Kikuk

1014 Kata
Widya sedang duduk di bangku khusus pengawal Bian sambil memegang secangkir kopi yang dibelinya di kantin BA Corporation. Pasalnya, dia merasa sangat mengantuk karena tidak tidur dua malam untuk menjaga Bian. Kemudian, dia tersentak tatkala ada seseorang yang memegang bahunya. Widya menoleh sambil mengangkat alisnya sebelah melihat Jack berdiri sambil menunduk wajah untuk melihat dirinya. "Tuan Bian memanggil kau untuk masuk ke dalam ruangannya." Jack langsung mengambil secangkir kopi yang berada di tangan Widya dan tanpa permisi dia langsung meneguk habis kopi tersebut. Widya terperangah dengan tingkah laku Jack yang tidak sopan serta kopi yang sangat berharga baginya telah masuk ke dalam perut lelaki itu. Pasalnya, uang terakhirnya telah habis untuk membeli kopi saja di BA Corporation. "Cepat sana, nanti Tuan Bian nanti marah kepada kau." Jack menarik lengan Widya untuk berdiri dan mendorong badan mungil tersebut untuk masuk ke dalam ruangan. Widya mengembungkan pipinya dengan kesal sambil mendelik tajam ke arah Jack. Lalu, dia pun langsung masuk ke ruangan Bian. "Ada yang perlu aku bantu Kak?" tanya Widya. "Pasangkan kancing bajuku, aku sedang malas untuk bergerak," perintah Bian. Widya melongo tak percaya kepada Bian, apakah hanya ini alasan majikannya itu memanggilnya? "T-tapi Kak, aku gak bisa." Widya menundukkan kepalanya sambil menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Kau ingin dipecat dan berakhir keluar dari rumahku?" tanya Bian sambil memicingkan matanya merasa keberatan dengan penolakan yang diberikan Widya. "B-bukan, maksudnya Widya ini hanya asisten rumah tangga bukan asisten pribadi. Kenapa bukan Jack saja yang mengancing pakaian Kakak," ujar Widya. Bian mendengkus dengan sebal, kemudian tangannya yang kekar menarik tangan mungil Widya untuk mendekatkannya. "Tidak usah banyak alasan, aku tak mau berdebat dengan dirimu," ketus Bian. Widya meneguk ludahnya dengan kasar karena menahan gugup akibat terlalu dekat dengan Bian. Tangan mungilnya bergerak secara bergetar menuju kemeja yang masih terbuka tersebut untuk dia kancingi sekarang. Dia pun berusaha untuk tetap fokus mengancing baju Bian satu persatu, setelahnya dia memasang dasi Bian. Akan tetapi, Widya mengalami kesulitan karena badannya lebih mungil dibandingkan dengan badan Bian. Bian yang sedari tadi acuh, melirik ke bawah dengan ekor matanya lalu tanpa berkata-kata lagi dia meraih pinggang Widya dan menaruh Widya ke atas meja kerjanya. Tentu saja Widya yang diperlakukan seperti itu langsung memekik kaget dan mengalungkan tangannya ke leher Bian. Widya menatap Bian tanpa berkedip, lalu Bian segera menyentil dahi mungil kayak upil di depannya. "Fokus, tahu kok kalau aku ganteng." Widya langsung gelagapan dan segera melepaskan lengannya dari leher Bian. "Maaf, Kak." Dia merutuki dirinya sendiri akibat dirinya yang sempat terlena dengan ketampanan Bian. Setelah selesai Widya pun sedikit merapikan kemeja yang sedikit terlipat. "Nah, sudah selesai." Bian mengangguk kepalanya lalu dirinya meraih pinggang Widya untuk menurunkan gadis itu dari atas meja. "Sekarang, pasangkan sepatu aku." "Loh, bukannya Kakak lagi pakai sepatu ya?" tanya Widya kebingungan. Pasalnya, dia melihat Bian mengenakan sepatu dan jika dilihat sepatunya masih baik-baik saja tidak kotor sekalipun. "Ganti pakai sepatu yang di sana." Bian menunjukkan sepatu berwarna biru gelap dengan dagunya. Widya pun menurut dan segera mengambil sepatu tersebut. "Sudah Kak." Widya bangkit dari posisi jongkok lalu menatap Bian dengan senyumannya. "Ya sudah, kalau kayak gitu kau ganti pakaian yang ada di sana." Widya mengikuti arah pandang Bian. "U-untuk Widya?" tanyanya. "Iya Widya, untuk kau." Daripada kena semburan pedas dari Bian, Widya lebih memilih untuk segera menuruti permintaan majikannya. Widya pun segera menuju kamar mandi lalu membuka kotak yang ada di tangannya. "Wah, cantik sekali gaunnya." Dia pun segera menggantinya kemudian, dia merapikan sedikit rambutnya yang sedikit acak-acakan. Pintu kamar mandi pun terbuka menampilkan Widya yang telah berubah seperti Cinderella. Bian awalnya menatapnya tanpa berkedip lalu dia segera mengalihkan pandangannya agar Widya tak melihatnya. "Ayok." Bian bangkit dan berjalan sambil merapikan jas yang melekat pada tubuh atletisnya dan Widya pun mengangguk walaupun Bian tak meliriknya. Sesampainya di luar, Jack mengangkat alisnya sebelah melihat wajah Bian yang memerah. "Apakah Anda sakit Tuan?" tanyanya. "Tidak!" Jack semakin merasa aneh dengan tingkah laku atasannya yang tidak seperti biasanya. Kemudian sekarang kedua alisnya terangkat, saat melihat Widya dengan anggun berjalan di belakang Bian. Akan tetapi, kembali Jack hanya memandang tanpa berucap karena menurutnya dia tak ada hak untuk berbicara saat ini. Bian memasuki ruangan rapat direksi diikuti Widya dan Jack dibelakangnya. "Selamat pagi Pak Bian," sapa para dewan direksi sambil berdiri menyapa Bian. Bian melepas kancing jasnya. "Selamat pagi." kemudian dia duduk sambil menatap tajam para dewan direksi satu-satu. "Silakan duduk," ujar Bian. "Baiklah, sebelumnya saya pribadi minta maaf karena baru sekarang untuk datang ke perusahaan lagi karena kesehatan saya yang memburuk," ujar Bian. "Tanpa basa-basi lagi, kita langsung saja membuka rapat kali ini. Saya dengar dari Jack bahwa sebagian dari kalian ingin menarik saham dari BA Corporation?" tanya Bian. "Benar Pak Bian, kami sedikit kecewa dengan pengelolaan perusahaan akhir-akhir ini." Bian mengangguk kepalanya menerima alasan dari salah satu dewan direksi tersebut. "Ada alasan lain?" tanya Bian dengan tenang. Widya menatap Bian tanpa berkedip karena Bian bisa mengatur emosinya di depan orang. Jack yang melihat Widya hanya menggeleng kepalanya pusing, dia beranggapan bahwa Widya telah jatuh ke pesona Bian. Jack menyenggol Widya. "Tundukkan kepala kau," tegurnya. "Maaf," jawab Widya dengan malu. Rapat pun kembali menjadi sangat panas yang mana para dewan direksi tetap bersikukuh untuk menarik saham mereka. Tentu saja Bian tak terima dengan keputusan mereka karena bagaimanapun perusahaan akan bangkrut mengakibatkan karyawan akan dipecat. "Bagaimana kalau berikan saya waktu dua bulan untuk menyelesaikan ini semua?" tanya Bian. "Tidak, kami tak bisa menunggu terlalu lama Pak Bian. Pun kami tak bisa mempercayai Anda begitu saja." Bian menghela napasnya dengan lelah. "Baiklah, sebutkan saja kalian bisa menunggunya sampai kapan." "Satu bulan." Bian mengangguk kepalanya. "Baiklah, saya akan usahakan untuk menyelesaikan ini semua dalam waktu dekat." Di balik meja, Bian memegang perutnya yang terasa sakit. Hal itu gak luput dari pandangan Widya yang sedari tadi menatap Bian. "Jika dalam waktu satu bulan, pengelolaan perusahaan tidak bagus kami minta maaf sebelumnya bahwa dengan terpaksa kami tetap akan menarik saham kami." Bian mengangguk kepalanya. "Baiklah saya terima keputusan Anda semua." Bian tersenyum tipis. "Kalau seperti itu, rapat kita selesaikan sekarang." Rapat pun telah usai, dengan hasil rapat yang tidak memuaskan dan menghasilkan beban berat bagi Bian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN