Widya tak banyak berbicara, dia lebih memilih untuk membantu Bian untuk berdiri dan memapah laki-laki itu untuk kembali ke dalam kamarnya. Suci yang melihat anaknya, sontak berlari ke arah Widya dan Bian dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"Bian, kau tidak apa-apa?" tanya Suci.
Tatapan Bian tanpa sayu, sarat akan keputusasaan. "Zizi, Mah," lirihnya.
Suci mengernyitkan dahinya lalu menatap Widya yang juga sama-sama kebingungan mendengar penuturan Bian. Akan tetapi, Suci segera mengembalikan semangat hidup anaknya agar tetap semangat.
"Bian, tatap Mamah." Suci menangkup wajah Bian dengan keadaan dirinya mendongak agar Bian yang memiliki badan yang tinggi melihat dirinya. "Zizi sudah meninggal, dia sudah di surga. Terpenting lagi kau tidak salah, Nak," nasihat Suci kepada Bian.
"Seandainya Bian tidak mengakhiri pertunangan kami, pasti Zizi tidak meninggal," sesal Bian.
Suci menghela napasnya lalu mengelus lembut lengan berotot Bian. "Semua akan indah pada waktunya," ujar Suci. Kemudian, wanita paruh baya itu langsung mengangguk ke arah Widya agar membawa Bian masuk ke dalam kamar.
Sepeninggalan dari Bian dan Widya, Suci langsung menempelkan benda pipih canggih ke telinganya. "Periksa wanita di foto yang telah aku kirimkan." Setelah berkata demikian, Suci langsung mematikannya secara sepihak dan melangkahkan kakinya menuju kamar Bian.
Sesampainya di sana, Suci melihat Widya yang mengurus Bian dengan telaten. Tidak salah dirinya memberikan tugas tersebut kepada Widya.
"Bian, Mamah pamit dulu mau pulang soalnya Mamah belum mandi nih," cengir Suci.
Bian menutup hidungnya dengan wajah yang kesal yang dibuat-buat. "Pantas ada bau aneh dari tadi," ejeknya.
Suci terkekeh dengan geli. "Sudah ah! Mamah jadi malu. Mamah pamit dulu ya." Kemudian, tatapan Suci mengarah ke Widya, gadis itu hanya bisa tersenyum menenangkan. Akhirnya, Suci pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Bian dan Widya.
Sepeninggalan Suci, Bian langsung menatap langit-langit ruang inapnya dengan tatapan kosong. "Aku salah," sesalnya dengan nada lirih.
Widya tersenyum. "Kak Bian tidak salah, percaya deh sama aku," ujar Widya.
Bian menatap Widya dengan ekor matanya. "Emang kau tahu darimana aku tidak salah?" selidik Bian.
Widya terbelalak, dia tak mungkin memberitahukan bahwa dirinya telah mengetahui segalanya. "Em, Widya cuma berpikir, orang yang sebaik Kak Bian tidak mungkin menyakiti orang lain."
"Aku tetap bersalah," ujar Bian lagi.
"Percaya sama Widya, Kak Bian tidak salah sama sekali," elak Widya.
Bian tak menjawab dan lebih memilih untuk mengganti posisi tidurnya dengan membelakangi Widya. "Sudahlah, aku mengantuk," ujarnya.
Widya mengangguk walaupun Bian tak melihatnya. "Baiklah kalau seperti itu. Selamat tidur," ujar Widya.
Widya yang belum mandi sedari tadi pun akhirnya memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi kamar inap Bian dan kebetulan, tas Widya berisikan baju ganti yang selalu dia bawa kemanapun dan dimanapun.
Bian yang merasa Widya tak ada lagi di belakangnya, langsung berbalik dan menghela napasnya dengan gusar. Dia pun melihat pisau untuk memotong buah yang berada di nakas samping kepalanya dan tanpa pikir panjang dia pun langsung mengambilnya diam-diam dan dia pegang sangat erat.
"Aku tetap yang bersalah di sini," lirih Bian sambil menatap pisau yang ada di tangannya.
Selanjutnya, dia pun memilih untuk bangkit dan berjalan ke arah balkon kamarnya. Dia melihat pemandangan luar untuk melihat sekitarannya. Kemudian, dia pun mengarahkan pisau tersebut ke lengan kirinya dan memulai menyayat tangannya.
"Kau berhak di sakiti," lirih Bian.
Cairan kental berwarna merah pekat perlahan mulai membasahi lantai yang dipijat oleh Bian sekarang. Bian tak merasa sakit sedikitpun, malahan dia lebih seperti bahagia karena bisa menyakiti dirinya sendiri.
"Bian bodoh," hardik dirinya sendiri.
"Kau berhak merasakan sakit ini," ujarnya lagi.
Lain halnya dengan Widya yang telah selesai mandi, dia pun sangat terkejut karena tak melihat Bian di tempat yang sama sebelum dia mandi. Kemudian, dengan langkah lebarnya dia mencari Bian lalu pandangannya menuju balkon yang terbuka tanpa pikir panjang, Widya langsung menuju ke sana.
Betapa terkejutnya Widya saat melihat cairan kental berwarna merah tergenang di lantai putih balkon dia pun melihat Bian tertawa sambil menyayat tangannya.
"Kak Bian, stop!"
Bian berbalik ke arah Widya dengan tampang yang sangat menyedihkan. "Aku berhak merasakan sakit ini Widya, karena semuanya salahku."
Widya menggelengkan kepalanya ke arah Bian. "Tidak! Kakak tidak salah sama sekali."
Bian meraup wajahnya dengan kasar. "Ini salahku!" bentak Bian.
"Kakak tidak salah." Widya menangkup wajah Bian lalu menatap laki-laki itu dengan teduh. Entah keberanian darimana, Widya langsung membawa badan kekar Bian menuju dekapan hangat dari badan mungilnya.
Bian pun menurut kemudian, kepalanya dia sandarkan di bahu mungil Widya. "Salahku," isak tangis pilu Bian mulai terdengar.
Widya memilih untuk tak menyahut tapi lebih memilih untuk membekap Bian dengan sangat erat. Widya merasa, Bian tidak membutuhkan nasihat tapi melainkan pelukan hangat dan pendengar setia.
"Kita bersihkan luka Kak Bian lagi yuk," ajak Widya.
Bian mengangguk kemudian mengurai pelukannya dan melangkahkan kakinya dengan perlahan. Dia pun memilih untuk duduk di atas brankar dan menghadap Widya yang sedang duduk di bangku pengunjung.
"Sini, tangannya."
Bian mengulurkan tangannya yang terdapat luka-luka menganga dengan darah yang masih mengalir dengan deras. Widya sebenarnya merasa ngeri dengan hal di depannya tapi sudahlah ini semua harus dia bersihkan demi keselamatan Bian.
"Tahan sebentar ya."
Widya pun dengan perlahan membersihkan semua cairan tersebut terlebih dahulu dengan telaten, Bian melihat jelas bagaimana ekspresi Widya yang merasa sangat ngeri tapi dia berhasil sembunyikan dengan wajah senyum sumringahnya.
"Maafkan aku," lirih Bian.
"Tidak masalah, jangan diulangi lagi. Kakak berhak bahagia, biarkan masa lalu berlalu dengan sendirinya. Ditambah lagi, Kakak kalau ada masalah cerita saja ke Widya." Widya menatap Bian dengan wajah yang teduh menenangkan Bian. Tanpa diduga, Bian langsung mengangguk kepalanya dengan patuh dan ikut tersenyum kepada Widya.
Widya pun akhirnya menyelesaikan dalam membersihkan luka-luka Bian. "Ya sudah, Kakak harus istirahat sekarang."
Bian menggelengkan kepalanya dengan lucu. "Tidak, aku tidak mau istirahat. Aku bosan di sini terus," sungutnya. "Bagaimana kalau kita keluar di sekitaran taman Rumah Sakit?" tawar Bian.
"Kakak tidak capek?" tanya Widya.
"Tidak, ayok kita berjalan sebentar."
Akhirnya keduanya berjalan dengan perlahan tapi belum sempat mereka berjalan ke arah taman, Jack mendatangi Bian dengan raut wajahnya yang sangat khawatir.
"Tuan," panggil Jack.
"Ucapkan yang ingin kau ucapkan kepadaku."
Seolah-olah tahu, Bian langsung saja mempersilahkan Bian untuk menyampaikan sesuatu kepada dirinya.
"Perusahaan mengalami suatu kejadian yang tak terduga, Tuan."
"Jelaskan lebih rinci."
"Saham BA perusahaan sedang mengalami penurunan."