Mengambil es batu di kulkas, Rabella akhirnya berjalan-jalan ke tempat lain di rumah Alva. Rabella belum sempat menelusuri rumah Alva walaupun Rabella sudah sering berada di luar rumah. Lumayan juga jika Rabella menemukan tempat untuk bersembunyi dari Alva. Pria berengsek itu mungkin akan mengamuk lagi dan Rabella tidak ingin dipukul lagi oleh Alva.
Rabella sekarang harus mencari strategi untuk kabur dari Alva. Jika bercerai kemungkinan akan membawa masalah besar pada keluarganya, maka Rabella akan mencari jalan lain yang sekiranya terbaik untuk Rabella dan keluarga.
Mendengar suara benturan berkali-kali di sebuah ruangan, Rabella akhirnya berbelok untuk mencari tahu. Nick ada di sana. Sedang memukul-mukuli salah satu samsak tinju di sana. Rabella tidak tahu ada tempat olahraga seperti ini. Bahkan lantainya sepenuhnya tertutupi oleh matras seolah tempat ini memang untuk olahraga bela diri. Ada banyak barbel juga di sana dari berbagai ukuran. Wow. Tempat ini seperti tempat gym saja.
"Nick, sedang olahraga? Bukannya kau kemarin habis dipukuli oleh Alva?" Tanya Rabella, berjalan ke arah Nick yang tidak menghiraukan kehadirannya.
Rabella cemberut. Namun dia tidak pergi dari sana. Dia hanya melihat kegiatan Nick yang malah membuatnya penasaran. Rabella akhirnya berjalan ke salah satu samsak tinju yang lain. Dia memposisikan tubuhnya berdiri dengan kuda-kuda. Rabella memukul samsak itu sekuat tenaga, namun samsak itu tidak bergerak seperti bagaimana saat Nick memukul samsak itu. Sekali lagi, Rabella memukulnya sekuat tenaga.
"AW!" Jerit Rabella, merasakan setruman kuat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia sangat bingung kenapa Nick bisa melakukannya sedangkan Rabella tidak. Dengan cemberut, Rabella akhirnya hanya duduk di sana. Dia kembali mengompres matanya yang bengkak dan tetap memperhatikan Nick yang sudah mengucurkan banyak keringat.
Nick mencurahkan semua fokusnya pada samsak tinju tersebut. Hal itu membuat Rabella tersenyum. Setidaknya, Nick tidak mengabaikannya dengan sengaja. Nick benar-benar hanya sedang fokus latihan.
Rabella menghela napas panjang. Dia menyenderkan punggungnya pada tembok. "Ada saat-saat di mana kita bahkan tidak berhak untuk memilih, ya? Walaupun hak asasi manusia dikumandangkan, tetap saja tidak bisa berhasil bagi beberapa manusia. Padahal, kita memiliki pilihan. Namun kita tidak bisa mengambil pilihan itu." Ocehnya entah pada siapa.
Karena yang Nick lakukan hanyalah memukuli samsak tinju. Ruangan juga dipenuhi oleh suara pukulan itu. Hanya Rabella yang mengoceh entah pada siapa. "Aku sangat ingin pergi dari rumah terkutuk ini, awalnya," kata Rabella kemudian. "Alva, para pelayan, dan juga kau menganggapku orang asing. Namun, walaupun begitu, para pelayan sudah mulai baik padaku sekarang. Aku senang tentang itu. Dan Alva..., Entah bagaimana, aku hanya merasa menjadi diriku sendiri jika berada dekat dengannya. Dan aku membenci perasaan itu. Aku juga tidak menyukai Alva karena dia berselingkuh dan menghina pernikahan. Aku bersumpah akan menceraikannya suatu hari nanti."
Rabella kemudian menghela napas. Dia menggeram, dan menendang-nendang udara dengan kesal. "Tapi sial! Aku harus mencari alternatif lain untuk menceraikan Alva! Ayahku bekerja di perusahaan ayahnya Alva. Kalau aku mengadu tentang kejadian semalam, maka keluargaku dalam bahaya! Maka dari itu aku tidak memiliki pilihan!"
Nick mengabaikan dan terus memukuli samsak tinju.
"Kau pasti berpikir aku konyol. Kau pasti bertanya-tanya tentang kenapa wanita sepertiku yang hilang ingatan masih memikirkan tentang keluarganya. Aku juga tidak tahu tapi yang pasti, aku merasakannya. Saat melihat wanita yang katanya ibuku itu terlihat bersedih, aku juga ikut bersedih karenanya. Maka dari itu, aku tidak ingin mengabaikan keluargaku dan membuat mereka harus menuai resiko dari keputusan yang kulakukan." Rabella mendesah lelah. Kakinya kali ini ditarik menekuk agar Rabella bisa memeluk kedua kakinya sendiri. Menerawang, dan memikirkan nasibnya sendiri yang entah ke depannya akan bagaimana.
"Nona bahkan tidak memiliki hak hidup."
Rabella tersentak. Ucapan Nick membuat Rabella mengangkat kepalanya kembali. "Maksudmu?" Tanya Rabella.
Nick menghentikan tinjauannya pada samsak. Dia menegapkan tubuhnya, menatap Rabella dengan tajam. "Jika Nona tahu apa yang dulu Nona lakukan, Nona bahkan tidak bisa disebut manusia."
Perkataan Nick sukses membuat Rabella merasakan nyeri di dadanya. Rabella berdiri. Pandangannya kali ini menatap Nick dengan heran. "Apa dulu..." Rabella menelan ludah susah payah. "... Apa dulu aku jahat?"
Nick tidak menjawab. Pria yang selalu memanggilnya Nona itu, hanya diam menatap Rabella yang masih berdiri kaku. Rabella juga sama diamnya walaupun dalam hati, Rabella mencari tahu tentang dirinya sendiri. Mencoba mengingat. Kejahatan apa yang mungkin bisa membuat seorang Nick mengatakan hal sedemikian kejamnya. Seorang Nick yang bahkan tunduk saja saat Alva menginjak kepalanya.
Nick membuang pandangan. Dia melepaskan sarung tangannya dan berjalan menjauh dari Rabella. "Lain kali, jangan masuk ke sini. Aku tidak mau diganggu dan aku tidak suka padamu." Katanya datar, dan tanpa melihat raut wajah Rabella, Nick berlalu dari sana.
Sementara Rabella masih terdiam. Masih meresapi sesak yang menjejali dadanya.
***
Alva pulang tepat pada pukul 3 sore. Dia sengaja pulang cepat karena pukul 5 sore, rumahnya akan kedatangan keluarganya dan juga keluarga Rabella. Para pelayan menyambut kedatangan Alva dengan kesibukan mereka menyiapkan makanan untuk dua keluarga. Namun yang diherankan adalah Rabella tidak ada di sana.
Wanita yang cinta mati pada makanan itu kini tidak ada di sana untuk menyomot makanan-makanan yang sudah dibuat para pelayannya. Alva ingin menanyakan di mana keberadaan Rabella. Namun Alva tidak melakukannya. Dia tidak mau peduli. Dia hanya berjalan menuju kamarnya, dan bersiap untuk kedatangan orangtuanya. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima, Alva segera keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah.
Akhirnya, Alva bisa melihat keberadaan wanita itu. Walaupun beda dari biasanya karena Rabella hanya duduk diam menatap lurus ke depan. Alva mengabaikan. Dia memilih untuk duduk di kursi yang paling ujung, sedangkan Rabella duduk di kursi dekatnya.
"Apa persiapannya sudah selesai?" Tanya Alva, yang herannya malah membuat Rabella berjengit kaget. Wanita itu tidak sadar jika Alva sudah duduk di sampingnya.
Rabella menatap Alva sinis. Dia berdiri, yang Alva yakini akan pindah tempat duduk. Tapi kemudian ekspresinya berubah sedih dan Rabella kembali duduk di tempatnya. Namun tetap mengabaikan Alva dengan menundukkan kepalanya.
Ada apa denganmu?
Tentu saja, Alva tidak mengatakannya. Dia tidak mau peduli walaupun kelakuan Rabella menarik perhatiannya.
"Sudah, Tuan." Jawab kepala pelayan, menjawab pertanyaan Alva yang sebelumnya.
"Tapi sebaiknya, Darren, kau membangun arena permainan seperti di perusahaan—tidak, ya? Ya, aku berpikir itu tidak bagus juga. HAHAHA!"
Suara itu mengalihkan atensi Alva dan Rabella. Alva dan Rabella segera menatap ke arah pintu, dan mendapati bahwa di sana sudah ada keluarga mereka yang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Oh, Alva!" Seru salah satu pria paruh baya di sana. Alarick Kaslov Damian, ayah dari Alva Damian Philips. Alarick berjalan berdampingan dengan istrinya, Valerie Philips Damian. Alarick berjalan dengan riang menghampiri ruang makan. "Anakku yang tampan tapi tidak setampan diriku, apa kabarmu sekarang? Wajahmu tidak berubah ya? Masih jelek seperti biasanya."
Alarick mendapatkan delikan dari Alva dan cubitan dari Valerie.
Sedangkan Darren Valentino Reinhard, ayah dari Rabella, berjalan dengan istrinya Annabelle Reinhard dan kedua anaknya yang lain, yaitu Farrell dan Darrell. Darren hanya menatap Alva dengan raut dingin tak henti. Dan bahkan saat duduk di samping Rabella pun, yang ditatap hanyalah Alva tanpa henti.
Rabella sempat bingung dengan sikap ayahnya. Apa CEO yang kurang ajar seperti ayahnya itu boleh berbuat seperti itu pada ayah dan anak itu?
"Alarick," kata Darren kemudian. Walaupun pandangannya masih pada Alva. "Lain kali, ajarkan pada anakmu untuk menyambut orangtua yang mengunjunginya."
"Hm?" Alarick tidak peduli. Dia sedang menyentuh paha istrinya di bawah meja. "Oh, kau saja yang mengajarkan padanya. Aku sibuk."
Pandangan dingin Darren beralih pada Alarick.
"Darren, sudahlah," decak Annabelle, merasa tidak enak pada sahabatnya, yaitu Valerie. "Lagipula, Rabella juga tidak menyambut kita. Apa bedanya dengan Alva?"
"Kalau Rabella tak apa. Apa yang Rabella lakukan selalu benar," kata Farrell berseru dengan semangat. Namun saat Rabella menatapnya, Farrell malah mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Darrell sendiri menyodorkan paper bag pada Rabella. "Untukmu. Selamat ulangtahun."
Mata Rabella membulat lebar mendengarnya. "Ini ulang tahunku?!" Serunya dengan semangat.
Pertanyaan antusias Rabella menimbulkan keheningan di ruangan itu. Semua mata serentak menatapnya, membuat Rabella canggung sendiri. Apalagi melihat tatapan ibundanya yang terlihat sendu. Rabella meraih paper bag itu, dan tersenyum pada Darrell. "Terima kasih." Ucapnya.
Rabella segera membuka bungkusan itu dan mendapati dus lain di sana. Dia mengambil dus itu dengan pandangan heran. "Apa ini?"
"Ponsel?!" Pekik Farrell. Dia menatap Darrell tidak terima. "Aku juga membelikannya ponsel!!"
Darrell hanya mengedikkan bahunya, sedangkan Darren menatap tajam pada anak sulungnya itu. Menyatakan bahwa Darren juga membelikan Rabella ponsel.
Rabella terkekeh senang. "Terima kasih. Walaupun aku tidak tahu cara menggunakannya."
"Biar aku ajari—"
"Biar aku ajari!" Ucapan Darrell terpotong oleh seruan Farrell dan juga Darren. Mereka bertiga serentak memegang dus ponsel Rabella yang diberikan oleh Darrell.
Darren menatap kedua anak kembarnya dengan pandangan datar. "Biar aku ajari. Aku ayahnya."
Farrell cemberut. Dia mengalah dan melepaskan pegangannya dari dus ponsel tersebut. Sementara Darrell masih memegangi ujung dus itu dengan erat. Pandangannya sama-sama datar pada ayahnya. "Aku yang membelikannya. Aku yang mengajarinya."
"Aku saja yang mengajarkannya. Kau sudah cukup membelikannya ponsel."
"Tidak. Ini ponsel keluaran terbaru. Manusia kuno sepertimu takkan bisa mengajarinya."
"Dunia canggih, boy. Aku bisa melakukannya."
"Tidak."
"Bisa."
"Aku yang akan mengajari Rabella."
"Aku yang bertugas mengajari anakku."
Rabella menatap bingung dengan dua orang dingin yang saling memperebutkan ponsel Rabella. Tangan Rabella bahkan sudah tidak menyentuh dus itu sedangkan ayah dan kakaknya masih memegang dus itu erat.
"Ck, keluar lagi posesifnya," decak Annabelle sambil tertawa. Dia menatap Rabella dengan pandangan geli. "Dua pria dingin ini memang selalu meributkan segala hal tentangmu. Mereka terlalu menyayangimu."
Ucapan ibunya membuat hati Rabella sukses menghangat. Tanpa bisa Rabella cegah, pandangan matanya sudah memburam. Dia menatap orang-orang di sana dengan sesak yang semakin menjadi di dalam dadanya.
Apa Rabella pantas untuk disayangi seperti ini? Apa Rabella pantas untuk mendapatkan kehangatan dan perhatian seperti ini?
"Oi Darren!" Seru Alarick. "Bodoh! Kau membuat anakmu menangis, tahu?!"
Darren dan Darrell menghentikan kegiatan saling merebut mereka. Kedua pria itu segera menatap Rabella yang malah tidak sadar kalau dirinya sudah menangis. Rabella mengusap pipinya dengan kasar. "Eh? Kenapa aku menangis?" Tanya Rabella sambil terkekeh dalam tangisnya. "Maaf, aku tidak bisa menghentikannya..." Isaknya pelan sambil terus mengusap wajahnya.
Darren menyentuh kedua pergelangan tangan Rabella, mengehentikan tangan Rabella untuk mengusap wajahnya. "Ada apa?"
Seharusnya, Darren tidak pernah berkata seperti itu. Karena ucapan Darren malah membuat Rabella makin menangis. "Ayah, apa aku orang jahat dulu? Apa dulu aku menyakiti orang lain?" Isaknya, menatap Darren dengan tatapan sendu.
"Omong kosong dari mana itu?!" Seru Farrell tidak terima. Dia segera menatap Alva, begitupun dengan Darrell dan Darren yang serentak menatap Alva.
"Bukan, tidak begitu," ucap Rabella dalam tangisnya. "Aku hanya merasa frustrasi. Aku tidak mengingat banyak hal. Aku bahkan tidak bisa mengingat kalian semua. Aku seolah dipaksa hidup dan beradaptasi dengan kehidupan yang aku tidak tahu bagaimana dahulunya aku. Apa aku orang jahat? Apa aku orang baik? Apa aku pernah menyakiti kalian? Apa aku pernah melakukan hal yang membuat kalian membenciku? Bagaimana ..." Rabella terisak kencang, menatap Darren. Mengiba pada ayahnya. "... Bagaimana jika aku benar-benar orang jahat, Ayah?"
Darren segera memeluk Rabella erat. Tubuh Rabella bergetar hebat dalam pelukannya, sedangkan tangisnya kini tidak terkendali. Rabella hanya dapat menangis dan mengeratkan pelukannya pada ayahnya. Mengeluarkan segala rasa frustrasinya selama ini. Hidup di dalam rumah yang seolah penjara, dan tidak tahu bagaimana harus lepas dari penjara itu.
Rabella...
... Ingin bebas.
Ingin bebas dari ingatannya yang hilang.
Dan ingin bebas dari Alva yang dibencinya.