"Bagaimana dengan keadaan Mamaku dokter?" tanya Widya.
Dokter menghela napasnya dengan berat lalu tersenyum menenangkan Widya. "Mama kau dalam masa kritis, tunggu saja perkembangannya. Ah, ditambah lagi akibat benturan yang keras sehingga terjadi penggumpalan darah di bagian otaknya tersebut. Dengan demikian kami perlu melakukan operasi agar menyelematkan nyawa beliau."
"T-tapi aku tidak memiliki sepersen uang pun dokter," sendu Widya.
Dokter tersenyum lembut sambil menepuk bahu Widya. "Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Mama kau," ujar dokter.
Widya tampak berpikir sebentar, dirinya sekarang hanya memiliki Zia sebagai keluarganya. Dia pun mendongakkan kepalanya menatap dokter dengan mantap. "Baiklah, selamatkan Mamaku dokter. Bagaimanapun dan apapun caranya tolong selamatkan nyawa Mamaku."
Dokter dan perawat yang berada di samping dokter pun merasa bangga dengan kegigihan yang dimiliki oleh Widya.
"Mari, ikut dengan aku, Dik. Kita urus terlebih dahulu masalah administrasinya," ujar perawat.
Widya mengangguk lalu langsung mengekor di belakang perawat menuju tempat pembayaran biaya rumah sakit. Di sisi lain, Bian mengawasi gerak-gerik Widya tanpa berniat untuk menghampiri gadis kecil itu. Entah kenapa, Bian yang awalnya seorang laki-laki acuh saat melihat gadis kecil meraung sambil memangku kepala ibunya, hati dinginnya mencair walaupun hanya beberapa persen saja. Lalu lihatlah sekarang, dia juga menjadi iba saat melihat gadis kecil itu mendapatkan kabar bahwa ibunya harus dioperasi dan dirawat secara intensif di rumah sakit.
Bian menghembuskan napasnya dengan lelah lalu menempelkan benda pipih ke kupingnya. "Urus semua biaya gadis kecil itu."
Entahlah, kenapa dia harus begini sekarang sedangkan sebelumnya, dirinya melakukan segala hal itu karena ada imbalan tentu saja. Biarkan saja nanti akan dia pikirkan mengenai itu karena dirinya sekarang ingin tidur terlebih dahulu walaupun hanya tidur dengan posisi duduk. Namun, niat untuk tertidur hanyalah sebuah rencana belaka karena ada orang yang menghampiri dirinya sekarang.
"Kak," panggil seseorang.
Bian membuka seluruh kelopak matanya lalu menatap gadis kecil yang ada di sampingnya itu. "Kenapa?" tanyanya.
"Apa maksudmu membantu diriku dalam membayar semua administrasi rumah sakit ini?" tanya Widya.
"Bukan aku yang membayar semua administrasi itu, jangan mengarang cerita kau malam-malam begini," bohong Bian.
"Aku tidak berbohong, asisten Kakak yang memberitahukan kalau Kakak yang membayar semua administrasi operasi Mamaku."
"Mulut ember sekali asistenku!" maki Bian dengan suara pelan.
Akan tetapi, Widya yang memiliki pendengaran yang tajam tetap bisa mendengar makian lirih yang dilontarkan oleh Bian.
"Ayolah, kenapa Kakak melakukan ini semua? Kakak seorang penjahat kelamin ya?" cecar Widya dengan sangat polos.
Bian membelalakkan matanya. "Kamu mengira aku ini seorang penjahat kelamin?" Bian tak terima dikatakan demikian, ayoklah dirinya saja masih menjaga kesucian yang dimiliki dirinya sekarang dan bisa-bisanya gadis di depannya sekarang ini berkata demikian.
"Lantas, apa maksud Kakak melakukan ini semua?" cecar Widya.
"Aku ingin membantu kau," jawab asal Bian.
"Tidak! Aku tidak akan menerima bantuan dari Kakak!" tolak Widya.
Bian mengernyitkan dahinya. "Maksud kau apa? Bukannya bagus aku telah membantu diri mu? Hei! Seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena telah membantu diri kau," ujar Bian tak habis pikir.
Widya menghela napasnya dengan gusar. "Baiklah, aku berterima kasih tentang itu semua tapi aku tak bisa menerima itu juga." Widya menjeda perkataannya sambil menatap Bian dengan mantap. "Jadikan aku sebagai asisten Kakak, mungkin," ujarnya.
"Sudah ada Jack yang menjadi asisten aku," jawab Bian.
"Atau asisten rumah tangga Kakak," usul Widya. "Setidaknya aku bisa menggantikan uang Kakak walaupun seumur hidup," tawar Widya.
Bian nampak berpikir sejenak. "Baiklah jika itu mau kamu. Mulai sekarang kamu akan bekerja sebagai asisten aku di rumah dan Jack akan menjadi asisten bagian kantor saja," putus Bian.
"Terima kasih banyak, Kak."
Widya nampak terharu, akhirnya setelah dia terpa badai besar di kehidupannya ini, dia pun sekarang bisa merasakan ketenangan. Dia tidak tahu saja bagaimana kelanjutan kehidupannya setelah ini.
"Kita langsung saja ke rumahku soalnya aku belum mengganti pakaian dari pagi," ujar Bian.
Widya hanya mengangguk kepalanya dengan patuh. "Tapi Mamaku gimana?" tanya Widya.
"Aku telah memberikan pengawalan khusus untuk menjaga Mama kau."
Widya kembali mengangguk kepalanya dengan patuh, dirinya sekarang akan sepenuh hati untuk bekerja di rumah Bian. Entah apapun itu kerjaannya yang terpenting dirinya itu dapat membayar sedikit demi sedikit. Dirinya bukan berarti menolak pemberian Bian, tapi Widya merasa tak enak hati kepada Bian ditambah lagi antara Bian dan Widya tidak memiliki hubungan darah. Keduanya pun akhirnya dalam perjalanan pulang, keduanya kembali membisu dengan memalingkan wajahnya masing-masing ke arah jalanan yang sedikit senggang sekarang. Jack, pun tampak diam saja dan memilih fokus mengemudi mobil.
"Ah, Kak. Aku lupa membawa baju aku," ringis Widya.
"Tidak masalah, Jack telah menyiapkan segala macam keperluan kamu."
"Baiklah."
Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil telah berhenti di apartemen kalangan atas yang sangat menakjubkan. Untuk Widya sendiri berdecak kagum karena dirinya hanya pernah tinggal di kawasan kumuh dan tentunya tak layak dihuni.
Bian berbalik menghadap ke arah Widya. "Kau kenapa diam di situ terus?" tanya Bian.
Widya membelalakkan matanya dengan lucu. "Ah, iya maaf, Kak." Widya langsung saja melangkahkan kakinya menuju Bian.
Bian hanya menggelengkan kepalanya lalu berbalik untuk melanjutkan melangkahkan kakinya menuju apartemennya. Apartemen yang mewah, dihiasi berbagai ornamen yang sangat elegan menambah kesan eksotis dan nilai tinggi apartemen yang ditempati oleh Bian ini. Widya nampak berpikir, sepertinya Bian adalah orang terkaya walaupun dirinya masih sangatlah muda. Ah, beruntung sekali kehidupan Bian menurut Widya.
"Silakan masuk," ujar Bian.
"Terima kasih."
"Ah, iya. Silakan kau duduk terlebih dahulu, aku akan memesan makanan siap saji saja."
"Bagaimana kalau aku saja yang memasak di dapur? Lagi pula, terlalu sering makan di luar tidak terlalu sehat," tawar Widya.
"Terserah kau saja, lagipula ada beberapa bahan makanan yang layak untuk dimakan," jawab Bian.
Widya Langsung mengangguk kepalanya dan beranjak menuju dapur untuk memasak sesuatu yang sederhana saja sedangkan Bian sendiri memilih untuk membersihkan dirinya. Selang beberapa waktu kemudian, masakan yang Widya masak telah selesai semua dan secara kebetulan Bian telah selesai dari dalam kamar mandi.
"Silakan di makan." Widya menyodorkan makanan ke depan Bian yang telah duduk di meja makan dengan tenang.
"Terima kasih," ujar Bian. Widya hanya tersenyum, kemudian dia ingin meninggalkan Bian. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya, Bian telah menahan lengan Widya.
"Duduklah, aku butuh teman makan."
Widya pun duduk dengan patuh dan dirinya hanya duduk tanpa menyentuh makanan di depannya itu.
"Makanlah, aku seperti orang yang enggan berbagi makanan saja."
"Tapi, Kak," bantah Widya.
"Makan." Bian sedikit menaikkan nada suaranya.
Widya sedikit menciut dengan bentakan yang diberikan oleh Bian. Dia sedikit takut dengan raut wajah sangar dengan mata melotot keluar.
"Duduk!" Widya langsung tersentak dan mengangguk kepalanya dengan kaku