Merindu

1037 Kata
Setelah perdebatan yang dilakukan oleh Suci dan Bian yang mana kita ketahui bersama kalau Sucilah yang akan menang sehingga Bian dengan berat hati menerima kedatangan Suci untuk sekarang dan masa yang akan datang. Widya tentunya merasa senang karena dirinya akan ada teman wanita untuk bercengkrama seputar makanan ataupun gosip tetangga. Akhirnya, mereka bertiga kembali ke kamar masing-masing karena merasa lelah. Beda halnya dengan Bian yang mana dia lebih memilih untuk masuk ke dalam ruangan rahasia dengan pintu akses melalui lemari baju. Yah, dirinya khusus membuat kamar tersebut dengan tujuan menenangkan diri sendiri. Ruangan yang tak cukup besar tapi nyaman untuk bersantai. Di dalam sana, Bian membuat ruangan dengan nuansa yang tenang dengan banyak buku berjejer di lemari. Akan tetapi, di sebelah kanannya sekarang, penuh dengan bingkai foto yang menempel di dinding. Foto akan kenangan yang manis dan juga menyakitkan dirinya. Bian pun melangkahkan kakinya menuju deretan foto tersebut dan berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana. Dia sekarang menatap foto tersebut sambil mengukir senyum tapi wajahnya kembali tampak sendu dan meneteskan beberapa bulir air mata. Tangannya menjulur ke salah satu foto dan mengelus lembut foto tersebut. Foto tersebut menampilkan sepasang pasangan yang tersenyum sumringah yang mana wanitanya menyenderkan kepalanya ke bahu laki-laki. "Aku merindukan dirimu, Zi. Apa kabar di sana? Aku di sini tak baik saja-saja tanpamu." "Maafkan aku, maafkan. Aku tak bisa menjaga kau karena keegoisan dan sifat gegabahku." Bian membekap mulutnya dan badannya mulai bergetar menahan tangis yang sangat pilu dari lubuk hatinya. Detik kemudian, tangan kanannya memegang jantung dengan pernapasan yang tidak teratur. Dia merasa kesakitan dan tergelepar begitu saja di atas lantai dingin kamar. "Aku menyayangimu, Zi. Entah sampai kapan itu, yang pasti aku sayang denganmu." Bian mulai merasa sangat susah bernapas lalu, dia mulai meraba kantong kanannya dan mengeluarkan botol kecil yang berisikan beberapa pil. Kemudian, tanpa meminum air, dia langsung menegak pil-pil tersebut ke dalam mulutnya. Setelah itu, pernapasannya mulai normal kembali dan dia lebih memilih untuk menelentangkan badannya. "Zi, kau tega meninggalkan aku. Padahal kau tahu sendiri kalau aku sangat mencintaimu. Kau lebih memilih untuk berjalan dengan laki-laki tak tahu malu itu. Apa kurangnya aku, ha!? Apa!!! Aku juga memiliki kekayaan yang berlimpah! Aku juga pemimpin sebuah perusahaan! Apapun yang kau inginkan akan aku penuhi! Kau pengkhianat, Zizi! Pengkhianat! Akh!" Bian teriak begitu saja di dalam kamar itu tanpa peduli jika orang lain mendengarkannya dengan melempar botol kecilnya ke arah foto yang bertengger di atas meja sehingga kaca dari foto tersebut mulai retak. Bian bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan ke arah laci yang memiliki dua pintu. Dia pun membuka pintu laci bagian atas dan mengeluarkan pisau kecil yang sangat tajam lalu mulai mengarahkan ke salah satu tangannya yang bebas. Darah mulai mengucur dengan deras dari lengannya yang masih memiliki luka yang sangat basah. "Semuanya tak adil bagiku! Semesta ini selalu mempermainkan diriku! Aku membencinya!" Belum juga puas menyakiti diri sendirinya, Bian langsung mengambil botol minum yang berisikan setengah cairan yang berwarna biru pekat yang memiliki aroma yang sangat wangi seperti cairan pembersih baju. Kemudian, dia tanpa menunggu lama langsung saja menegak cairan tersebut hingga kandas. Akibat dari cairan tersebut langsung saja Bian sempoyongan tapi dirinya masih bisa mengendalikan dirinya sendiri. Kemudian, dia keluar dari kamar dan berusaha membaringkan dirinya di atas kasur. "Semoga aku tertidur selamanya," batin Bian. Detik kemudian, dirinya pun mulai memejamkan matanya dengan lelap karena merasa lelah dengan semua kehidupannya. Di tempat yang berbeda, tepatnya di negara yang terkenal dengan seni dan modenya. Seorang wanita seksi dengan pakaian kurang bahannya sedang berlayut manja di salah satu tangan laki-laki yang berperawakan tinggi. "Sayang, aku mau tas terbaru dari brand terkenal itu." Wanita tersebut menunjukkan salah satu tas yang memiliki kualitas bagus di layar benda pipih canggihnya. "Apapun untukmu, sayang." Laki-laki itu langsung saja saja mencium puncak kepala wanita tersebut. "Tapi sebelumnya mungkin kau perlu memenuhi syarat yang akan aku berikan kepadamu." "Aku akan bersedia, apapun itu," bisik wanita itu sambil berbisik dengan sensual. "Benarkah?" tanya laki-laki itu. "Hu'um. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan." Wanita itu langsung membelai d**a bidang laki-laki tersebut berniat untuk menggoda. "Adik kecilku menginginkan dirimu sekarang. Apa kau bersedia memuaskannya sekarang?" tanya laki-laki itu memelas. "Apa!? Adik kecilmu memang tak akan pernah puas, selalu saja memintanya lagi dan lagi," kekeh wanita itu sambil merayapkan tangannya ke benda pusaka yang sudah mengacungkan sedari tadi. "Zizi," lenguh laki-laki itu. Zizi, wanita yang selalu disebutkan oleh Bian saat sendirian. Wanita mantan tunangan Bian sebenarnya tak meninggal dalam kecelakaan tersebut. Dia lebih melarikan diri dengan selingkuhannya ke luar negeri demi uang dan barang berkualitas tinggi dan Zizi bersedia membaringkan diri untuk dicicipi tubuhnya oleh laki-laki tersebut. Zizi pun langsung saja bangkit dan duduk di antara dua tungkai laki-laki tersebut dan segera membuka kain pembungkus sehingga menampilkan benda pusaka yang sangat gagah. Dia menjilat bibirnya dengan sensual dan itu membuat laki-laki mana saja meningkatkan birahinya. Kemudian, dia mengarahkan mulutnya dan mulai membelai ujung benda pusaka tersebut sambil memandang laki-laki di bawahnya yang sedang merem melek menahan gejolak kenikmatan yang menampar dirinya. "Sayang, aku tak tahan." Laki-laki itu langsung saja menarik badan ramping Zizi dan segera membalik badannya dan membuka lebar tungkai Zizi sehingga menampilkan lembah hangat yang sangat menggiurkan untuk dicicipi. Laki-laki itu langsung saja merobek baju tipis yang dikenakan oleh Zizi sehingga menampilkan badan putih mulus yang tak mengenakan segitiga bawah dan atas. Tanpa basa-basi lagi, dia mengarahkan mulutnya ke salah satu puncak gunung yang dimiliki Zizi dengan satu tangan di puncak gunung yang menganggur dan tangannya yang bebas memainkan lembah hangat yang telah basah sedari tadi. "Nikmat, Hendrik. Nikmat sekali," lenguh Zizi. "Sebut namaku, Zizi. Sebutlah! Suaramu sangat seksi," ujar laki-laki yang bernama Hendrik. "Hendrik, ayok aku sudah tak kuat," lenguh Zizi. "Kau mau ini?" Hendrik mulai menekan benda pusaka dengan lembah hangat milik Zizi. "Ya, ya. Aku sangat menginginkannya memuaskan diriku, Hendrik." Hendrik terkekeh lalu segera memasukkan benda pusakan tersebut lalu segera menggoyangkan pinggulnya dengan pelan. Secara perlahan-lahan dia mulai menggoyangkan dengan keras dan brutal hingga. "Aku sampai Hendrik," ujar Zizi. "Bersama, Zi." Keduanya pun menyudahi olahraga ranjang mereka, kemudian Hendrik menindih Zizi karena merasa lelah. "Aku menyukaimu, Zi. Sungguh!" ujar Hendrik. Zizi tak menjawab lebih memilih untuk mengecup lembut dahi laki-laki yang ada di atasnya. Keduanya pun memejamkan mata karena kelelahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN