Silau matahari sore berhasil membangunkan tidur siang Widya yang sangat nyenyak, lalu tangannya pun meraba tepat tidur yang ada di sampingnya, dan ternyata kosong.
Lantas, Widya langsung saja beranjak karena secara tiba-tiba hatinya merasa tak enak. Kemudian, dia pun segera mencari Bian ke sudut ruangan.
Napasnya terengah-engah, Widya belum menemukan Bian saat ini di ruangannya. Bahkan, kamar mandi pun tak ada sehingga membuat Widya harus memutar otaknya untuk mencari Bian.
Kemudian, matanya tak sengaja melihat sapu tangan Bian tergeletak begitu saja di pantai dengaj berlumuran darah. Hati Widya semakin risau, dan hatinya menjadi kalut. Kemudian, dia pun keluar dari ruangan untuk mencari Bian. Akan tetapi, keadaan kantor sudah sepi karena sekarang telah menunjukkan pukul enam sore.
"Loh? Mbak? Pak Bian dimana ya?" tanya salah satu karyawan bagian regional.
"E-eh anu Pak," jawab Widya dengan terbata-bata.
"Gini Mbak, saya mau memberikan laporan ke Pak Bian tapi beliaunya tak ada dari tadi di mejanya."
"Ya sudah, berikan saja ke Widya, Pak. Nanti akan dikonfirmasi ke beliau." Karyawan tersebut mengangguk kepalanya lalu menyodorkan tumpukan laporan kepada Widya.
"Terima kasih ya Mbak." Widya mengangguk kepalanya lalu masuk kembali ke ruangan Bian dan untungnya dia sudah menghapal sandi ruangan tersebut sehingga dia dengan leluasa untuk masuk.
Baru saja satu langkah Widya masuk ke dalam ruangan Bian, dia dapat melihat Bian yang berjalan sempoyongan ke arah mejanya dengan darah yang berceceran di lantai.
Refleks, Widya menjatuhkan semua laporan tersebut dan berlari menghampiri Bian. "Kak Bian," panggil Widya.
Bian tak menyahut, tapi memilih untuk memejamkan mata merasa sangat kelelahan. Widya segera meraih tangan Bian dan meringis melihat lengan yang banyak sayatan hingga membentuk pola abstrak.
"Kak Bian, hiks." Widya tak kuasa menahan air mata tatkala darah yang mulai mengucur dengan jelas dari sela luka sayatan tersebut.
Kelopak mata Bian terbuka dengan lebar, lalu menatap Widya yang masih saja sesegukan sambil membersihkan luka tersebut.
"Jangan nangis, ini bukan salah kau." Bian menyeka air mata yang berada di atas pipi Widya.
"Widya sudah berulang kali ngomong sama Kak Bian, kalau lagi ada apa-apa cerita ke Widya bukan malah nyakitin diri sendiri kayak gini!?" Suara Widya meninggi tak tahan untuk tak mengeluarkan isi hatinya.
Bian terkekeh dengan geli dalam keadaan tegang seperti ini. "Kau tak tahu apa-apa anak kecil." Dia menjentikkan jari ke dahi Widya.
Widya mengadu sambil mengelus lembut dahinya. "Jangan panggil aku anak kecil paman!" Bian tergelak saat Widya meniru suara dari film kartun yang sering dia tonton akhir-akhir ini.
"Awas saja Kak Bian masih melakukan ini!" ancam Widya lagi.
Bian terkekeh geli melihat Widya yang sangat protektif dengan dirinya. "Gak janji!" kekehnya.
Widya hanya mencebikkan bibirnya dengan kesal lalu melanjutkan kegiatan untuk membersihkan luka-luka yang ada di tangan Bian.
"Gimana kalau kita ke psikiater? Biar pikiran Kakak jadi tenang gitu," tawar Widya.
"Gak usah, percuma," jawab Bian.
"Setidaknya Kakak bisa mengeluarkan isi pikiran dan hati mungkin," jelas Widya lagi.
"Aku pernah melakukan itu, tapi ujung-ujungnya rasa bersalah aku tak kunjung usai. Entahlah, aku merasa penyebab kematian seseorang." Bian mulai terbuka sedikit mengenai kehidupannya, Widya hanya diam saja untuk mendengar ucapan Bian lagi.
"Aku menyesal karena sifat kekanak-kanakan mengambil keputusan yang membuat orang lain kecewa kepadaku bahkan orang itu mengalami kematian yang sangat tragis."
"Lalu?" tanya Widya.
"Tentu saja orang itu kecewa denganku, seandainya dulu aku memaafkan dirinya, pasti dia masih hidup dan menikah denganku."
"Emang alasan Kakak ambil keputusan itu apa?" tanya Widya yang mulai penasaran.
"Dia menduakan aku, padahal waktu pernikahan kami tinggal seminggu lagi." Bian memijit pelipisnya dengan pening. "Bisa jadi jikalau kami menikah pasti telah memiliki anak yang lucu," kekeh Bian.
Widya menghembuskan napasnya dengan lelah dan lumayan berat juga cobaan yang menimpa majikannya ini.
"Bukankah hal itu adalah hal yang wajar dilakukan oleh seseorang saat kecewa dengan pasangannya?"
Bian tak menjawab dan ternyata dia lebih memilih untuk memejamkan matanya. Widya hanya bisa mendengkus dengan sebal. Dia tahu kalau Bian saat ini sedang menghindari topik pembicaraan yang lumayan sensitif ini. Akhirnya, mau tak mau Widya harus menelan rasa penasarannya dan berakhir melanjutkan kerjaan mengobati luka Bian.
Widya sangat penasaran, sepertinya Bian memiliki koleksi benda tajam yang sangat banyak. Lihatlah sekarang, luka disekujur tubuhnya didapatkan dari mana kalau tidak dengan benda tajam? Padahal seingat Widya, sebelum makan dia telah mengumpulkan semua benda tajam di ruangan tersebut.
Akan tetapi, atensi Widya teralihkan ke pintu yang terbuka di sebelah selatan ruangan. Sepertinya Bian keluar dari ruangan itu. Tanpa menunggu lama, dia pun melangkahkan kaki kecilnya ke pintu tersebut.
Dalam sekejap, Widya sangat terpana dengan isi dari ruangan ini. Bagaimana tidak? Di dalam sana terdapat jejeran buku-buku yang sangat rapi dengan satu kursi baca di sudut ruangan. Kemudian, tatapan Widya teralihkan ke bingkai foto yang sengaja di balik.
Tangannya menjulur ingin mengambil foto tersebut, tapi belum sempat mengambilnya, Bian terlebih dahulu mengambil foto tersebut.
"Ngapain sih?" tanya Bian dengan kerutan di dahi.
"Pengen baca buku," cengir Widya.
"Ada-ada saja kelakuan anak kecil ini." Bian menggelengkan kepalanya sambil menjentikkan jari ke dahi Widya.
"Aduh, Kak Bian!" Widya masih saja mengusak dahinya dengan cemberut.
"Udah, kita keluar saja." Bian mendorong badan mungil Widya untuk keluar dari dalam ruangan.
Setelah itu, mereka pun membenahi diri untuk pulang. "Kak, ini laporan dari karyawan bagian regional tadi," ujar Widya.
"Taruh saja di situ, besok saja diperiksa." Widya mengangguk kepalanya mengerti.
"Widya saja yang menyetir, Kakak pasti kecapekan."
Bian mengernyitkan dahinya. "Emang anak kecil seperti kau ini sudah bisa menyetir?" ledek Bian.
"Bisa dong," ujar Widya dengan bangga.
Akhirnya, saat pulang pun Widya yang menyetir dalam perjalanan keduanya pun tak saling angkat bicara karena sibuk dengan dunia masing-masing.
"Widya, gimana kalau kau melanjutkan pendidikan?" tanya Bian.
"Sepertinya tidak perlu Kak, aku sekarang sedang fokus untuk menyembuhkan mama saja. Masalah kuliah nanti saja. Lagi pula, untuk belajar tak harus di kampus kan? Yah, ada banyak cara untuk berilmu."
"Kenapa?" tanya Bian.
"Pertama karena biaya dan kedua aku tak tahu harus mengambil jurusan apa."
"Kalau masalah biaya, aku saja yang tanggung. Untuk jurusan, ambil saja sesuai keinginan kau."
"Terima kasih sebelumnya, Kak. Akan tetapi, Widya sudah cukup merepotkan Kakak, masih syukur Kakak mau nampung aku dan diberi makan."
"Pikirkan saja tawarkan aku tadi." Widya tak menjawab.
Tak terasa, mobil pun telah masuk ke dalam parkiran apartemen milik Bian. Keduanya pun jalan beriringan dengan Widya yang berjalan di belakang Bian.