Tanpa berucap sepatah katapun, Bian langsung saja mencabut infus yang berada di punggung tangan kanannya dan beranjak begitu saja keluar dari ruang inapnya.
Widya melongo dan segera melangkahkan kakinya di belakang Bian, pun dengan Jack ikut melangkahkan kakinya mengekori atasannya itu.
"Widya, kau seharusnya gak ikut." Bian berbicara tanpa menatap Widya dan terus melangkahkan kakinya dengan lebar.
"Tidak, Widya ingin ikut dengan Kak Bian." Widya menyangkal perkataan Bian dan tetap berada di atas pendiriannya.
"Ikuti perkataan aku Widya." Nada bicara Bian tak bersahabat dengan memberhentikan langkahnya dan berbalik ke arah Widya.
Widya mengerjapkan matanya lalu detik berikutnya menunduk takut seperti anak kucing yang sedang dimarahi induknya. Jack hanya tersenyum simpul melihat interaksi dari atasannya dan Widya, jarang-jarang dia melihat atasannya berinteraksi dengan wanita. Apa jangan-jangan Widya adalah sosok gadis yang diidam-idamkan oleh Bian? Ah, rasanya itu sangat mustahil. Jack pun segera mengenyahkan pikirannya jauh-jauh mengenai itu.
"Kembali ke rumah saja Widya." Bian memijit pelipis dengan pening dan berusaha untuk sabar ketika dia melihat Widya tetap berdiri seperti patung tanpa menghiraukan perintahnya.
"Tidak! Aku ingin ikut dengan Kak Bian. Aku khawatir dengan Kakak karena belum sembuh." Widya menatap punggung tangan Bian dengan bergidik ngeri dan meraih tangan kekar milik lelaki itu. "Lihatlah, darahnya saja masih mengucur dengan deras."
Bian memutar matanya dengan jengah dan segera menepis tangan Widya dan segera masuk ke dalam mobil tanpa sepatah katapun. Jack terkekeh dalam hati melihat Bian seperti itu dan dia pun merasa iba dan segera menepuk punggung mungil milik gadis itu yang sedang mengembungkan pipinya dengan kesal.
"Masuklah di mobil belakang, biar aku dan Tuan Bian yang ada di sini," bisik Jack kepada Widya.
Widya mengangguk dengan patuh dan segera berjalan ke mobil khusus pengawal Bian. Melihat Jack membisikkan sesuatu, Bian menjadi paham ternyata Jack sekarang tidak berpihak kepada dirinya lagi. Lihatlah, tangan kanannya itu membela Widya untuk ikut dengan dirinya. Akan tetapi, Bian tak ingin ambil pusing dengan kejadian barusan, dan lebih memilih untuk mengambil benda pipihnya dan membaca semua dokumen yang dikirimkan oleh Jack beberapa menit yang lalu.
Mobil pun berjalan dengan laju yang cepat, Bian pun masih membaca dokumen-dokumen yang membuat otak cairnya sedikit tersendat sekarang. Bayangkan saja, hampir seluruh dokumen yang diberikan Jack memiliki kekeliruan yang mana saham BA perusahaan mengalami penurunan sangat pesat.
Bian menurunkan benda pipih yang ada ditangannya, lalu menatap ke depan dengan tatapan yang kosong dan menghela napasnya.
Jack sedikit melirik Bian melalui kaca spion. "Tuan, kita bisa berbalik arah jika Anda merasa kelelahan," ujar Jack.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Kau fokuslah menyetir, aku tak mau mengalami kecelakaan dan mati muda." Jack hanya terkekeh mendengar ucapan Bian yang terbilang lucu menurutnya. Aneh, hanya Jack yang biasa saja dengan sifat dingin Bian dan Widya, mungkin.
Beda halnya dengan Widya, gadis itu sibuk juga dengan benda pipihnya mengetik sesuatu hal yang penting terlihat jelas dari raut wajahnya yang sedikit tertekuk dengan bibir yang melengkung ke bawah.
Dirinya sekarang, sedang memberitahu Suci kalau Bian sekarang sedang perjalanan ke kantor. Tentu saja, wanita paruh baya itu memekik panik di sebrang sana walaupun Widya tak melihatnya. Akan tetapi, Widya segera memberitahukan kalau dirinya juga ikut bersama Bian agar laki-laki itu tetap terlindungi. Suci pun setuju dan meminta kepada Widya untuk selalu mendampingi Bian, apapun yang akan terjadi.
Widya pun segera menyimpan benda pipih canggihnya ke dalam tas selempang usang miliknya. Lalu menatap lurus ke arah depan, pengawal Bian yang sedang menyetir hanya melirik Widya dengan penasaran.
"Kau siapanya Tuan Bian?" tanya laki-laki yang tak tahu namanya. "Maaf sedikit lancang." Dia menggaruk kepalanya tidak gatal karena merasa canggung setelah bertanya kepada Widya.
Widya menoleh lalu tersenyum dengan tipis. "Aku hanya asisten rumah tangganya. Tidak masalah, tak perlu cangguh bertanya kepadaku."
Laki-laki itu mengangguk tapi dalam hatinya merasa aneh, sejak kapan Tuannya memperkerjakan seorang wanita lebih tepatnya seorang gadis ditambah lagi gadis itu juga ikut ke perusahaan. Bukankah ini suatu perubahan yang sangat signifikan? Ah, biarkan saja dia tak mau memikirkan hal yang tak penting.
Tak terasa, waktu pun berjalan dengan cepat. Kedua mobil yang sedang beriringan pun telah masuk ke pelataran sebuah perusahaan yang menjulang sangat tinggi. Widya yang tak pernah hal seperti ini pun mengerjapkan matanya dengan lucu. Pengawal Bian yang satu mobil dengannya tadi hanya tersenyum simpul, lalu menepuk sedikit bahu Widya.
"Ayok, kita harus masuk bersamaan dengan Tuan Bian," ajaknya.
Widya gelagapan. "Ah, iya. Apa kita tidak masalah berjalan masuk ke gedung itu?" tanyanya.
"Tidak masalah, ayok kita susul Tuan Bian."
Widya pun dengan tergopoh-gopoh, ikut menyetarakan langkah kecilnya dengan langkah lebar para pengawal yang memiliki badan kekar. Mereka pun masuk dengan wajah tanpa ekspresi, khas pengawal sedangkan Widya merasa canggung saat melihat beberapa karyawan wanita yang sedang menatapnya dengan pandangan yang mencemooh.
Tentu saja, Widya merasa tak enak dan merasa bertanya-tanya kenapa karyawan tersebut melihat dirinya seperti itu. Lalu, dia pun segera menunduk untuk melihat pakaiannya. Widya sontak menepuk jidatnya dia tak sadar sekarang hanya memakai baju kaos hitam dengan warna yang luntur, serta celana jeans yang usang dan jangan lupakan dia sekarang sedang memakai sepatu yang entah kapan dia mencucinya, terlihat dari warna serta banyaknya debu menempel di sepatunya.
Akan tetapi, dia dengan lihat menutupi rasa malunya dan menampilkan senyum ceria andalannya. Biar saja, orang berkata apa dengan dirinya. Nanti kalau dia mendapatkan gaji, Widya akan membeli barang yang dia inginkan.
Kembali ke Bian sekarang yang telah masuk ke dalam ruangan khusus pejabat tertinggi di BA Corporation. Dia sedang mengerutkan dahinya dengan geraman yang tertahan di mulutnya. Bagaimana tidak? Baru sehari dia tidak di perusahaan, semuanya terasa kacau. Dia merasa sangat bersalah dengan perusahaan miliknya serta mendiang papahnya yang telah percaya kepada dirinya.
Entah kenapa, dirinya secara tidak sadar meraih benda tajam yang ada di dalam laci meja kerjanya dan secara diam-diam, dia ingin menancapkan benda tajam itu ke lengan kekarnya yang terdapat banyak bekas goresan yang kering.
Akan tetapi, hal itu tidak terjadi saat Jack membuka pintu kerjanya. Jack menunduk dengan patuh. "Maaf, Tuan. Para direksi sekarang telah berkumpul di ruang rapat dan ingin berjumpa dengan Anda."
Bian segera merubah ekspresinya menjadi datar dan berusaha menyimpan kembali benda tajam yang ada di genggamannya.
"Baiklah, aku akan segera ke sana. Lebih baik kau keluar dan panggil Widya untuk kemari." Jack hanya mengangguk patuh dan berbalik untuk keluar dari ruangan.