Widya sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Jack dan Suci. Akan tetapi, dia pun merasa malu untuk menguping pembicaraan mereka terlebih lagi dia hanya orang baru dan terpenting lagi dia bukanlah siapa-siapa dari Bian. Jujur, dirinya ikut khawatir dengan laki-laki yang baru saja dia kenal satu hari itu. Tidak ada angin, tidak hujan Bian tergeletak begitu saja di atas lantai dengan bersimbah darah. Widya sangat penasaran, entah apa yang dialami oleh laki-laki lembut itu dan dia cuma bisa berharap kalau Bian akan baik-baik saja nantinya.
Jack dan Suci pun telah menyelesaikan pembicaraan mereka yang mana Jack entah pergi kemana dengan beberapa pengawal sedangkan Suci melangkahkan kakinya menuju Widya. Refleks, Widya langsung menunduk kepalanya sambil mengaitkan tangan dengan malu. Suci pun memutuskan untuk duduk di samping Widya sambil mengarahkan pandangannya ke arah pintu unit gawat darurat yang masih tertutup karena Bian masih dalam proses penanganan.
"Terima kasih karena telah membantu Bian," ujar Suci tulus.
Widya mendongakkan kepalanya dengan mengernyitkan dahinya. "Tidak, Kak Bian yang telah membantu Widya, Bu. Jika tidak ada uluran tangan Kak Bian mungkin Widya telah kehilangan Mama."
Suci tersenyum tulus lalu meraih tangan mungil Widya untuk digenggam. "Tante Widya, Tante. Jangan panggil Ibu."
"B-baik T-tante."
"Justru Tante yang berterima kasih kepada kau. Jika tidak ada kau, mungkin Tante akan kehilangan anak satu-satunya yang sayangnya dia sangatlah nakal." Suci menjeda ucapannya lalu melihat ke arah Widya dengan sepenuhnya. "Jack telah menceritakan semuanya ke Tante perihal kau yang ada di rumahnya Bian dan Tante sangatlah bersyukur karena adanya kau Bian cepat diselamatkan."
"Tidak masalah Tante," cengir Widya. "Emang Kak Bian sakit apa ya Tante kalau boleh tahu?" tanya Widya.
Suci menghela napasnya dengan panjang. "Bian, memiliki suatu penyakit yang tak biasa sebenarnya. Ini berawal saat Zizi, mantan tunangannya Bian meninggal setelah Bian memutuskan untuk mengakhiri pertunangan mereka secara sepihak kemudian, dia pergi dan mengalami kecelakaan hingga meninggal ditempat. Setelah kejadian itu, Bian merasa sangat bersalah bahkan dia sempat tidak makan minum hanya berdiam diri saja di dalam kamar. Puncaknya, dia sering menyayat dirinya dengan pisau hingga badannya itu penuh dengan luka atau dalam bahasa medisnya Bian mengalami self injury," jelas Suci.
Self-injury dapat diartikan sebagai salah satu cara atau perilaku menyakiti serta melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja. Ini merupakan salah satu bentuk dari gangguan perilaku yang terkait dengan sejumlah penyakit kejiwaan. Hal ini dapat berupa tindakan melukai tubuh dengan benda tajam atau benda tumpul, seperti menyayat atau membakar kulit, memukul tembok, membenturkan kepala, dan mencabuti rambut. Penderita self-injury juga dapat dengan sengaja menelan sesuatu yang berbahaya, seperti cairan deterjen atau obat nyamuk, bahkan menyuntikkan racun ke dalam tubuh.
Self-injury biasanya dilakukan untuk melampiaskan atau mengatasi emosi berlebih yang tengah dihadapi, misalnya stres, marah, cemas, benci pada diri sendiri, sedih, kesepian, putus asa, mati rasa, atau rasa bersalah. Hal ini dapat juga dilakukan sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari pikiran yang mengganggu.
Kehilangan orang yang dicintai dan menjadi korban kekerasan emosional, fisik, atau seksual bisa membuat seseorang merasa hampa, mati rasa, dan rendah diri. Mereka menganggap dengan menyakiti diri sendiri bisa mengingatkan dirinya bahwa ia masih hidup dan merasakan sesuatu layaknya orang lain.
Hal inilah yang dilakukan oleh Bian, karena merasa sangat bersalah kepada mantan tunangannya itu, dia kerap kali menyayat sekujur tubuhnya dengan pisau kecil atau bahkan dengan benda tajam yang lainnya. Tentunya hal ini hanyalah beberapa orang terdekat saja yang mengetahui sifat buruknya karena yang mereka tahu Bian adalah orang yang sangat ceria, lembut bahkan sangat semangat setiap harinya.
Yah, Bian selalu berbohong dia seolah-olah di depan orang akan menggunakan topeng keceriaan untuk menutupi kesedihannya selama ini. Entah apa maksudnya dia melakukan itu semua, hanya Bian yang tahu. Tentu, Suci sebagai ibu Bian merasa sangat khawatir terlebih lagi anaknya itu tidak mau lagi tinggal bersamanya dan lebih memilih untuk tinggal sendiri di apartemen elite dekat perusahaannya.
"Kasihan sekali Kak Bian," sendu Widya.
"Tante sebenarnya ingin minta tolong ke kau, Widya."
Widya menatap Suci dengan heran kembali. "Minta bantuan apa Tante?" tanya Widya.
"Tante menginginkan kau menjadi pengasuh Bian mulai detik ini, untuk imbalan Tante akan membiayai semua biaya rumah sakit Mama Widya serta biaya sekolah. Gimana? Kamu bersedia?" tanya Suci.
Tentu saja Widya terlonjak kaget dengan penawaran yang diberikan oleh Suci tapi sangat menggiurkan Widya terlebih dirinya tak memiliki uang sepersen pun saat ini.
"Tapi sepertinya Widya tidak bisa Tante karena Widya telah menawarkan diri sebagai asisten rumah tangga di Kak Bian," tolak Widya.
"Tidak masalah, kau di sanakan gak dibayar. Anggap saja sambil menyelam minum air, nantinya kau bekerja di sana sekalian untuk menjaga Bian. Ini hanya kita yang tahu Sayang, jangan sampai Jack atau Bian sekalipun mengetahui rencana Tante."
Widya nampak berpikir dan detik berikutnya dia mengangguk kepalanya. "Baiklah Tante, aku bersedia. Kapan sekiranya aku bisa mulai bekerja?" tanya Widya.
"Detik ini juga kau sudah bisa bekerja dengan Tante. Jangan lupa untuk menelepon Tante jika terjadi sesuatu dan lain hal dengan Bian." Suci pun menyodorkan selembar kartu nama ke Widya yang mana di sana berisikan nomornya.
Widya mengangguk kepalanya dengan paham setelah mendengar ucapan dari Suci. "Baiklah kalau seperti itu, Widya pamit dulu untuk masuk melihat Kak Bian."
Widya pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju kamar Bian yang kebetulan sekali pihak medis telah menyelesaikan pemeriksaan terhadap Bian. Setelah masuk, dia dapat melihat Bian yang tergelak lemas di brankar rumah sakit dengan infus yang menempel di punggung tangannya.
"Kasihan sekali Kak Bian," sendu Widya yang telah duduk di samping Bian.
Namun, tak disadari bahwa Bian sekarang telah membuka kelopak matanya secara menyeluruh. Dia pun mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan cahaya yang baru masuk ke dalam matanya. Tiba-tiba tanpa sengaja, dia melihat siluet seorang wanita yang sangat mirip dengan mantan tunangannya. Tanpa diduga, Bian langsung beranjak dengan melepas begitu saja selang infusnya. Tentu saja Widya merasa sangat terkejut terlebih lagi, dia tak mengetahui jika Bian telah tersadar.
"Zizi," teriak Bian.
Bian langsung lari dengan kencang tanpa mempedulikan tangannya, bekas dari selang infus mengeluarkan darah yang berceceran di atas lantai.
"Kak Bian," teriak Widya.
Widya mau tak mau mengejar Bian dengan sangat kencang, hingga tiba Bian tersandung dan dia langsung terjatuh. Widya dengan sigap membantu Bian untuk berdiri lagi.
"Zizi," lirih Bian.
Widya mengerjapkan matanya berulang kali. Mungkinkah nama yang disebutkan oleh Bian sekarang adalah mantan tunangannya yang diberitahukan oleh Suci barusan?