Makan Bersama

1001 Kata
"A-aku tidak ngapa-ngapain kok Kak," cengir Widya. "Terus ngapain senyum-senyum sendiri layaknya pasien rumah sakit jiwa?" tanya Bian sambil mendengkus dengan kesal. Widya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Itu, aku sebenarnya ngajak Kakak untuk makan." "Aku tidak lapar, kalau Widya lapar kau bisa makan duluan," jawab acuh Bian. "Haduh, gimana ya Kak. Widya gak biasa makan sendirian, jadinya harus ditemani oleh Kak Bian." Widya menahan lengan Bian yang berniat ingin pergi ke ruangan karyawan lainnya. "Ayoklah, jangan manja Widya." Bian menepis tangan Widya yang masih menahan lengan berototnya. "Kak, ayok makan bareng Widya. Bukannya lebih baik kalau makan bersama daripada makan sendirian?" Widya menatap Bian dengan tatapan memohon agar laki-laki di depannya itu luluh. Alih-alih luluh, Bian mendorong sedikit jidat Widya hingga gadis mungil bagai upil terdorong ke belakang. Widya lantas mencebikkan bibirnya dengan kesal sambil mengembungkan pipinya. "Sudah sana, pergi makan dengan para pengawal." Widya menundukkan kepalanya, sambil menautkan jarinya. "Kak Bian jahat sekali, padahal Widya hanya ingin makan bersama karena Widya tak pernah merasakannya di rumah." Widya mengambil sapu tangan guna menghapus buliran air yang telah membasahi pipi tirusnya. Bian menghela napasnya dengan lelah kemudian mengedarkan pandangan ke arah lainnya guna melihat sekeliling ruangan dan untung saja ruangan tersebut sangat sepi. "Baiklah kalau seperti itu." Bian langsung saja melengos meninggalkan Widya yang bersorak gembira tatkala drama yang dibuatnya berhasil meluluhkan hati Bian. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada seorang wanita dengan pakaian yang minim sedang menatap tajam ke arah Widya dan Bian sedari tadi. Dirinya mengepalkan tangan tak terima kala terlihat dengan jelas bahwa Bian telah dekat dengan wanita lain. Akan tetapi, detik berikutnya dia pun berbalik dan berjalan turun ke bawah. Kembali ke ruangan Bian, dua anak manusia sekarang sedang duduk berhadapan. Widya sedang sibuk mempersiapkan makanan yang telah dia letakkan di piring saji. "Kak, ini dimakan." Widya menyodorkan piring yang penuhi lauk pauk yang sangat menggiurkan mata dan tentunya perut. "Terima kasih." Dalam ruangan terdengar dentingan garpu yang berpadu pada piring saji. Bian sangat menikmati makanan yang dia kunyah sekarang, karena boleh jujur perutnya kosong sedari tadi akibat terkejut dengan kejadian yang terjadi di perusahaan. Widya melirik Bian lalu dia tersenyum dengan menang karena telah berhasil membuat majikannya merasa kenyang. Akan tetapi, senyum Widya pudar kala pintu ruangan Bian terbuka lebar memperlihatkan wanita cantik dengan pakaian yang minim. "Bian sayang." Wanita itu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Bian. Beda halnya dengan Bian yang menatap sekilas wanita tersebut dan sibuk kembali ke makanan yang ada di depannya. "Ngapain kau ke sini Dinda? Aku tak pernah mengundang dirimu," tanya Bian dengan sinis. Wanita yang dipanggil Dinda memberenggut di samping Bian sambil menggelayut manja di lengan Bian. "Sayang, kok diam saja sih." Dinda masih saja merayu Bian dengan nada yang dibikin mendayu agar Bian terlihat tergoda. "Dinda, lepaslah tangan ku ini! Kau tak lihat kalau diriku ini sedang makan?!" ketus Bian. "Sayang," lirih Dinda dengan pura-pura sedih. Widya sedari tadi hanya menatap Dinda dan Bian bertengkar kecil lalu dia pun angkat bicara. "Kak Bian, jangan lupa makannya untuk dihabiskan. Nanti Kakak sakit," ujar Widya. Dinda mendelik dengan tajam ke arah Widya. "Heh! Kau ngapain sih urus-urus Bianku! Kau wanita tak tahu malu!" sarkas Dinda. "Aku hanya mengingatkan Kak Bian agar dirinya tak sakit," jawab santai Widya. "Kau tak berhak mengingat Bian karena aku adalah calon istrinya." Dinda menatap tajam ke arah Widya dengan bersedekap d**a. "Ditambah lagi kau siapanya Bian? Kenapa kau memanggil Bian dengan sebutan kakak? Ansal kau lupa ya, kalau kau itu adalah asisten rumah tangga Bian saja." Dinda melanjutkan untuk melontarkan kata pedas untuk Widya. "Maaf, emang tugas Widya di sini adalah menjaga Kak Bian, ah Tuan Bian untuk tetap sehat. Lagi pula jika Anda adalah calon istrinya kenapa tidak ada saat Kak Bian sedang sakit dan butuh dorongan untuk sembuh?" Widya menatap Dinda tak kalah tajam, katakanlah dirinya sangat lancang karena tak sopan dengan CALON ISTRI BIAN, anggap saja seperti itu. Bian hanya mengangkat alisnya sebelah dan berdecak kagum secara diam-diam tatkala Widya melawan Dinda yang sangat keras kepala dan banyak sekali air mulutnya, jujur Bian tak sanggup menghadapi wanita seperti Dinda. Tolong tenggelamkan saja Dinda ke Segitiga Bermuda. "Eh! Kau tak berhak untuk mengkritik diri ku!" Dinda berdiri dari tempat duduknya dan langsung melangkahkan kakinya menuju Widya. Tanpa diduga Dinda meraih rambut belakang Widya hingga gadis mungil bagi upil tersebut tersentak ke arah belakang. Widya tanpa rasa takut memilintirkan tangan Dinda. Akh! Raut wajah Dinda langsung memerah padam menyembunyikan rasa sakit akibat cekakan tangan Widya pada pergelangan tangannya. Bian tak menyeleksaikan mengunyahnya dan menyenderkan punggung lebar ke sandaran kursinya untuk melihat kelanjutan adegan aksi di depannya. "Lepaskan wanita tak tahu malu!" sentak Dinda. "Hei! Kau yang tak tahu malu ya! Datang tanpa beban untuk menjambak rambut orang lain! Dasar tak tahu malu kau!" balas Widya. Widya dan Dinda berdiri sambil berjalan mengarahkan ke arah pintu keluar, Bian dengan sigap membuka pintu ruangannya sendiri dan Widya langsung mendorong Dinda keluar ruangan hingga bantalan duduk Dinda mendarat dengan mulus di atas keramik. "Akh! Beraninya kau mengusir calon istri Bian!?" teriak Dinda. "Kau bukan siapa-siapa ku Dinda," ujar Bian. Kemudian, dirinya langsung menutup pintu dengan kasar tanpa mempedulikan karyawan yang sedang berkerumun melihat Dinda yang meraung seperti pasien rumah sakit jiwa. Sepeninggalan dari Dinda, Widya memberenggut dengan kesal dan duduk di sofa sambil mencebikkan bibirnya. "Habiskan makananmu itu," perintah Bian. "Sudah tak nafsu! Wanita itu sungguh tak tahu malu!" dumel Widya. Bian berjalan dengan pelan menuju Widya dan berjongkok di depan Widya, tangannya menjulur ke kepala Widya. "Maaf ya atas perilaku Dinda barusan," ujar Bian dengan tulus sambil mengelus surai Widya. Akibat perlakuan Bian yang sangat manis bagaikan gula membuat Widya mengerjapkan matanya berulang kali dan tak terasa irama jantung Widya berpacu lebih kencang hingga terdengar lebih jelas. "I-iya Kak." Bian lalu bangkit dari posisi semula. "Makan lagi makananmu! Aku akan pergi melihat karyawan yang lainnya." Sepeninggalan Bian, Widya menatap kosong pintu yang telah tertutup dengan rapat dia seperti sedang bermimpi mendapat perlakuan manis dari majikannya. Kemudian, dia segera menggelengkan kepalanya, dan segera mengenyahkan pikirannya yang mulai berjalan kemana-mana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN