya. Masuklah Jack yang secara tak sengaja mendengar permintaan Bian. Lalu dia hanya menggeleng kepalanya dengan pelan. "Tuan Bian ingin disuapi Nona Widya." Jack terkekeh dengan geli. "Benarkah? Kenapa tidak berbicara secara langsung? Ah, dasar Pak Tua yang sangat menyebalkan," tapi sayangnya sangat tampan, lanjut Widya dalam hati. "Sudahlah! Aku tak bernafsu makan kembali." Bian langsung menatap layar komputer untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. "Lihatlah Pak Tua ini!" ejek Widya. Jack pun tak bisa menahan gelak tawanya dia bahkan sampai memegang perutnya. Bian seperti orang yang tak biasanya, mungkin dia merasa lelah. Widya pun dengan sigap menyuapkan makanan ke depan mulut Bian. "Makan dulu Kak," ujar Widya. Bian menghela napasnya lalu membuka mulut dengan lebar. Widya dan Jack hanya bisa saling pandang karena Bian berlagak seperti wanita yang sedang mengalami datang bulan saja. "Jack, ada perlu apa kau datang kemari?" tanya Bian. "Ada sesuatu hal yang penting tentunya, tapi silakan Tuan menghabiskan makanan Anda. Nanti saja aku kembali lagi," jawab Jack. "Baiklah, sepuluh menit lagi tolong kau datang kemari untuk memberitahu informasi penting yang kau maksud." Jack mengangguk sambil berbalik arah untuk keluar dari dalam ruangan Bian. Sepeninggalan Jack, Bian masih saja asyik mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Kemudian, Widya pun tersenyum melihat tingkah laku dari seorang Bian yang terkenal dingin selayaknya kulkas berjalan. "Widya, bukankah kau belum makan juga?" tanya Bian "Kak Bian saja yang makan duluan, tak usah risau mengenai aku," ujar Widya. "Aku tak mau kau pingsan dan jatuh sakit." Bian langsung saja menyuapkan makanan ke mulut Widya dengan sendok yang sama dengannya. Widya langsung mematung menatap Bian tak percaya. Bian masih tak menyadari akan hal itu, tapi dirinya langsung saja menyuapkan diri sendiri. "Kunyahlah makananmu itu, tak baik bengong di pagi hari seperti ini," ujar Bian sedikit melirik Widya. Widya pun masih mengunyah makanan tersebut dengan pelan sambil menatap pelan wajah Bian dengan mengerjapkan matanya berulang kali. Bian menoleh ke arah Widya. "Kau benar-benar seperti anak kecil. Makan tak rapi sama sekali." Bian mendengkus pelan lalu tangnya mengulur ke depan tepatnya ke mulut Widya yang sangat belepotan. "Lain kali jangan begini makan di depan orang! Malu-maluin saja!" Bian bercakap seperti dia seorang ayah bagi Widya. Sama halnya dengan gadis mungil itu tiba-tiba merasa seperti ada kupu-kupu yang terbang menggelitik perutnya. "K-kak Bian," lirih Widya. "Kenapa? Kau masih ingin makan ya?" tanya Bian. Sontak, Widya langsung mengangguk kepalanya sambil membuka lebar mulutnya. Bian terkekeh geli, dia menyukai sifat manja kekanak-kanakan yang dimiliki Widya. "Makan yang banyak, jangan sampai sedikit karena nanti badanmu tak tumbuh-tumbuh ke atas," oceh Bian yang tak henti-hentinya. "Terima kasih," ujar Widya. "Sama-sama." Bian dan Widya pun langsung menyelesaikan makanannya karena Bian sendiri belum juga menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda sedari tadi. Sesudah dari acara makannya, Bian kembali menghadap komputer sembari menunggu Jack untuk kembali ke hadapannya. Akan tetapi, beda halnya dengan Widya dia tak habis pikir dengan pikirannya sekarang. Bagaimana mungkin dia berpikir kalau dirinya sekarang sedang jatuh cinta dengan Bian? Ah, rasanya ini tak mungkin. Mengingat Bian sendiri masih saja bergelung dengan masa lalunya. "Aku tak mungkin jatuh hati dengan Kak Bian," batin Widya. Beda halnya dengan Suci, sekarang dia sedang menatap kosong lembaran foto yang dikirim oleh tangan kanannya. Bagaimana mungkin kalau wanita calon menantunya dulu itu masih hidup? Dan sekarang telah hidup bersama laki-laki yang kaya di luar negeri. Dirinya merasa geram sekali, bayangkan saja anaknya di sini selalu saja merasa bersalah karena mengambil keputusan yang secara mendadak dan lihatlah wanita penuh bisa itu hidup dengan enaknya. Tentu Suci tak akan tinggal diam, dia akan melakukan berbagai acara agar Zizi benar-benar tinggal nama saja. Dirinya sudah lelah melihat Bian yang selalu menyayat dirinya tanpa rasa sesal di dalam hati. Sungguh, Suci akan bersikap egois saat ini. Lalu dengan tangan lentik nan elegan dia menempelkan gawai ke telinga kanannya. "Hallo, siapkan semua yang aku beritahu kepadamu. Lakukan dengan baik, jangan sampai ada yang terlewati secuil pun! Aku tak mau tahu! Yang pasti wanita yang aku sebutkan tadi harus tinggal nama saja! Kau tak perlu mengetahui alasannya, karena di sini aku BOS nya bukanlah dirimu!" Suci menatap lurus ke depan. "Jika kau bekerja dengan baik, gaji kau akan aku naikkan dua kali lipat! Jika tidak kau pasti akan tau akibatnya!?" Suci langsung menutup saluran telepon secara sepihak dan berharap bahwa keinginannya benar terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN