Bastard Husband 6 : Malam Bencana

1601 Kata
Pada akhirnya, acara keluarga yang merupakan acara ulang tahun Rabella itu harus hancur karena tangisan Rabella. Rabella sendiri disuruh tidur oleh Darren. Ayahnya sendiri yang menggendong Rabella dan menidurkannya di atas kasur. Sebelum meninggalkan kamar Rabella pun, Darren menyampaikan pesan, bahwa, "Kau bukanlah orang jahat. Kau adalah anakku. Aku tidak mungkin menyayangimu kalau kau adalah orang yang jahat." Pesan Darren sukses membuat Rabella bisa tidur nyenyak sambil tersenyum. Bertemu dengan kedua orangtuanya adalah hal yang paling membahagiakan untuk Rabella. "... Dia sendiri yang bilang kalau bukan aku yang mengatainya seperti itu!" Seruan itu datang dari Alva yang lebih dulu disidang oleh Alarick. Ruang sofa itu hening. Lampu yang remang dan wajah-wajah frustrasi di sana membuat Alva yang duduk sendirian merasa tertekan. "Kalau begitu, ada sesuatu yang salah dari caramu memperlakukan putriku," kata Darren ketika menuruni tangga. Alva sedang duduk di kursi panjang sendirian. Sedangkan para pria di sana berdiri dengan tatapan tajam pada Alva. "Aku tidak melakukan apapun padanya! Aku bahkan jarang berbicara padanya!" Seru Alva kemudian, menatap frustrasi pada orang-orang di sana. "Aku menuruti ucapan kalian semua! Tapi apa hasilnya sekarang?! Sudah lebih dari sebulan, dan tidak ada kemajuan apapun?!" "Boy, aku ini ayahmu," kata Alarick, namun tatapannya masih tajam pada Alva. "Aku tidak mungkin berbohong untuk sesuatu yang sangat berharga untukmu. Tapi, dia juga berharga untuk Rabella. Dia juga adalah bagian hidup Rabella. Kau harus mengerti. Bukan hanya kau yang kehilangan orang yang berharga bagimu." "Kenapa kalian menuduhku seperti ini?!" Kesal Alva sambil berdiri dan menatap orang-orang di sana dengan pandangan menghakimi. "Sudah kubilang, aku tidak berbicara yang macam-macam padanya!" "KALAU BEGITU DIAMLAH!!" Bentak Darren kemudian. Emosinya memuncak melihat Alva yang terus berusaha membela diri sedangkan anaknya menangis tersedu sebelumnya. Darren merenggut kerah kemeja milik Alva dengan satu tangannya. Menyentak tubuh Alva sehingga wajah mereka saling berdekatan. Matanya yang biasa memancarkan aura dingin, kali ini menatap tajam penuh penghakiman. "Kau pikir kau benar-benar suaminya?! Kau hanya orang asing yang kupercayakan untuk menjaganya!! Kalau kau masih bertindak bodoh dan membuat anakku menangis lagi, kau akan tahu akibatnya!" Rahang Alva mengeras. Alva balas menatap Darren dengan tajam. Namun sial, memang tidak ada yang bisa mengalahkan tatapan Darren begitupun dengan Alva. Alva hanya dapat membuang muka dan pandangannya bertubrukan dengan Valerie yang menatapnya dengan khawatir. Tapi Alarick menghalangi pandangan Valerie dengan tubuhnya, membuat Valerie tidak dapat terlihat lagi di pandangan Alva. "Darren," Annabelle menyentuh bahu Darren, mencoba menenangkan suaminya. "Darren, sudahlah... Kita tidak bisa membawa Rabella sekarang." Rahang Darren masih mengeras. Emosinya masih memuncak. Namun Darren melepaskan tangannya, mendorong tubuh Alva saat melakukannya. Darren memperbaiki jasnya dengan kasar. Pandangannya makin dingin pada Alva yang sudah terlihat pasrah. "Ini yang kutakutkan saat anakmu jatuh cinta pada anakku," kata Darren sambil menatap Alarick. "Aku dan kau sama berengseknya. Dan aku tidak pernah meragukan keberengsekan anakku maupun anakmu. Dan aku bahkan tidak heran jika suatu saat, kita tidak bisa bersahabat lagi seperti dulu." "Darren," peringat Annabelle kemudian. "Ucapanmu keterlaluan." "Annabelle benar," kata Alarick kemudian. "Walaupun anakku berengsek, anakku hanyalah sebatas anakku. Itu tidak akan berpengaruh dengan persahabatan kita. Dan jika anakku benar-benar menyakiti anakmu, maka akulah yang lebih dulu menjauhkan anakku darimu dan keluargamu." Darren menatap Alarick dingin. "Aku pegang ucapanmu," katanya, lalu menggenggam tangan Annabelle dengan erat. "Aku pulang sekarang." Alarick mengangguk. "Hm. Sampai jumpa." Katanya, namun tidak diperbolehkan respon oleh Darren yang malah langsung berlalu pergi. Annabelle tersenyum dengan rasa canggung pada Alarick dan Valerie. Dia meminta maaf melalu tatapannya. Mulutnya sudah terbuka untuk meminta maaf, tapi Darrell lebih dulu menarik tangan ibunya dan membawa pergi Annabelle dari sana. Farell juga sama saja. Kembaran dari Darrell itu memegang bahu ibunya agar tidak menatap ke belakang lagi. Alarick menghela napas panjang melihat itu. Alarick mengerti bagaimana perasaan Darren sekarang. Tidak, lebih tepatnya Alarick tidak akan pernah mengerti. Karena apa yang dilalui keluarga Darren, terlalu berat untuk dipikul Alarick. Sedangkan Alva masih menundukkan kepalanya. Tangannya terkepal kuat-kuat. "Boy—" "Kenapa?" Potong Alva, mendongak menatap ayahnya. "Bukannya dia hanya CEO di perusahaanmu?! Kenapa kau harus tunduk padanya?!" "Ini bukan tentang tunduk atau tidaknya aku," kata Alarick cepat. "Dia sahabatku. Dan kau anakku. Aku lebih lama bersama dengannya. Dan aku tahu, jika apa yang dikatakannya adalah benar." "Tapi dia salah!" "Tidak, aku yang paling tahu bagaimana diriku di masa lalu," ucap Alarick. Menelan ludahnya susah payah. "Aku tidak mau mengatakan ini tapi ibumu melihat istrimu keluar dari kantormu sambil menangis." Alva tersentak. Dia terkejut dengan ucapan Alarick. Pantas saja ibu yang biasa membelanya itu kini menjadi seseorang yang membiarkannya dibentak dan disidang seperti ini. "Aku tidak—" "Kau tidak bisa menyangkal jika memang dirimu yang membuatnya menangis seperti itu," kata Alarick, memotong. "Sekarang, dia memang berstatus sebagai istrimu. Tapi kau harus tahu jika dia tidak lebih dari sekadar orang asing sekarang." Rahang Alva kembali mengeras. Napasnya sudah tersendat emosi. Alva memejamkan matanya dengan erat, membukanya bersamaan dengan senyum sinis yang tercipta di wajahnya. "Apapun yang kukatakan, kalian tidak akan percaya, bukan?" "Kalau begitu. Buktikanlah kalau kau tidak menyiksanya dalam pernikahan palsu ini," ucap Valerie dengan tegas. "Jika kau tidak bisa membuktikannya, maka lebih baik, dia tinggal dengan kami." Alva menelan ludahnya dengan susah payah. Dia kali ini diam mendengar ucapan ibunya. Jika Valerie sudah tegas begini, maka Alva tidak memiliki bantahan lain kecuali sebuah bukti. Sial. Wanita itu selalu membuat Alva kesusahan. *** Pukul 3 pagi, Rabella terbangun dari tidurnya. Dia merasa ada seseorang yang mengintai. Menatapnya dengan tajam di sudut kamar ini. Rabella mencoba membuka matanya, dan tersentak saat melihat siluet tubuh tinggi yang berdiri di ujung ruangan. Rabella terduduk dengan panik. "Siapa di sana?!" Apakah hantu lagi? Siluet itu berjalan mendekat, membuat Rabella buru-buru menyalakan lampu dan hampir berteriak saat melihat Alva yang ternyata mendekatinya. "Ya Tuhan! Alva! Apa yang kau lakukan di sini?!" Anehnya, Alva tidak menjawab. Dia hanya mendekat dengan pandangan tajamnya ke arah Rabella. Rabella mengernyit. Dia mencoba memundurkan tubuhnya. "Alva? Ada apa?" "Mau berapa banyak lagi yang kau hancurkan dari hidupku?" Bisik Alva, tajam dan mencekam. Jantung Rabella seolah melompat dari tempatnya. Dia beringsut, mencoba menjauh dari Alva yang malah semakin mendekat. "A-Alva... Ada apa?" "Apa kau puas sudah memanipulasi banyak orang? Membuatku disudutkan dan menjadi orang jahat di sini?!" Desis Alva tajam dan semakin mendekat. "Alva! Berhenti!" Rabella dilanda panik. Dia mencoba berdiri di atas kasur, namun Alva dengan cepat menarik kakinya, membantingnya ke kasur dan mencekiknya di atas kasur. "Uhuk! Alva!!" SRET! Alva merobek pakaian Rabella, membuat Rabella menjerit dan tangannya yang semula menegangi tangan Alva, kini beralih menutupi payudaranya yang sudah tidak terbalut apapun. Kebiasaan Rabella ketika tidur adalah membuka bra-nya. "Alva! Uhuk!" Entah bagaimana caranya, Alva bisa mengikat tangan Rabella dengan satu tangan. Dan lagi, dengan pakaian tidur yang sebelumnya digunakan oleh Rabella. Alva mengikat tangan terikat Rabella di kepala ranjang. Tangannya tidak lagi mencekik leher Rabella. "Tidak! Alva! Pakaianku!" Seru Rabella panik, mencoba menarik tangannya yang terikat di kepala ranjang. Alva tidak mempedulikan teriakan Rabella. Dia membuka celana tidur beserta dalaman Rabella, membuat Rabella telanjang bulat di atas kasur. Dan sial, kenapa Alva harus menelan ludahnya dengan susah payah ketika melihat tubuh telanjang Rabella di atas kasur. Dan lagi, melihat Rabella seperti itu malah membuat Alva b*******h. "Lepaskan tanganku! Alva!" Jerit Rabella. Wanita cengeng itu kembali menangis dan tidak berhenti memberontak. Alva mengabaikan. Dia menekan kedua kaki Rabella dengan kedua lututnya, membuat Rabella menjerit kesakitan. Alva menelan ludahnya. Dia menggesek kewanitaan Rabella dengan kasar, membuat Rabella tersentak dan mencoba menjauhkan tubuhnya dari tangan Alva. "Diam!" Alva menampar kewanitaan Rabella yang terbuka lebar. Tangannya menekan pinggang Rabella ke atas kasur. "Menangis di depan keluargaku dan keluargamu. Pemilihan waktu yang tepat sekali!" "Aw!!" Rabella menjerit saat kedua jemari Alva masuk kedalam lubang kewanitaannya. "Alva!! Sakit!" "Sakit?" Decih Alva, kemudian menekan k******s Rabella dengan jempolnya, membuat Rabella tidak sengaja mendesah. "Jalang sepertimu, bukannya menyukai hal-hal seperti ini?" Rabella menggeleng kuat. "Tidak, Alva! Kumohon!" "Kau memohon?" Seringai Alva, menekan kejantanannya pada kewanitaan Rabella, menggeseknya dengan kejantanannya yang masih terbalut celana. "Kau memohon untuk ini?" Desisnya sambil terus memaju mundurkan pinggulnya. "Tidak! Kumohon lepaskan aku!!" Jerit Rabella sambil menjauh dari Alva dan menarik tangannya yang terikat. Alva tersenyum miring. "Kau pikir aku sudi melakukannya?" Tanyanya dengan senyum miring. Alva melepaskan ikat pinggangnya. Dia mengambil kondom dari pakaiannya, dan mengenakannya pada kejantanannya. Rabella menggerakkan tubuhnya untuk mencoba duduk, berusaha melihat apa yang Alva lakukan. Tapi sial, Rabella tidak bisa melihat apapun dari sini. "AKH! SAKIT!" Jerit Rabella lagi-lagi, ketika sesuatu memasuki kewanitaannya. Kali ini bukan jari Alva. Sesuatu yang besar dan hangat, namun malah membuat tubuhnya terasa terbelah dua. Rabella mengeratkan genggaman tangannya pada tali yang mengikatnya saat rasa nyeri itu membuat mata Rabella memanas. Tangisan Rabella menjadi hingga sesak rasanya "s**t! Kau masih perawan?!" Tanya Alva, terkejut melihat darah di kondom yang digunakannya, lalu menatap wajah penuh air mata milik Rabella. Rabella hanya dapat terisak menatap Alva dengan sendu. "Apa itu aneh? Apakah kita pernah melakukannya dulu?" Tanyanya heran. Karena daripada merasa tersiksa lagi, Rabella kali ini merasa heran. Padahal mereka suami istri tapi Rabella masih perawan. Dan lagi, umur berapa Rabella sebenarnya? Alva terdiam sejenak, terlintas di pikirannya jika ia harusnya bermain pelan dengan wanita di bawahnya. Namun, mengingat apa yang dilakukan Rabella padanya, membuat Alva hanya menatap dingin tanpa belas kasih. "Selamat datang di neraka, sayang." Dan Alva menggenjot dirinya di dalam Rabella dengan cepat dan keras tanpa mempedulikan jeritan dan tangis Rabella yang memenuhi seluruh ruangannya. Bahkan Alva melakukan secepat dan sekeras yang ia bisa, membuat Rabella tersiksa dan gemetar kesakitan karenanya. Saking menikmati permainannya, Alva membuka seluruh pakaiannya sendiri dan menempelkan tubuhnya dengan erat pada Rabella. Sedangkan yang dirasakan wanita itu hanyalah perasaan tersiksa tanpa rasa nikmat sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN