Hendrik

1013 Kata
Warning 21+ Keesokan harinya, Zizi dan Hendrik masih bergelung di bawah selimut tebal karena cuaca yang dingin serta masih kelelahan setelah melakukan kegiatan ranjang hingga menjelang subuh. Yah, keduanya benar-benar kuat. Tak berselang lama, Hendrik membuka kedua kelopak matanya lalu melihat jam weker yang ada di atas nakas. Ternyata jam telah menunjukkan tepat pukul sepuluh pagi. Hendrik pun segera bangkit dan membersihkan diri ke kamar mandi dengan keadaan yang tak tertutupi sehelai benang pun. Kemudian, setelah selesai dia langsung menghampiri Zizi yang masih terlelap dengan handuk yang telah tersampir di bagian pinggangnya. Dia pun duduk di tepi ranjang sambil mengelus lembut puncak kepala dari wanita di depannya. "Aku sangat mencintaimu, Zi. Akan tetapi, aku lebih mencintai dendam aku ke Bian. Jadinya, aku akan menggunakan kamu sebagai alatku," batin Hendrik. Detik kemudian, karena merasa ada yang mengelus kepalanya, kelopak mata Zizi menjadi terbuka dan tersenyum hangat ke Hendrik. "Kau bangun pagi rupanya," ujar Zizi dengan serak khas orang bangun tidur. "Iya, soalnya aku terburu-buru akan ke kantor," jawab Hendrik dengan senyuman. "Apa ada masalah dengan perusahaan milikmu?" Zizi langsung bangkit dari tempat tidur dengan membenarkan selimut agar menutupi bagian gunung kembarnya. "Tak ada, hanya melakukan pengawasan saja." Hendrik menjawab sambil menatap lapar gunung kembar yang sangat menggiurkan di depannya. "Zizi, aku akan pergi ke Indonesia. Apakah kau ingin ikut?" tanya Hendrik. "Apakah aku harus ikut?" Ada nada tak suka dari Zizi, tapi dia berusaha untuk tetap memancarkan senyuman hangat kepada Hendrik. "Tentu, sayang. Aku tak bisa jauh dari ini." Hendrik mengulurkan tangan membelai hingga meremas dengan lembut gunung kembar milik Zizi. "Aku juga tak bisa jauh dari ini," ujar Hendrik sambil membelai lembah hangat milik Zizi. "Masih pagi, Hendrik. Aku lelah," keluh Zizi. Tanpa merespon kembali, Hendrik langsung saja memajukan wajahnya hingga kedua bibir itu mulai berpagutan dengan lembut yang berubah lama-lama menjadi kasar hingga keduanya mengulang kembali kegiatan olahraga yang membakar kalori hasrat mereka masing-masing. "Pelan-pelan," rintih Zizi. "Kau sangat nikmat, Sayang." Hendrik memberikan beberapa bercak keunguan di sekitaran leher Zizi. "Hendrik, ini sangat enak." Zizi menikmati sentuhan halus nan sensual yang diberikan Hendrik di lembah hangat miliknya. "Sayang, aku sudah tak tahan lagi ingin memasuki lembah hangat milikmu," ujar Hendrik dengan geraman. "Lakukan apa yang kau mau Hendrik, aku milikmu." Hendrik pun mulai memasukkan benda pusakanya kembali ke lembah hangat milik Zizi yang terasa sangat semput dan legit. Zizi meremat hingga mengeluarkan lenguhan dengan menyebutkan nama Hendrik berulang kali. Dirinya sangat menyukai saat Hendrik dengan ganasnya menggauli dirinya. Hendrik pun tak tinggal diam, tangannya merambat ke segala arah salah satunya ke gunung kembar milik Zizi. Dia bahkan seperti anak kecil yang kehausan dan menemukan sumber energinya. Tentu saja, Zizi dengan senang hati menerima perlakuan Hendrik. Kemudian, Hendrik dengan gagah menggerakkan pinggulnya dengan keras di atas Zizi yang terlihat sangat pasrah dengan posisi terlentang. "Aku akan sampai Zi," erang Hendrik. "Bersama Hendrik, bersama," racau Zizi. Pada akhirnya keduanya pun mengeluarkan cairan cinta masing-masing. Namun, Hendrik yang masih menginginkan tubuh Zizi langsung saja menggerakkan pinggul kembali hingga keduanya pun mengarungi nikmat duniawi tanpa mempedulikan sekitarnya. *** Kembali ke kediaman Bian yang sedang heboh. "Haduh, Bian! Kok di sini gak ada makanan apapun yang bisa dimasak sih!" Suci di pagi yang buta masih saja mengomel karena telah lelah membuka seluruh lemari penyimpanan yang berisikan angin saja. "Kenapa ya Tante?" tanya Widya yang tiba-tiba masuk ke dalam dapur. "Ini loh, kenapa gak ada makanan mentah yang bisa dimasak? Kamu belum belanja ya?" tanya Suci. "Hehe, iya Tante. Soalnya kemarin baru saja pulang eh terus bahan makanan langsung habis," cengir Widya. Suci menghela napasnya dengan kasar. "Kalau kayak gitu, beli saja sekarang bahan makanan. Untuk sarapan lebih baik kita beli saja," ujar Suci. "Maaf ya Tante," sesal Widya. "Tak apa, lebih baik kau pergi berbelanja Widya dan ini uangnya. Jika ada kembalian, ambil saja untukmu." Widya mengangguk lalu segera mengambil uang yang disodorkan oleh Suci kepadanya. "Ya sudah, Widya berangkat dulu ya Tante," pamit Widya. "Hati-hati, Nak." "Tunggu Widya! Kau pergi denganku saja!" Bian baru saja membuka pintu kamarnya memperlihatkan dirinya yang masih seperti baru bangun tidur. "Loh? Baru bangun, Nak?" tanya Suci. "Iya, baru bangun, Ma. Tadi malam soalnya kelamaan tidur," cengir Bian. "Terus gak ke kantor? Kasihan tuh, si Jack. Tangan kanan tapi tugasnya sudah seperti CEO." Suci menggelengkan kepalanya dengan pusing melihat anaknya yang bertingkah seenaknya. "Aku pergi kok, Ma. Cuman agak lambat saja perginya," jawab Bian. "Ya sudah, tunggu aku ganti baju Widya." Bian langsung berbalik menuju kamarnya. "Widya, kenapa bengong gitu sih?" tanya Suci dengan penasaran. "Kok Kak Bian tumben pakai baju lengan panjang ya Tante saat tidur?" Bukannya menjawab, Widya bertanya balik kepada Suci. Suci mengalihkan tatapannya ke arah pintu kamar Bian, dia juga nampak berpikir ada yang menjanggal dari perilaku anaknya juga. Setahu dirinya, Bian tak akan tidur larut malam kalau tak memiliki keperluan genting serta anehnya lagi dia tetap menggunakan baju tidur dengan lengan pendek. Dheg Hati Suci merasa tak enak jadinya, mengingat anaknya itu memiliki penyakit mental yang cukup parah. Widya juga berpikiran sama, dia curiga tadi malam Bian melakukan hal yang aneh-aneh lagi. Akan tetapi, dia berusaha berpikir positif mengingat dirinya sebelum Bian pulang ke apartemen telah menyingkirkan semua benda tajam yang berpotensi fatal kedepannya. Tak lama kemudian, Bian langsung keluar dengan kaos lengan pendek yang mana kali ini dia menggunakan jaket denim. Widya dan Suci saling pandang dan kembali melihat Bian yang mulai mencurigakan. "Bian, tumben sekali pakai jaket? Bukannya sekarang panas ya!?" tanya Suci. "Oh itu, Bian hanya ingin menggunakan saja agar kelihatan seperti orang yang keren dan tampan." Bian memainkan alisnya dengan nakal. Suci menghela napasnya dengan lelah, percuma juga ingin memancing anaknya agar berkata dengan jujur. "Kak Bian, ayok kita pergi belanja," ajak Widya. Keduanya pun akhirnya berangkat dengan meningvalkan Suci sendirian di apartemen. Di dalam perjalanan, keduanya tak saling menyahuti dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sesampainya di pusat perbelanjaan, keduanya pun langsung memilih makanan yang ada di kertas belanjaan yang dibuat Suci sebelumnya. "Kak Bian, ada yang ingin dibeli kembali?" tanya Widya. "Tak ada, kalau sudah selesai lebih baik kita pulang saja." Akhirnya, keduanya pun langsung membereskan barang bawaan mereka dan pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN