Melarikan Diri

1014 Kata
Teriakan yang diberikan oleh Zia membuat Widya menoleh ke belakang hingga tepat bongkahan kayu balok itu tepat mengenai kepala Widya. Widya tentu saja limbung ke belakang, bahkan kepalanya sekarang telah bercucuran cairan kental berwarna merah. Akan tetapi, tak ada terbesit rasa kasihan di dalam hati Zio. Bahkan, dirinya dengan tak berperikemanusiaan mengarahkan kembali bongkahan kayu tersebut dengan sangat keras ke bagian tubuh Widya yang lain. Akan tetapi, yang terbesit dalam benak Widya langsung saja memeluk sang mama agar papanya tak melukai mamanya kembali. "Anak tidak tahu diuntung! Semenjak kau lahir, hidupku semakin sial! Dasar tak tahu diuntung!" sarkas Zio. "Aku akan mengembalikan dirimu ke Tuhan." Zio masih saja memukul badan ringkih Widya hingga gadis mungil itu merintih merasa kesakitan dipunggung kecilnya. Zia yang melihat anaknya kesakitan hanya bisa pasrah karena dirinya saja tidak bisa bergerak karena badannya yang merasa sangat kaku akibat pukulan yang diterimanya tadi. "Anak sialan!" sarkas Zio. "Papa, berhenti!" jerit Widya. "Widya mohon," pinta Widya. Napasnya terasa berat, badannya terasa sakit semua bahkan terlihat jelas di kulit putih mulus bahwa adanya lebam keunguan. "Tidak! Aku tak akan berhenti sampai kau tiada di dunia ini!" Hal itu tetap berlangsung hingga Widya yang merasa badannya mati rasa. Dia pun tak mau tinggal diam, dengan keberanian yang tersisa dia pun langsung berbalik kembali dan menangkap kayu tersebut hingga Zio dengan posisi tidak siap langsung terpental ke arah lain. Napas Widya tersengal-sengal kemudian dia pun langsung menghampiri Zio yang sedang menatapnya dengan nyalang. Langkah kaki yang tertatih-tatih, tak menyurutkan tekad Widya untuk menghampiri Zio. "Anak tak tahu diuntung ini sudah berani kepada aku rupanya," sinis Zio. "Nak, sudah cukup, Nak. Mama mohon," pinta Zia di arah belakang Widya. Widya mengepalkan tangannya lalu meraih kayu yang digunakan Zio sebelumnya. "Aku akan membuktikan bagaimana sebenarnya anak yang tidak tahu diuntung," sinis Widya. Zio langsung menatap takut anaknya yang berubah seketika menjadi menyeramkan seperti ini, seperti bukan Widya yang dia kenal sebelumnya. "Apa yang kau akan lakukan!" Zio menatap nyalang tapi memiliki rasa takut juga. "Melakukan apa yang harus dilakukan, Papa!" Widya langsung saja mengarahkan kayu tersebut ke arah badan Zio. "Tidak! Jangan kau lakukan itu, Nak!" jerit Zia ketakutan melihat sisi lain dari anaknya yang dia kenal sebagai anak yang penyayang. Widya tak menghiraukan jeritan pilu dari Zia karena dia telah diselimuti kebencian yang besar hingga tanpa menunggu lama dia mengarahkan kayu tersebut ke badan Zio dengan sekuat tenaga. "Akh!" teriak Zio. "Ini yang dinamakan anak tak tahu diuntung, Pa." Widya memukul kembali badan Zio cukup keras. "Berhenti, Nak. Itu Papa kau. Tak seharusnya kau melakukan ini," jerit Zia dari arah belakang. Buliran air membasahi pipi mulus Widya, kemudian genggaman pada kayu tersebut langsung terlepas begitu saja bersamaan dengan badannya meluruh ke lantai. "Sudah cukup, Pa. Sudah cukup! Bukankah Papa menginginkan aku dulu sebagai anak! Apakah orang tua di muka bumi ini begini? Menyakiti anaknya dan membuangnya begitu saja seperti barang bekas!? Kau manusia atau bukan, ha!" Tangis pilu Widya pecah begitu saja di depan badan Zio yang tergeletak dengan lemas dengan cairan berwarna merah yang keluar begitu saja dari daerah pelipisnya. Zia dengan sekuat tenaga untuk bangkit dan menghampiri Widya yang masih mengeluarkan isi hatinya selama ini. "Nak, sebaiknya kita pergi dari sini sekarang," bisik Zia. "Ke mana?" tanya Widya. "Ke mana saja, kita akan hidup berdua tanpa laki-laki tak bertanggung jawab ini," jawab Zia. Zia langsung mengambil tissue dan dia menggosok tissue ke permukaan kayu yang digunakan oleh anaknya untuk menghapus semua jejak. "Papa, Widya ingin Papa untuk berjanji tidak mencari lagi Widya dan Mama untuk selamanya." Setelah mengatakan itu, Widya langsung bangkit dan meninggalkan Zio yang terbaring lemah. Zia pun melihat suaminya, sebenarnya dia merasa tidak tega, tapi juga enggan untuk bersama laki-laki yang selalu meninggalkan bekas luka baik itu secara lahir dan batin ada dirinya. Dia menghembuskan napasnya dengan lelah lalu dia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan selembar uang biru dan meninggalkan di atas badan Zio. "Ini untuk kau berobat dan terima kasih karena telah menjadi bagian hidupku selama ini walaupun kau meninggalkan masa lalu yang penuh dengan luka." Zia bangkit dan langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan rumah yang memiliki kenangan tersendiri di lubuk hati yang terdalam. Di dalam perjalanan, Widya dan Zia pun berjalan tak tahu arah yang terpenting mereka harus keluar terlebih dahulu dari tempat terkutuk serta meninggalkan Zio yang tak sadarkan diri akibat pukulan yang diberikan oleh Widya. "Widya, Mama minta maaf karena tidak dapat menjadi seorang ibu yang bisa melindungi dirimu, Nak. Akan tetapi, Mama berjanji tetap ada bersama dirimu." Widya menoleh lalu tersenyum tipis. "Tidak masalah, Ma. Aku baik-baik saja." Dia masih bisa tersenyum sambil mengobati lukanya yang lumayan parah. Dia tak peduli, yang terpenting saat ini dirinya dapat terlepas dari laki-laki itu. Kata baik-baik saja tersirat akan kata tidak baik-baik saja, hanya saja Widya sekarang tidak ingin membuat ibunya merasa sangat khawatir. Zia menghembuskan napasnya dengan lelah, dia prihatin dengan anaknya karena diusia muda, dia telah banyak mengalami cobaan yang bertubi-tubi. Parahnya lagi, seharusnya Widya mendapatkan kasih sayang dari cinta pertamanya bukan sebuah luka. "Nak, lebih baik kita ke rumah lama Mama saja. Mungkin rumahnya sedikit lusuh tapi seingat Mama masih layak dihuni," ujar Zia. "Gak masalah kok, Ma," jawab Widya. "Ya sudah, Mama. Kita pergi sekarang saja yuk, nanti keburu petang loh." Keduanya pun berjalan dengan santai, sesekali keduanya saling melontarkan gurauan agar suasana menjadi cair dan berusaha melupakan sesuatu hal yang perlu dilupakan hingga tiba di sebuah supermarket, Zia langsung memegang tangan Widya dan dia pun menoleh ke arah supermarket. "Mama ke dalam supermarket dulu ya," ujar Zia. Widya langsung mengangguk kepalanya dan dia memilih untuk menunggu di seberang jalan. Kemudian, tak lama kemudian Zia keluar dengan gembira sambil membawa sekantong makanan untuk mereka. Seperti tertular akan senyuman Zia, Widya pun ikut tersenyum lebar hingga mereka tak sadar jika ada mobil yang melaju sangat kencang dari arah kiri. Boam! "Mama," teriak Widya dengan nyaring. Suara dentuman yang cukup keras membuat orang-orang yang berada di lingkungan sama ikut menghampiri Widya yang telah duduk lemas melihat Zia yang tak sadarkan diri. "Mama!" Widya menjerit. Tak lama kemudian, ada seorang pemuda yang membantu mengangkat Zia ke dalam mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN