Darah

1032 Kata
Keesokan harinya, Widya bersiap untuk melakukan kegiatan bersih-bersih sesuai dengan pekerjaannya. Rasanya dia sangat bersemangat lagi dalam melakukan kerjaan ini karena memang Widya sendiri adalah tipe anak yang sangat rajin. Dirinya seorang diri yang telah bangun karena Bian sendiri masih tertidur. Dia pun membersihkan ruangan tamu terlebih dahulu karena dirinya berpikir jika Bian memiliki tamu ruangan tersebut telah bersih dan siap digunakan. Sambil bersenandung dengan riang, dia membersihkan setiap debu yang menempel di bagian perabotan lalu dibagian kursi juga. Selanjutnya, dia membersihkan lagi bagian kamarnya saja. Widya sebenarnya ingin membersihkan kamar Bian, tapi dia juga tak enak hati membersihkan kamar tersebut sedangkan pemiliknya saja belum bangun. "Mungkin nanti saja aku bersihkannya," batin Widya. Semua ruangan telah bersih kecuali kamar Bian dan dia memilih untuk melakukan kerjaan lain terlebih dahulu sembari menunggu Bian bangun. Widya pun melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin untuk melihat makanan apa yang bisa diolah menjadi santapan lezat di pagi hari ini. Setelah membuka lemari pendingin, dia hanya melihat tahu serta ikan tongkol, tanpa pikir panjang tangannya itu menjulur ke depan untuk meraih ikan tongkol saja. "Aku akan membuat tumis tongkol saja, semoga Kak Bian menyukainya," batin Widya. Untung saja, selama ini dirinya selalu membantu ibunya di dapur sehingga dalam hal memasak Widya cukuplah mahir di umurnya yang baru saja menginjak sembilan belas tahun. Widya dengan khusyuk menyiapkan segala macam makanan di hari pertama dia kerja sekarang. Hanya butuh dua puluh menitan, tumis tongkol telah tersedia di meja makan. Dia pun beralih menuju piring-piring kotor dan membersihkannya dengan segera. Setelah semuanya beres, Widya pun langsung saja beralih ke cucian baju kotor. Dia pun segera menyiapkan perlengkapannya kemudian dia langsung memasukkan satu persatu baju yang akan dicuci. Namun, tangan mungilnya berhenti tatkala melihat pisau kecil yang berada di kantong celana Bian. Widya nampak berpikir, kira-kira untuk apa pisau kecil lipat itu di kantong celana Bian? Ah, apa mungkin untuk menjaga dirinya sendiri? Widya pun yang tak ingin ambil pusing langsung saja mengambil pisau tersebut dan memasukkan celananya ke mesin cuci. Sembari menunggu mesin pencuci baju selesai, Widya pun langsung saja beralih ke ruang santai untuk menonton televisi. Dia segera duduk dan segera berbalik mengambil remote control untuk menyalakan televisi. Widya pun asyik menonton hingga dia ketawa terpingkal-pingkal tanpa menghiraukan dia berada dimana sebenarnya. Kemudian, mesin pencuci pun mengeluarkan bunyi yang menandakan proses pengeringan telah selesai. Gadis kecil itu buru-buru melangkahkan kakinya menuju mesin cuci baju tersebut agar kerjaannya selesai dan langsung ingin menonton kembali. Akan tetapi, saat dia beranjak Widya melihat beberapa tetes cairan warna merah di samping kaki sofa tempat dia duduk tadi. Tentunya Widya mengernyitkan dahinya, lalu melihat cairan yang seperti darah manusia. Sontak matanya membola dan buru-buru dia melihat sekitaran bantalan duduknya dan dia mengernyitkan kembali, ternyata dirinya tidak mendapatkan bulanan lantas darah apa itu? Widya sedikit mendongakkan kepalanya dan ternyata cairan tersebut mengarahkan ke suatu tempat. Gadis itu pun mengikuti arah sumber darah itu berasal, karena posisi menunduk kepala Widya tak sengaja membentur suatu benda. Dia pun mendongakkan kepalanya dan melihat bahwa benda tersebut adalah pintu kamar Bian. Lantas, mata dengan bulu mata terbalik milik Widya langsung membola. Dia pun refleks membuka pintu kamar Bian tapi sayangnya pintu tersebut sepertinya terkunci dari dalam kamar. Tak kehabisan akal, Widya langsung saja merogoh gawainya di kantung celananya dan untung saja kemarin malam dia sempat bertukar nomor dengan Jack, asisten dari Bian. Widya langsung saja menempelkan gawai tersebut ke telinganya. "Hallo, Jack! Aku butuh bantuan kau sekarang. Kak Bian sedang dalam masalah." Tanpa menunggu respon Jack, Widya langsung saja mematikan gawainya dan melihat sekeliling untuk mencari cara agar dirinya bisa masuk ke dalam kamar Bian. Dia pun berusaha terlebih dahulu menggebrak pintu kamar tersebut dan tentunya saja pintu tersebut tidak bisa kebuka karena kekuatan pintu tak sebanding dengan besar tubuhnya yang mungil. "Kak Bian!" teriak Widya. Widya menggedor pintunya dengan keras sambil memanggil nama Bian berulang kali dan berharap dirinya bisa menolong Bian dengan secepat mungkin. Masih dalam usahanya yang gigih, dirinya pun berjalan ke arah lain untuk mencari kunci cadangan tapi hal itu malah membuang sia-sia waktunya hingga Jack pun tiba dengan raut wajah khawatir lalu laki-laki itu pun langsung mendobrak dengan sekali hentakan badannya saja. Setelah pintu kamar terbuka, terpampanglah Bian yang sedang tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah di sekujur tubuhnya. Sontak Widya dan Jack langsung berlari menghampiri Bian yang tak sadarkan diri. "Tuan," panggil Jack. Bian bergeming, bahkan intensitas pernapasannya melemah. Widya pun segera memeriksa denyut nadinya dan ternyata masih berdenyut walaupun lemah. "Lebih baik kita langsung membawa Kak Bian ke rumah sakit," usul Widya. Jack langsung mengangguk lalu dia pun membungkukkan dengan membelakangi Bian. Widya yang paham langsung berusaha mengangkat badan Bian yang lebih besar darinya dengan sekuat tenaga. Kemudian, Jack langsung membopong Bian menuju parkiran apartemen. Tentu saja, aksi mereka menjadi daya tarik untuk ditonton oleh penghuni apartemen lainnya. Namun, hal itu tidak menjadi suatu penghalang untuk membawa Bian. Jack pun dengan sigap langsung membawa Bian ke kursi penumpang bagian belakang yang mana Widya memangku kepala Bian. Widya merasa sangat terkejut sekarang, bahkan dirinya tak merapikan penampilannya dan sekarang dirinya hanya mencepol dengan asal kepalanya. "Kak Bian," lirih Widya. "Nona, jangan panik dan doakan saja Tuan Bian baik-baik saja," ujar Jack. Beda di hati beda di mulut, Jack bisa saja mengatakan untuk tetap tenang tapi dirinya saja sangatlah terkejut terlebih lagi dirinya tak mengira bahwa atasannya ini mengalami hal ini lagi. Sesampainya di rumah sakit, tim medis dengan sigap menangani Bian dan tentunya dengan pengawalan yang ketat. Jack dan Widya pun duduk dengan lesu ditambah lagi ada rasa khawatir di hati mereka. Jika Jack khawatir karena Bian adalah atasannya, Widya beda lagi dia seperti mengkhawatirkan orang yang, ah! Tak tahu harus mengatakan apa! Tiba-tiba datanglah seorang wanita dengan setelan kekinian menghampiri Widya dan Jack. "Jack, gimana anak Tante?" tanyanya. Jack mendongakkan kepalanya menatap wanita di depannya lalu dirinya segera bangkit dan membungkuk badannya sedikit. "Bian sedang dalam perawatan Tante," jawab Jack. "Uh, anak itu bikin ulah lagi ya?" "Gak gitu Tante Suci," elak Jack. "Terus? Apa penyakit dulunya kambuh lagi?" cecar Suci. Obrolan mereka terhentikan ketika dokter yang menangani Bian keluar dari ruang gawat darurat. Widya pun yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka lantas berpikir. "Kak Bian punya penyakit? Tapi apa?" tanyanya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN