“Kamu tahu bahwa mas Nosa telah menikah, tetapi kamu selalu menempel di sebelahnya. Apakah itu tidak pantas dikatakan sebagai seorang perempuan yang mengganggu suami orang lain? Rumah tangga orang?” Kaylila berkata dengan nada ketus. Jelas terlihat bahwa ia sedang berusaha menahan emosi yang menyesakkan hatinya. Kedua tangannya terkepal dengan rahang mengeras. Gladys bukannya terkejut mendapatkan tuduhan dari Kaylila yang terkesan sangat menyakitkan. Ia malah tertawa lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya, dan lebih lama. “Kaylila … Kaylila. Kamu yang seharusnya bercermin, bukan aku,” bantahnya setelah menghentikan tawanya. “Bukankah kamu adalah pelakor sesungguhnya, Kaylila?” tembak Gladys. “Atau kamu lupa, kalau yang merebut Nosa dariku itu adalah kamu. Bukan sebaliknya. Kamu jug

