Tertidur

1030 Kata
Bian langsung saja meninggalkan Widya dan dirinya juga merutuki tindakan yang dilakukan kepada asistennya itu. "Semoga saja Widya tidak terbawa perasy," batin Bian. Entah kenapa, dirinya sangat berbeda jika bersama gadis itu, seperti ada magnet tak kasat mata di antara mereka berdua. Sekarang, dirinya lebih memilih untuk melihat semua bagian regional di perusahaannya. Bagian ini sangatlah penting bagi perusahaan besar seperti milik Bian karena dibagian inilah yang berfungsi untuk melebarkan sayap perusahaan menjadi luas dan sekarang Bian pun sangat penasaran dengan kinerja karyawan bagian tersebut. Akan tetapi, sebelum dirinya masuk ke dalam ruangan dia melihat karyawannya asik bercengkerama satu sama lain, bahkan mereka sedang melahap makanan di depannya dengan santai padahal waktu belum menunjukkan waktu makan. Bian sedikit geram melihat akan itu, karena bagaimanapun karyawan memiliki tanggung jawab penuh dalam menjalankan roda perusahaan terlebih lagi mereka digaji lumayan tinggi. Secara kebetulan Bian mendengar ucapan mereka dan membuat hatinya sedikit nyeri dan bersalah kembali. "Kita sangat lelah karena telah diperdaya oleh perusahaan ini, padahal gaji segitu-gitu saja tidak pernah dinaikin. Kerja keras bagai kuda." Salah satu karyawan melontarkan keluhan disertai Kekehan diakhir kalimat. "Kau benar sekali kawan, mereka enak-enak makan makanan yang mewah sedangkan kita beli nasi bungkus saja rasanya sudah syukur banget," sahut karyawan yang lainnya. "Sudahlah, kita di sini bekerja bukan mengeluh. Kalian tahu sendiri kalau perusahaan ini sekarang sedang mengalami perubahan drastis, masih untung Pak Bian tak memecat kita saja," sela salah satu karyawan wanita. Bian tak tahan dengan ucapan tersebut, dirinya langsung mengurungkan diri dan berbalik. Akan tetapi, Widya yang sedari tadi berada di belakang Bian lantas tersenyum hangat dan jalan mendekati Bian. "Ayok, kita masuk bersama, dan menangani masalah di dalam," ajak Widya. "A-aku tidak bisa, aku cukup malu untuk menemui mereka. Gara-gara aku, mereka semuanya kelelahan," sesal Bian. Widya menggelengkan kepalanya. "Semua ini bukan kesalahan Kak Bian, percayalah dengan Widya karena bagaimanapun Kak Bian telah berusaha semaksimal mungkin untuk saat ini." Bian menghela napasnya kembali, lalu berbalik sambil menggenggam tangan Widya. "Loh? Kak Bian, Widya juga ikut ke dalam?" Bian hanya mengangguk lalu keduanya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. "P-pak Bian," sapa salah satu karyawan dengan terbata. Semua karyawan menoleh dan langsung bangkit dari tempat duduknya. "Pagi semua, saya di sini ingin melakukan pemeriksaan apakah kalian mempunyai permasalahan atau tidak?" tanya Bian. "Siapkan laporan kalian sekarang di atas meja, saya akan melakukan pemeriksaan dalam waktu sepuluh menit ke depan." Semuanya sibuk mengurus laporannya, jujur saja karyawan tak pernah melihat ekspresi Bian yang seserius ini karena biasanya Bian akan tersenyum ramah apapun keadaannya. Widya paham dengan keadaan Bian sehingga dia berinisiatif untuk menepuk pelan punggung besar di depannya. Bian yang diberlakukan seperti itu, langsung merasa sedikit nyaman walaupun pikirannya ingin meledak melihat tabiat karyawannya yang terlalu santai dalam bekerja. "Waktu telah habis." Bian mulai melangkahkan kakinya sambil menggenggam tangan Widya kembali. "K-kak Bian," cicit Widya karena merasa malu. "Widya, ikuti saja kemanapun aku pergi." Widya meneguk ludah sedikit kasar mendengar suara berat nan mendalam milik majikannya. "B-baik Kak." Mereka mulai melihat semua laporan yang diberikan oleh karyawan secara satu-satu. "Kenapa bagian ini kurang jelas?" Nada Bian sedikit meninggi kala melihat laporan yang tidak jelas secara reflek, Bian mempererat genggaman tangannya kepada Widya. Akibat dari itu, tangan Widya terasa remuk karena ukuran tangan Bian tak sebanding dengan milik Widya. Akan tetapi, Widya masih bisa memaklumi hal tersebut mungkin Bian butuh tempat menyalurkan emosinya. "M-maaf Pak Bian, saya salah dalam membuatnya." Karyawan tersebut menunduk dalam sambil menautkan tangannya. "Jangan hanya minta maaf saja, kau juga perlu memperbaiki ini semua! Saya gaji kalian untuk bekerja bukan mengeluh dan menjelekkan orang lain!" sarkas Bian. "M-maaf Pak, nanti saya perbaiki kesalahannya." "Sekarang! Saya butuh sekarang laporan ini!" Bian menatap tajam ke arah karyawan tersebut. "Ah iya, kalau ini belum selesai jam pulang kerja nanti maka kau harus membereskan semua barang-barangmu dan kau segera mengangkat kaki dari perusahaan." "B-baik Pak." Bian langsung melangkahkan kakinya menuju ke karyawan yang lain dan hal serupa terjadi lagi. Bahkan, ada juga yang tidak membuat laporan bulanannya. "Jadi saya ini memperkejakan orang mengeluh setiap harinya? Bahkan dengan bodohnya saya menggaji kalian?" Bian memijit pelipisnya dengan pening. "Kalian tidak tahu? Kecerobohan kalian membawa petaka bagi perusahaan bahkan kaliaam akan membawa semua karyawan ke jurang." "Sabar Kak." Widya menepuk bahu Bian. "Kalian orang-orang yang tak tahu malu! Intinya saya tidak mau tahu! Laporan ini harus selesai tepat jam pulang kerja dan laporan tersebut sudah ada saya terima. Jika kalian tidak mengumpulkan, resiko tanggung sendiri." Langsung saja Bian meninggalkan ruangan dengan Widya yang tetap menggenggam tangan Bian. Dia lebih memilih untuk masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kerjanya. "Widya pijit ya Kak," tawar Widya. Bian tak menyahut dia hanya menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi sambil merebahkan kepalanya. Widya hanya tersenyum kemudian mulai memijit dengan pelan. Bian yang merasa sedikit relaks segera memejamkan matanya, Widya pun paham langsung menjauhkan dirinya. Namun, satu hal yang tak terduga Bian malah menarik tangan Widya hingga dirinya duduk dipangkuan Bian. "K-kak Bian," cicit Widya. "Diam Widya, saya butuh istirahat." Bian langsung memeluk badan mungil di depannya sambil menyembunyikan wajah ke belahan gunung kembar milik Widya. Awalnya Widya merasa tak nyaman dengan posisi yang lumayan intim tersebut tapi dirinya juga merasa sangat kasihan dengan Bian. Akhirnya, Widya memutuskan untuk ikut memeluk Bian dan sedikit memberikan tepukan ringan agar Bian tertidur. "Widya, aku sangat kelelahan dan ingin tertidur," ujar Bian dengan suara parau. "Ya sudah, Kak Bian tidur saja ya." Widya langsung bangkit dari pangkuan Bian tapi hal tersebut tak terjadi karena Bian menahan pinggulnya. Bian langsung saja bangkit dengan Widya yang ada di gendongannya. Dia melangkahkan kaki menuju kamar pribadi yang ada di ruangannya tersebut setelahnya dia merebahkan badannya dengan Widya di sampingnya. "Kak Bian, aku keluar dulu." Bian mencekal tangan Widya dan menarik tangannya. "Diam di sini, aku butuh teman saat tertidur." Bian langsung saja memeluk badan Widya. Jangan tanyakan bagaimana ekspresi gadis mungil itu sekarang, guratan merah muncul secara tiba-tiba di kedua pipinya dan segera mungkin dia sembunyikan hal itu kepada Bian. Tak lama kemudian, mereka berdua terlelap dengan tenang dan tanpa sepengetahuan mereka ada seorang wanita paruh baya yang tersenyum hangat di pintu kamar pribadi Bian yang tak lain adalah Suci. "Selamat tidur kalian," bisik pelan Suci di ambang pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN