bc

Kilau yang Membakar

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
one-night stand
family
age gap
second chance
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
serious
kicking
campus
city
office/work place
small town
friends with benefits
addiction
assistant
actor
like
intro-logo
Uraian

Alya Rakhmi selalu tahu bahwa hidup tidak akan memberi apa-apa jika ia tidak berjuang. Lahir dari keluarga sederhana di kampung kecil Jawa Tengah, ia mengubur mimpi masa kecilnya di bawah tumpukan kenyataan—ayah yang meninggal muda, ibu yang menjahit siang malam, dan adik yang masih sekolah.Berkat otaknya yang cemerlang, Alya diterima di kampus paling prestisius di Jakarta lewat beasiswa. Tapi hidup di ibukota bukan sekadar soal kuliah—itu tentang bertahan. Tentang bagaimana secangkir kopi yang ia seduh di café membawa pertemuan dengan seorang pria dewasa yang menawarkan segalanya yang tak pernah ia punya: keamanan, koneksi, dan kehidupan nyaman.Tapi semua kemewahan datang dengan harga. Dan kilau itu… pelan-pelan mulai membakar.Ketika masa lalu bertabrakan dengan masa depan, ketika rahasia mulai tercium oleh mereka yang tak seharusnya tahu, Alya harus memilih: tetap dalam gemerlap yang menyesakkan, atau berjalan keluar—walau mungkin sendirian dan penuh luka."Kilau yang Membakar" adalah kisah tentang ambisi, harga diri, pilihan-pilihan yang tak selalu hitam-putih, dan tentang cinta yang kadang hadir di saat yang salah.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 — Tiket Sekali Jalan
Hujan baru saja reda ketika kereta terakhir menuju Jakarta berangkat dari Stasiun Purworejo. Suara roda besi di atas rel yang berderit seperti gema dari hati seorang ibu yang baru saja melepaskan anak perempuannya ke dunia yang jauh lebih keras dari yang pernah ia bayangkan. Alya Rakhmi duduk sendiri di bangku nomor 16D, dekat jendela. Ransel biru tua yang sudah agak usang menjadi sandaran dagunya. Matanya masih menyimpan sisa tangis yang ia tahan sejak tadi. Tangis yang bukan karena takut, tapi karena sadar: ini adalah titik tanpa jalan kembali. "Ibu percaya kamu bisa jaga diri, Nak," begitu bisik ibunya sebelum Alya naik kereta. Tapi getar di suaranya mengkhianati air mata yang berusaha ditahan. "Ibu, doakan Alya. Suatu hari nanti, kita tinggal di rumah yang ada halaman. Ibu nggak perlu jahit malam-malam lagi, dan Rafi bisa sekolah sampai kuliah." Itu janji Alya, dan ia menanamnya seperti mantra di dalam d**a. Ia menatap keluar jendela, menyaksikan pepohonan dan rumah-rumah desa mulai berganti lampu jalan dan gedung tinggi. Jakarta tinggal beberapa jam lagi. Tapi bagi Alya, ibu kota itu terasa seperti planet asing. --- Dua minggu kemudian, dunia Alya berubah drastis. Kamar kontrakan kecil di daerah Tebet, bau sisa cat dan bocor di langit-langit, menjadi rumah barunya. Setiap pagi ia naik bus TransJakarta untuk ke kampus—Universitas Atma Bhakti, kampus swasta elit yang hanya bisa ia masuki karena beasiswa penuh dan nilai sempurna. Siang kuliah, malam bekerja. Ia diterima sebagai barista part-time di sebuah café bergaya industrial minimalis di Kemang. Tempat nongkrongnya orang kaya, katanya. Alya tak peduli. Yang penting uang masuk, bisa makan, dan tak menyusahkan ibunya. Sampai malam itu datang. --- Langit Jakarta sedang lembab, dan café mulai sepi ketika pria itu masuk. Setelan abu-abu armani, jam tangan mahal, dan sorot mata tajam. Tapi yang paling mencolok bukan penampilannya. Pria itu membawa aura. Bukan hanya kaya—tapi juga terbiasa memegang dunia. “Americano, no sugar,” ucapnya singkat. Alya membuatkan dengan tenang, seperti biasa. Tapi mata pria itu menatapnya lebih lama dari pelanggan lain. Seperti sedang membaca. "Nama kamu siapa?" "Alya, Pak." “Pintar ya kamu?” tanyanya sambil tersenyum kecil. “Bukan tipe yang seharusnya ada di balik mesin kopi.” Alya hanya tersenyum sopan. Ia sudah biasa dengan pelanggan sok akrab. Tapi pria ini beda. Ada keheningan yang tidak nyaman setelahnya. Seolah ia sedang ditimbang, bukan diajak bicara. Seminggu kemudian, pria itu datang lagi. Dan lagi. Kali ini, ia memperkenalkan diri. "Arsya. Arsya Wirawan." Senyumnya tajam, tapi suaranya halus. “Saya investor dan pemilik beberapa perusahaan. Kamu kuliah di mana, Alya?” "A—Atma Bhakti, Pak." “Hm, top-tier. Anak beasiswa?” Alya hanya mengangguk. “Kalau kamu butuh tambahan uang saku… atau pekerjaan yang lebih ‘bermanfaat’, kontak saya ya,” ucapnya sambil menyelipkan kartu nama ke sisi tempat tip jar. Malam itu, Alya menatap kartu nama itu selama berjam-jam. --- Hari demi hari, kelelahan mulai menghimpit. Biaya buku, transport, makan, dan kiriman ibu yang mulai menipis. Kamar kontrakan makin panas dan sempit. Alya mulai kalah pada kenyataan. Minggu berikutnya, ia mengirim pesan ke nomor di kartu itu. “Selamat malam, Pak Arsya. Ini Alya… dari café.” Balasannya cepat. “Bagus. Saya tahu kamu akhirnya akan memilih bertahan dengan cerdas.” --- Tiga bulan setelah itu, hidup Alya berubah drastis. Ia pindah ke apartemen studio yang nyaman, diberi akses bulanan untuk uang saku, bahkan laptop baru untuk menunjang kuliah. Tapi kesepakatan itu tidak tertulis—hanya dipahami. Arsya menemuinya kadang seminggu sekali, kadang dua. Tidak ada paksaan. Tapi hubungan mereka... bukan relasi biasa. Pria itu memperlakukannya seperti rahasia berharga. Bukan pacar. Bukan istri. Tapi juga bukan sekadar gadis yang ia bantu. Alya tahu ini bukan jalan yang ideal. Tapi siapa yang hidup di dunia ideal? Ia butuh koneksi, ia butuh kelulusan, dan ia butuh modal untuk memulai dari nol. --- Di kampus, Alya bukan siapa-siapa—dan sekaligus siapa-siapa. Wajah cantik, otak encer, dan gaya bicara tenang membuatnya masuk dalam geng kecil mahasiswa perempuan paling berpengaruh: Anindya, Tari, Meisa, Salsya, dan Alya sendiri. Mereka menyebutnya Geng Lima Cakrawala—karena katanya, masing-masing dari mereka punya dunia sendiri. Tapi satu hal yang Alya sembunyikan dengan mati-matian: bahwa Anindya, gadis tajir pewaris bisnis properti itu… adalah anak kandung dari pria yang kini menjadi pelindung rahasianya. Tiap kali Anindya bercerita tentang ayahnya yang “terlalu sibuk”, atau ibunya yang sedang terapi pernikahan di luar negeri, d**a Alya seperti diperas dari dalam. Tapi ia pintar menjaga sikap. Diam. Mengamati. Dan Rayhan. Rayhan adalah kakak dari Meisa. Ia mahasiswa magister arsitektur, sering datang ke kampus untuk menjemput adiknya. Sopan, santai, dan penuh perhatian. Terlalu perhatian, malah. “Alya, kamu kelihatan capek banget. Makan udah?” Atau, “Kalau mau bantuin cari referensi tugas, bilang aja. Aku punya jurnal lengkap di rumah.” Alya menanggapinya biasa. Ia tahu Rayhan suka padanya. Tapi ia juga tahu, ia bukan gadis biasa lagi. Ia menyimpan terlalu banyak rahasia. Rayhan terlalu bersih. Dan ia... terlalu berdebu. --- Suatu sore, saat ia dan Anindya duduk bersama di taman kampus, Anindya menatap ponselnya dengan geram. “Papa tiba-tiba cancel trip ke luar negeri. Katanya ada urusan kantor. Tapi feeling-ku bilang bukan itu.” Alya diam. Ia tahu betul "urusan kantor" itu apa—atau siapa. Anindya mendongak. “Alya, kamu tahu nggak… kadang aku ngerasa, papa bukan cuma sibuk kerja. Kayak dia nyimpen sesuatu.” Alya menelan ludah. “Kayak apa?” tanyanya pelan. “Kayak... dia punya perempuan lain.” --- Di saat itulah, Alya sadar—kilau yang selama ini ia nikmati, pelan-pelan mulai membakar. Dan jika ia tidak segera berhenti bermain api, semua akan hangus. Termasuk masa depan yang ia bangun dengan sangat hati-hati. ---

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook