Sesampainya di parkiran, Bian dan Widya berjalan beriringan untuk masuk ke dalam apartemen. Tiba-tiba Widya dan Bian mengernyitkan dahi bersamaan saat mereka telah melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan lalu mereka saling memandang. Akan tetapi, Bian langsung mengangkat bahunya dan menuju Suci yang sedang asyik memasak di dapur.
"Mama kapan ada di sini?" tanya Bian.
"Sejak anak mama yang keras kepala keluar begitu saja dari rumah sakit padahal kesehatan yang dimilikinya belum pulih," jawab Suci dengan ketus.
Bian terkekeh sambil melirik Widya untuk meminta pertolongan. Widya hanya mengangkat bahunya dengan acuh lalu berlalu meninggalkan Bian dengan wajah tak berdosa.
"Awas kau ya," decak Bian dengan pelan.
Suci membolakan matanya lalu memutar badannya untuk melihat anaknya. Suci mendongakkan kepala karena Bian yang terlalu tinggi. "Kau ngomong apa, ha!?" Dia berkacak pinggang dengan satu tangan memegang spatula.
"A-anu Ma, aku gak ngomong sama Mama kok." Bian menggaruk kepalanya dengan kikuk.
"Terus sama siapa?" tanya Suci dengan galak.
"A-anu itu sama W-widya." Bian menoleh ke arah tempat Widya berada, tapi Widya sudah tak ada di tempat. "Duh itu anak kemana lagi?" tanya Bian dengan lirih.
"Tidak perlu kau mengalihkan pembicaraan," ujar ketus Suci.
"Ma, tadi beneran ada Widya," jawab Bian.
"Mama tak melihat batang hidung anak itu, tak usah bawa orang lain."
Bian memijat pelipis yang pening sekali. "Ma, aku capek jangan berdebat sekarang."
Belum juga Bian melangkahkan kakinya ke ruangan lain Suci menyahut. "Sudah berapa kali Mama katakan, kau harus sembuh dulu baru keluar dari rumah sakit! Lihatlah Jack dan Widya selalu saja kerepotan dengan urusanmu! Kau tak malu, sudah kepala tiga masih saja bersifat seperti bocah ingusan!" omel Suci.
"Widya dan Jack aku bayar Ma, tak perlu risau masalah itu," jawan Bian dengan santai.
Suci melotot saat mendengar perkataan Bian yang terlalu santai lalu detik berikutnya menoyor kepala anaknya hingga Bian yang tak siap langsung mundur ke belakang. "Mama sudah bilang ke kau berapa kali, ha!? Lupakan Zizi dan hiduplah dengan tenang. Kau tak punya tanggung jawab apapun mengenai hidup atau matinya seseorang. Wajar kalau kau memutuskan untuk menyudahi pertunangan konyol itu karena dialah yang menyulut api duluan. Mama pusing, khawatir melihat anak mama satu-satunya masih bergeming dengan masa lalunya."
Suci menarik napas dalam-dalam, menahan sesak di relung hatinya. "M-mama, tak mau kalau anggota keluarga satu-satunya akan pergi dari mama. Kau tak lihat bagaimana mama berusaha membesarkan dirimu setelah kepergian mendiang papa? Kau sangat jahat, Nak! Sangat jahat karena membuat wanita tua ini selalu dilingkupi dengan rasa bersalah dalam hatinya," isak tangis Suci terdengar sangat pilu.
Bian merasa tercekat dengan curahan hati seorang Suci yang terkenal tabah dan tegas yang mana sekarang sedang meluruhkan semua bendungan air mata yang dia tahan bertahun-tahun silam.
"Maafkan Bian, Mama. Aku janji akan menjadi anak yang baik buat Mama nantinya." Bian menarik pelan badan ringkih Suci untuk masuk ke dalam pelukannya. Suci masih terisak sambil memukul pelan badan kekar anaknya.
"Kau terus saja berkata maaf, tapi tetap saja mengulang kesalahan yang sama." Suci menguraikan pelukannya dari Bian lalu mendongakkan kepalanya kembali. "Mama, sudah cukup tua untuk mencampuri urusanmu, Nak. Saran Mama, lupakan saja yang pantas dilupakan, berdamailah dengan keadaan, maafkan semua orang tekhusus dirimu sendiri. Ceritalah dengan Mama kalau kau memiliki masalah, Mama tetap akan ada untukmu."
"Ma, terima kasih atas segalanya." Bian terduduk lemas sambil memeluk lutut Suci. Sungguh, Bian merasa sangat bersalah membuat Suci khawatir kepadanya.
"Sudahlah, kau kembali ke kamar untuk membersihkan diri."
Bian mengangguk kepalanya dan bangkit dari posisi semula lalu dia mengecup satu pipi Suci. Kemudian dia pun melangkahkan kakinya menuju kamar.
Widya yang berdiri di balik pintu dapur pun ikut terisak pelan saat mendengar perjuangan dari seorang Suci dalam membesarkan Bian seorang diri. Dia pun merasa sangat iri dengan Bian karena adanya seorang ibu yang selalu memperhatikannya, jujur dirinya sangat merindukan sosok ibunya yang masih terbaring di rumah sakit.
Akan tetapi, dirinya segera pergi dan mulai menyeleksaikan pekerjaan rumah dan takut ketahuan oleh Bian karena dirinya telah menguping pembicaraan.
Widya pun masuk ke dalam dapur untuk membantu Suci. "Tante, ada yang bisa dibantu?" tanya Widya.
Suci berbalik lalu tersenyum ramah ke Widya. "Tak perlu, kau nampak kelelahan sekarang. Istirahat saja dan maafkan anak Tante yang selalu bikin kau repot, anak itu hanya besar di badan saja tidak dengan akal pikirannya yang masih kekanak-kanakan."
"Tak masalah Tante untuk itu lagi pula ini sudah menjadi tugas Widya untuk menjaga Bian."
"Shttt. Pelankan suaramu Widya, Tante tak mau Bian mendengar pembicaraan kita," bisik Suci.
Widya menutup mulutnya karena keceplosan. "Baiklah, kita akan berbisik-bisik saja." Keduanya cekikikan.
"Tante sedang masak apa?" tanya Widya.
"Tante sedang memasak soto ayam kesukaan Bian." Suci masih asyik untuk memotong semua bahan-bahan makanan yang ada di depannya.
"Widya ingin membantu Tante untuk memasak. Widya tak menerima penolakan Tante."
"Baiklah, kau bantu potong-potong yang mudah saja," jawab Suci.
Suci dan Widya pun saling membantu dalam memasak sekarang dengan senda gurau khas parawa wanita pada umumnya.
Setelah selesai menyelesaikan masakannya, Widya langsung menata dengan rapi masakan tersebut ke atas meja. Bian pun secara kebetulan telah keluar dari kamarnya dengan pakaian rumah.
"Harum sekali masakannya," puji Bian.
"Tante Suci yang membuatnya, aromanya menggugah selera," timpal Widya.
"Ayok kita makan, pasti kalian lapar sekali," ajak Suci.
"Aku sepertinya tidak makan soalnya mau bersih-bersih rumah terlebih dahulu, silakan Tante dan Kak Bian melanjutkan makan terlebih dahulu," pamit Widya.
"Widya, makanlah bersama kami," cegat Bian.
"Maaf, tapi aku sadar diri hanya asisten rumah tangga di sini. Tak baik jika ikut nimbrung bersama kalian."
"Entah itu majikan ataupun asisten rumah tangga, semuanya sama dimata Allah." Suci tersenyum lembut ke arah Widya. "Tak masalah, ikutlah bersama."
***
Usai makan bersama, Widya langsung saja merapikan piring-piring kotor sedangkan Suci dan Bian masih duduk di meja makan.
"Ma, sepertinya sudah malam. Ayok, Bian antar saja, takut kenapa-kenapa di jalan."
Suci mengangkat alisnya sebelah. "Kau ngusir Mama?" tanya Suci dengan ketus.
"B-bukan, aku hanya berniat baik saja."
"Mama tidak akan pulang, selamanya akan menginap di sini. Ditambah lagi tak baik jika kalian berdua satu rumah." Suci bersedekap d**a. "Lagian, apartemen ini masih memiliki satu kamar kosong kan?"
"Mama sudah pasti bakalan menginap?"
"Bahkan Mama sudah membawa seluruh baju." Bian hanya menghela napas dengan lelah, biarkan saja mamanya itu. Ingin menolak juga bakalan salah, dirinya malas untuk beradu mulut dengan Suci.