Mulai Kagum

1019 Kata
"Kakak baik-baik saja?" tanya Widya yang berada di samping Bian. "Aku baik-baik saja." Bian langsung keluar dengan tampang biasa saja untuk menyembunyikan rasa nyeri di perutnya. Sepeninggalan majikannya, Widya masih menatap gelagat Bian yang mencurigakan lalu dia melihat arlogi di tangan kanannya. Dia langsung menepuk jidatnya dan merasa lupa kalau Bian sebenarnya belum makan sama sekali dari tadi pagi akibat Bian yang sibuk meracau menyebut nama mantan tunangannya itu. Dia pun buru-buru turun lagi ke kantin dan memesan makanan untuk Bian. Untungnya saja, pihak pengelola kantin tidak meminta pembayaran karena khusus untuk Bian sebagai CEO BA Corporation. "Ada yang dipesan lagi Nona?" tanya pelayan kantin. "Jadi gini, aku lagi bingung memesan makanan penutup untuk Tuan Bian karena aku baru kerja dengan beliau. Kalau boleh tahu, Tuan Bian biasanya pesan apa?" tanya Widya. "Biasanya Pak Bian, memesan banana cake dan kopi hitam Nona." "Baiklah, pesan satu porsi saja ya Mbak." Pelayan langsung mengangguk paham dan segera kembali ke dapur untuk membuat pesanan dari Widya. Sepeninggalan pelayan, Widya hanya duduk sambil menatap luar kantin yang mana terdapat taman yang banyak ditumbuhi pepohonan yang rimbun secara kebetulan dia pun melihat Jack yang sedang mengobrol dengan seorang wanita. Widya sedikit memicingkan matanya tatkala dia melihat perawakan dari wanita yang ada di depan Jack dan dia seperti pernah melihat wanita itu sebelumnya. Akan tetapi, detik kemudian Widya mengangkat bahunya dengan acuh karena tak ingin ambil pusing mengenai apa yang dia lihat sekarang ini. Mungkin, bisa jadi wanita itu adalah pujaan hatinya. Tak lama kemudian, datanglah pelayan yang membawa pesanan Widya. "Permisi, Nona. Ini dia pesanannya, semoga menikmati." Widya mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih lalu dia pun mengambil makanan tersebut. Belum sempat dia melangkahkan kaki ke ruangan Bian, suara notifikasi gawai milik Widya pun berdering dan melihat ada pesan masuk dari Suci yang mana mengatakan bahwa semua tunggakan uang sekolahnya telah lunas serta uang bayarannya telah masuk. Akhirnya, satu beban pikirannya terangkat sehingga dia bisa melakukan aktivitas berikutnya dengan santai. Beda halnya dengan Bian yang sedang fokus menatap laptop untuk mengerjakan semua permasalahan yang ada. Lihatlah, semua pemasukan lebih sedikit dengan pengeluaran. Bian tak habis fikir padahal yang dia ingat sebelum masuk rumah sakit pekerjaannya telah selesai. Dia juga sangat yakin karena telah memasukkan ke penyimpanan eksternal. Akan tetapi, saat dia memeriksa kembali semuanya tidak ada. Apa mungkin dia bermimpi saat itu? Bian menghelat napasnya dengan lelah. Kemudian menyenderkan punggungnya agar terasa lebih rileks sekarang. Menit berikutnya dia lebih memilih untuk bangkit dan berkeliling untuk melihat kinerja karyawannya. Biasanya Jack yang melakukan hal ini, tapi entah kenapa laki-laki itu tak tahu dimana batang hidungnya. Dia akhirnya masuk ke dalam ruangan keuangan terlebih dahulu dan melihat semua karyawannya terlihat sibuk. "Apa kalian perlu bantuan?" tanya Bian tiba-tiba. Karyawan bagian keuangan tersebut langsung merasa terkejut karena kehadiran bos mereka. "A-ah tidak Pak Bian, kami sedang berusaha mengerjakan tugas dari Bapak." Bian mengangguk kepalanya. "Lalu kalian melihat ada yang mengganjal mengenai keuangan itu?" tanya Bian. "Sejauh ini tidak ada Pak. Kami masih mendapatkan data bahwasannya biaya pengeluaran yang ditanggung oleh perusahaan lebih besar." Bian menghela napasnya. "Ya, memang benar kalau itu tapi kita perlu mengetahui penyebabnya." "Mungkin Bapak bisa melihat ke bagian perencanaan?" Bian mengangguk kembali. "Niatnya memang begitu, biar saya melihat terlebih dahulu bagian sana." Saat menuju ke bagian perencanaan, Bian dan Widya tak sengaja berpapasan. "Kak Bian, makan dulu yuk," ajak Widya. "Tidak, aku tak lapar sama sekali," jawab Bian. "Kakak belum makan tadi pagi, ayoklah nanti Kakak sakit loh." "Kau mendoakan aku sakit? Begitu?" Bian mendelik ke arah Widya dengan tampang ketus nan jutek. "A-ah bukan begitu Kak Bian, maksud Widya kita makan dulu baru mulai kerja." Widya gelagapan dengan ekspresi serta nada suara Bian yang meninggi tiba-tiba. "Nanti saja aku makan, lebih baik aku ke ruangan perencanaan terlebih dahulu. Bawa saja makanan itu ke ruangan ku dan kau tunggu saja di sana." Widya hanya bisa mengangguk mengikuti permintaan Bian yang sangat keras kepala. Kemudian mereka pun berpisah dengan Widya yang masuk ke dalam ruangan Bian dan Bian menuju ruangan perencanaan yang berada di satu lantai di bawah ruangannya. Di dalam ruangan Bian, Widya segera menyajikan semua makanan tersebut ke piring saji agar Bian langsung bisa memakan makanannya nanti. Sembari menunggu Bian, Widya mengambil benda pipihnya dan mengetik sesuatu untuk Suci. Dalam pesan singkatnya, dia memberitahukan kalau Bian tetap ingin bekerja walaupun keadaannya masih belum stabil. Tentu saja, Suci membalas dengan nada yang khawatir dan meminta kepada Widya untuk berada di samping anaknya. Setelah membaca pesan terakhir dari Suci, Widya ikut merasa khawatir kepada Bian, ingin menyusul ke tempat Bian tapi rasanya sangat malu hingga pada akhirnya dia memilih untuk berkeliling saja di ruangan Bian. Cukup lama dia keliling melihat situasi ruangan, tiba-tiba mata elangnya melihat benda tajam yang tergeletak di bawah meja kerja Bian. Widya menghela napasnya, dia menduga kalau Bian ingin menyakiti dirinya lagi. Buru-buru dia menyembunyikan benda tajam tersebut ke dalam tasnya. Kemudian, dia mencari tempat yang menjadi kemungkinan Bian menyimpan benda tajam. Akhirnya, dia mendapatkan beberapa benda tajam tersebut. Kalau dipikir-pikir, Bian seperti kolektor benda tajam saja saat melihat dari jumlahnya serta bentuknya yang sedikit unik. Jenuh, itu yang dirasakan oleh Widya saat ini. Dia menunggu Bian seperti menunggu jodoh yang kesasar di hutan sss saja rasanya. Dia menghela napas dan segera berpikir positif kalau Bian sekarang sedang bekerja. Akan tetapi, pikiran dan perasaannya tidak berjalan selaras, hingga dia memutuskan untuk bangkit dan menyusul Bian ke bawah. Tak lupa Widya membawa tas yang berisikan benda-benda tajam tersebut dengan langkah kecilnya dia menuju ruangan perencanaan. Tibanya di sana, Widya sedikit mengangkat alisnya saat melihat Bian ikut duduk bersama karyawan perencanaan untuk menyelesaikan pekerjaan. Dia melihat, karyawannya cukup gesit dan pada saat salah satu karyawan yang tidak bisa, Bian tak marah sebaliknya dia mengajarkan karyawan tersebut dengan pelan-pelan. Tanpa sengaja, Widya tersenyum tipis melihat tingkah laku Bian dan dia pun memegang jantungnya yang berdetak sangat kencang. "Duh, kok jantung aku jedag jedug ya? Apa mungkin aku lagi sakit?" batin Widya. Dia pun memegang dahinya yang ternyata biasa saja. Tidak ada gejala deman sekalipun karena sibuk dengan pikirannya sendiri, Widya tak sadar kalau Bian sudah berdiri di depannya. "Ngapain kau di sini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN