Bab 4 — Harga yang Harus Dibayar

816 Kata
Matahari pagi Jakarta menyelinap dari celah jendela kos sederhana yang baru saja Alya sewa di daerah Rawamangun. Tidak seperti apartemen mewah milik Arsya, ruangan ini hanya seluas kamar kos mahasiswa biasa, cukup untuk satu tempat tidur sempit, meja belajar, dan lemari pakaian yang reot. Tapi anehnya, di sinilah Alya merasa bisa bernapas kembali. Ia meletakkan secangkir kopi instan di meja, menatap layar laptop. Belasan email masuk dari berbagai sumber—rekrutmen pekerjaan, spam beasiswa, juga satu dari kampus tentang revisi skripsi. Setelah dua minggu menghilang dari kehidupan sosial dan mengundurkan diri dari kantor Arsya, hidup Alya berubah drastis. Tak ada lagi undangan makan malam di restoran bintang lima, tak ada lagi kartu ATM dengan saldo nyaris tak terbatas, dan tentu saja, tak ada lagi geng kampus yang menyapanya hangat. Ia kini sendirian. Tapi di balik kesepian itu, ada ketenangan kecil yang pelan-pelan tumbuh—rasa bahwa ia kini benar-benar mengendalikan hidupnya sendiri. --- Hari itu, ia kembali ke kampus untuk bertemu dosen pembimbing. Banyak mata mengarah padanya, tapi Alya menunduk, tidak memberi ruang bagi bisikan atau tatapan tajam. Di ruang dosen, Bu Lastri, pembimbing skripsinya, menatapnya dengan alis sedikit terangkat. “Saya dengar kamu resign dari perusahaan besar, ya?” Alya mengangguk pelan. “Iya, Bu. Ada hal pribadi yang harus saya bereskan.” “Sayang sekali. Padahal kamu calon terbaik.” Alya tersenyum tipis. “Saya sadar, Bu. Tapi saya ingin lulus dengan cara yang... bersih.” Dosen itu mengangguk. “Baik. Kita mulai revisinya, ya.” --- Saat keluar dari kampus, Alya melihat seseorang berdiri di sisi motor bebek tuanya—Rayhan. “Aku tahu kamu masih suka nulis jurnal pribadi,” katanya, menyodorkan sebuah buku catatan kecil. Alya mengernyit. “Kok bisa ada di kamu?” “Kamu tinggalin waktu kamu pergi dari apartemen dulu. Aku nemu pas bantuin urus barangmu yang diangkut.” Ia membuka halaman pertama dan membaca sepenggal kutipan: > “Aku ingin berhasil, tapi bukan dengan menjual diriku. Aku ingin punya dunia yang aku bangun sendiri. Tapi dunia itu terlalu mahal untuk gadis kampung seperti aku.” Alya langsung menutup buku itu, jantungnya seperti diremas. “Jangan malu,” ujar Rayhan lembut. “Justru itu yang bikin aku kagum. Kamu sadar kamu salah. Dan kamu berani keluar sebelum makin dalam.” Alya menunduk, tapi tak bisa menyembunyikan sedikit senyum di ujung bibirnya. “Kamu tetap mau temenan sama aku?” “Aku nggak pernah niat ninggalin.” “Meski aku...” ia terdiam, tak sanggup melanjutkan. Rayhan mengangguk. “Justru karena itu. Karena kamu pernah jatuh dan nggak pura-pura jadi korban. Kamu tanggung jawab.” Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Alya merasa sedikit lebih ringan. --- Beberapa hari kemudian, Alya melamar pekerjaan ke banyak tempat. Tidak ada yang besar seperti tempat lamanya, tapi ia mulai dari awal lagi. Salah satu kafe kecil di daerah Kemang menerima lamarannya sebagai content admin paruh waktu. Gajinya pas-pasan, shift-nya padat, dan dia harus naik turun angkot demi mengejar jadwal kerja dan revisi skripsi. Tapi semua itu dia jalani dengan kepala tegak. Ia belajar membuat konsep konten, memotret minuman dengan ponsel, dan bahkan membantu mencatat stok kopi jika barista sedang repot. Hidupnya jauh dari gemerlap. Tapi juga jauh dari kebohongan. Suatu sore, saat menyapu lantai, ia mendengar suara familiar dari arah pintu masuk. Anindya. Mengenakan blazer hitam elegan dan sepatu hak tinggi, Anindya menatap sekeliling kafe, lalu matanya terkunci pada Alya. Sekilas, Alya ingin bersembunyi. Tapi ia hanya menegakkan punggung dan menaruh sapu ke dinding. “Selamat datang,” katanya pelan. Anindya berjalan ke arahnya. Wajahnya tidak lagi setajam dulu. Tapi juga tidak lembut. “Aku dengar kamu kerja di sini,” katanya datar. “Dari Rayhan.” Alya menatapnya. “Dia sering datang.” “Apa kamu bahagia sekarang?” Pertanyaan itu membuat Alya terdiam sejenak. “Belum. Tapi aku merasa benar.” Anindya mengangguk pelan. “Kamu tahu nggak, aku juga pernah marah sama mamaku. Karena dia diam saja waktu tahu ayahku selingkuh. Tapi ternyata... diam bukan berarti setuju. Kadang kita cuma nggak tahu harus gimana.” Alya menelan ludah. “Aku minta maaf, Nin.” “Aku belum bisa maafkan kamu sepenuhnya, Alya. Tapi aku... ngerti sekarang. Dunia kita beda. Tapi rasa sakit kita sama.” Mereka terdiam. Lalu Anindya mengambil pesanan, lalu pergi tanpa banyak kata. Tapi Alya tahu: itu adalah awal dari sesuatu yang bisa disebut penyembuhan. --- Beberapa minggu berlalu. Skripsinya selesai. Ujian akhir dia jalani dengan percaya diri, dan Bu Lastri mengucapkan selamat dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Kamu hebat, Alya. Kamu jatuh, tapi kamu bangkit lebih kuat.” Dan hari itu, saat keluar dari ruang sidang, Rayhan menunggu dengan dua minuman boba di tangannya. “Lulus?” tanyanya. Alya mengangguk sambil tersenyum lebar. “Kita rayain?” “Dengan mie ayam pinggir jalan?” “Setuju.” Mereka tertawa. Dan untuk pertama kalinya, tawa itu bukan untuk menutupi luka, tapi untuk merayakan keberanian. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN