Bab 2 — Di Antara Dua Dunia

1031 Kata
Matahari sore merayap pelan di sela-sela jendela kaca ruang kelas yang nyaris kosong. Alya menatap ke luar, seolah mencari udara segar di antara kepenatan hidup yang makin sempit. Sisa percakapan dengan Anindya tadi siang masih terngiang di telinganya. Kata-kata tentang dugaan perselingkuhan ayahnya membuat perut Alya mual—bukan karena takut ketahuan, tapi karena untuk pertama kalinya, ia melihat wajah Anindya yang rapuh. Padahal selama ini, gadis itu selalu tampak kuat dan berjarak. “Kamu tahu nggak, Alya,” ucap Anindya, suaranya lirih, “dari kecil aku sering lihat mama duduk sendirian di ruang makan. Papa pulang larut, bilang urusan kantor. Tapi entah kenapa, ada bagian dari diri ini yang tahu... itu bukan cuma kantor.” Alya tak sanggup menatapnya waktu itu. Ia hanya mengangguk pelan, lalu memeluk temannya dalam diam. Pelukan yang terasa lebih seperti permintaan maaf ketimbang penghiburan. --- Satu jam kemudian, di lobi kampus, Alya berjalan sambil memeluk map tipis berisi print tugas. Langkahnya terhenti ketika suara familiar memanggilnya. "Alya!" Rayhan. Pria itu berdiri di dekat motor sport-nya, mengenakan kemeja abu muda dan celana gelap, wajahnya bersih, senyumnya tulus. Tapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya—seperti ada yang mengganjal. "Kamu ke arah mana? Aku bisa anterin," tawarnya. Alya ragu. Ia biasa naik ojek online, dan Rayhan sudah beberapa kali menawari tumpangan, tapi ia selalu menolak dengan alasan ada urusan lain. Hari ini… ia kehabisan alasan. "Aku ke arah Tebet, tapi harus mampir ke toko buku dulu," jawabnya, setengah jujur. Rayhan mengangguk. “Pas banget, aku juga ke arah sana. Yuk, sekalian.” Di sepanjang perjalanan, tak banyak yang mereka bicarakan. Hanya obrolan ringan soal kampus dan tugas akhir. Tapi saat motor berhenti di depan toko buku, Rayhan bersuara pelan. “Boleh nanya jujur, nggak?” Alya menoleh, masih di atas jok motor. “Apa?” “Sekarang kamu tinggal di mana?” “Kenapa nanya gitu?” “Dulu kamu cerita tinggal di indekos kecil. Tapi belakangan aku lihat kamu turun dari mobil Fortuner hitam. Dua kali.” Alya terdiam. Rayhan menatap lurus ke depan. “Aku bukan mau ngehakimi, ya. Tapi aku khawatir. Kamu kelihatan makin capek. Dan... jujur aja, aku peduli.” Alya menarik napas panjang, mencoba menyusun jawaban yang tidak terlalu jujur tapi juga tidak sepenuhnya bohong. “Ada teman kerja yang baik, dia bantu aku. Nggak ada yang aneh, Rayhan. Aku cuma… lagi usaha bertahan.” Rayhan menoleh pelan. Pandangannya dalam. “Kalau kamu butuh tempat curhat—yang nggak bakal nilai kamu—aku ada.” Alya tersenyum tipis. “Terima kasih. Tapi aku baik-baik saja.” Mereka tidak bicara lagi setelah itu. Tapi dalam hati Alya, suara alarm mulai berdentang. --- Malam harinya, Alya duduk di depan cermin kecil di apartemennya. Rambutnya basah setelah mandi, wajahnya tanpa makeup. Di balik dinding, kota Jakarta berdengung dengan kesibukan yang tak pernah tidur. Ponselnya berbunyi. Nama “Pak Arsya” muncul di layar. Arsya: Besok sore ikut saya ke acara investor dinner. Pakai yang elegan. Saya kirim dress-nya besok pagi. Alya memandangi pesan itu lama. Lalu membalas singkat: Alya: Baik, Pak. Terkadang, perintah terasa seperti pelukan dalam bentuk lain. Arsya memang tidak romantis. Tidak manis. Tapi ia ada. Ia mengisi celah kebutuhan Alya akan stabilitas yang selama ini kosong. Tapi... semakin lama, Alya sadar ia bukan hanya dibantu. Ia juga digenggam. --- Keesokan harinya, apartemennya kedatangan kurir. Sebuah kotak panjang berisi gaun hitam satin berpotongan anggun, dan sepasang heels senada. Tidak lupa seuntai kalung dengan liontin mutiara putih. Alya memakainya di kamar mandi kampus, menyembunyikan dirinya dari teman-teman geng. Ia berbohong, bilang ada seminar malam dari fakultas ekonomi. Padahal ia naik mobil pribadi ke hotel bintang lima tempat jamuan makan malam digelar. Di ruangan itu, semuanya terasa asing dan menegangkan. Para pria bersetelan mahal, wanita-wanita dengan tawa palsu dan pandangan penuh penghakiman. Alya berdiri di samping Arsya, lebih seperti hiasan daripada rekan diskusi. Sesekali, Arsya mengenalkannya sebagai “asisten pribadi”. Tapi tatapan orang-orang terlalu pintar untuk percaya mentah-mentah. Mereka tahu. Mereka hanya tidak bicara. Di tengah acara, seorang investor wanita paruh baya mendekat. “Kamu... pasti mahasiswa, ya?” tanyanya. Alya tersenyum sopan. “Iya, Bu.” “Oh. Pasti anak yang ambisius. Dunia seperti ini... cepat atau lambat akan mengubahmu.” Perempuan itu lalu berlalu sambil mengangkat gelas wine-nya. Alya terdiam. Dunia seperti ini? Dunia apa, sebenarnya, yang sedang ia masuki? --- Malam itu, sepulang dari acara, Alya meminta diturunkan di blok depan, tak jauh dari apartemennya. Ia tidak ingin tetangga melihatnya turun dari mobil hitam dengan plat khusus. Arsya menatapnya dari kursi pengemudi. “Kamu mulai berubah,” katanya. “Berubah gimana, Pak?” “Lebih hati-hati. Lebih banyak diam.” Alya tersenyum hambar. “Mungkin saya mulai sadar... dunia ini banyak mata.” Arsya mengangguk. “Kalau kamu merasa keberatan dengan semua ini, katakan. Saya tak akan paksa.” Alya menatap pria itu. Bukan karena kata-katanya manis, tapi karena ia tahu: kebebasan itu hanya mitos. Saat seseorang sudah menggantungkan hidupnya pada orang lain, kata “pilihan” kehilangan makna. --- Keesokan harinya, di kampus, Rayhan muncul lagi. Tapi kali ini... ekspresinya tidak sehangat biasanya. “Boleh bicara sebentar, Alya?” Mereka berjalan ke taman belakang perpustakaan. “Aku tahu kamu akan marah,” kata Rayhan, “tapi aku nggak bisa diam. Aku tahu siapa itu ‘teman kerja’ kamu.” Alya membeku. “Aku nggak mengintai atau apa. Tapi aku lihat kamu turun dari mobil yang sama... yang kadang juga dipakai Pak Arsya.” Diam. “Aku tahu dia ayahnya Anindya.” Alya menelan ludah. “Aku cuma ingin kamu tahu,” lanjut Rayhan, “aku nggak akan bilang siapa-siapa. Tapi kalau kamu butuh keluar dari situasi itu... aku bisa bantu.” Alya menatap mata Rayhan. Di sana ada kejujuran, ada kasih sayang, tapi juga ada luka—karena dia tahu sesuatu yang tak seharusnya. “Aku tahu kamu nggak jahat, Alya. Tapi kamu juga tahu, ini... nggak benar.” Alya akhirnya berkata, lirih, “Kadang, untuk bertahan hidup, kita harus memilih jalan yang bahkan kita sendiri benci.” Rayhan menggenggam tangannya sebentar. Lalu melepaskannya. “Kalau kamu jatuh... aku masih akan ada di sini.” Dan kali ini, Alya tidak bisa menahan air matanya. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN