Satu hal yang tak pernah diajarkan di kampus elite itu adalah: bagaimana cara menghindari bencana ketika kau sendiri yang membangunnya sedikit demi sedikit. Seperti Alya sekarang.
Pagi itu, saat dirinya baru saja menyusun jadwal bimbingan akhir, sebuah pesan dari Anindya masuk ke ponsel.
> Anindya: Alya, kamu punya waktu nanti malam? Kita makan bareng, ya. Geng kita kumpul semua. Aku baru pulang dari Singapura. Kangen kalian.
Tangannya refleks gemetar. Kalimat itu tampak biasa saja, bahkan penuh semangat. Tapi insting Alya mengatakan lain. Anindya tak pernah mengajak duluan, apalagi dengan nada semanis ini.
Sore harinya, setelah memastikan wajahnya tampak tenang, Alya melangkah ke sebuah restoran rooftop di Senopati tempat mereka biasa nongkrong.
Satu per satu anggota geng hadir. Tertawa, bercanda, saling mengomentari gaya rambut dan status pacaran masing-masing. Anindya duduk tepat di seberangnya, mengenakan gaun putih simpel yang membuatnya terlihat seperti mawar berduri—cantik, tapi menyimpan luka.
Lalu, tiba-tiba, saat makanan baru saja datang, Anindya bersuara.
“Alya, kamu sekarang kerja di mana sih?”
Suasana sempat terdiam sepersekian detik. Lalu teman lain menjawab duluan.
“Katanya di perusahaan agensi besar gitu. Jadi asisten direktur?”
Anindya mengangguk pelan, mengaduk minuman.
“Oh, Arsya Pratama Agency, ya?”
Alya menelan ludah. “Iya. Baru mulai dua bulan ini.”
“Wah… ayahku juga kerja di sana, tahu?” katanya, masih mengaduk minuman. “Dulu aku kira kamu dapat beasiswa doang. Tapi ternyata pinter banget ya, bisa langsung nyambung ke jabatan yang... penting.”
Nada itu. Lembut tapi menusuk. Tatapan mata teman-teman lain mulai berubah—tidak frontal, tapi penasaran. Menyimpulkan sesuatu.
Alya tahu, ini bukan kebetulan. Anindya sudah tahu, atau setidaknya… menebak.
---
Usai makan, Alya memutuskan tidak langsung pulang. Ia duduk di halte bus terdekat, menatap lampu kota yang berpendar. Pikirannya seperti kabel terbakar—menyala, panas, tak teratur.
Teleponnya berdering. Arsya.
Dengan enggan, Alya mengangkat.
“Saya sudah di apartemenmu. Kamu di mana?”
“Saya... habis ketemu teman. Mungkin nanti malam saya pulang.”
“Teman kampus? Apa Anindya?”
Diam.
“Kamu sudah tahu, kan? Dia mencium sesuatu.”
Alya mengepalkan tangan. “Saya tahu. Dan ini... mulai tidak sehat, Pak. Saya tidak bisa terus begini.”
“Alya—”
“Saya butuh ruang.”
Ia memutuskan panggilan.
Untuk pertama kalinya, dia ingin sendiri. Bukan karena ingin bebas, tapi karena takut tenggelam.
---
Esok harinya, kampus tidak lagi terasa seperti tempat aman. Alya berjalan dengan kepala tertunduk, berusaha menghindari bisikan. Ia tahu betul rasa yang menggantung di udara—penuh praduga, penilaian, dan rasa penasaran kejam.
Di koridor fakultas, ia berpapasan dengan Rayhan. Tatapan pria itu sejenak bertanya, tapi ia tak berkata apa-apa. Hanya berjalan melewatinya dengan diam yang lebih nyaring dari kata-kata.
Saat tiba di perpustakaan, Alya membuka laptop. Tapi sebelum bisa fokus pada skripsinya, seseorang menarik kursi di depannya.
Anindya.
Gadis itu meletakkan sebuah amplop putih di atas meja.
“Aku nemu ini di ruang kerja papa.”
Alya menatap amplop itu. Perlahan membukanya. Di dalamnya: foto-foto. Dirinya. Bersama Arsya. Saat turun dari mobil. Saat makan malam di hotel. Bahkan satu foto... saat mereka duduk di balkon apartemen, terlalu dekat untuk disebut rekan kerja.
“Kenapa?” tanya Anindya, suaranya serak. “Kenapa kamu, Alya? Dari semua perempuan... kenapa kamu temanku?”
Alya ingin bicara, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Aku tahu kamu pintar. Cantik. Tapi kamu juga penipu.”
Tangan Anindya gemetar.
“Aku dulu kagum sama kamu. Kamu punya mimpi, kerja keras. Tapi ternyata... kamu menjual semua itu.”
Alya akhirnya berkata pelan, “Aku nggak menjual apa pun. Aku... cuma bertahan.”
“Dengan cara menghancurkan keluarga orang lain?”
Hening.
Alya menunduk.
“Aku tidak akan memaafkan kamu,” lanjut Anindya. “Dan aku juga tidak akan diam. Semua orang akan tahu kamu siapa sebenarnya.”
Lalu Anindya pergi, meninggalkan foto-foto itu seperti puing rumah yang sudah dibakar habis.
---
Malam harinya, Alya menangis. Bukan karena takut kehilangan fasilitas atau status. Tapi karena kenyataan akhirnya menampar: semua ini adalah kesalahannya sendiri.
Ia mengambil ponsel. Mengetik pesan untuk Arsya.
> Alya: Saya mengundurkan diri. Saya minta maaf. Tolong jangan hubungi saya lagi.
Dan setelahnya, ia menelepon ibunya di kampung.
Suara ibunya terdengar seperti pelukan. “Kamu kenapa, Nak?”
Alya tak bisa jawab. Ia hanya menangis, seperti anak kecil yang tersesat.
---
Keesokan harinya, kampus berubah menjadi ladang bisik-bisik. Foto-foto itu beredar. Grup w******p ramai dengan rumor dan tuduhan.
Tapi Alya tidak lari. Ia datang, duduk di kelas, menghadapi semuanya.
Rayhan akhirnya menghampirinya di sore hari.
“Aku tahu semuanya,” katanya. “Dan... aku tetap di sini.”
Alya menatapnya dengan mata bengkak.
“Aku nggak mau kamu sendirian, Alya. Aku tahu kamu salah. Tapi aku juga tahu kamu ingin berubah.”
Dan untuk pertama kalinya, Alya merasa ada satu orang yang masih percaya padanya.
---