Pernikahan.
Sebuah ikatan yang menyatukan satu keluarga dengan keluarga lain.
Sebuah akhir yang diagung-agungkan bahwa pernikahan adalah akhir yang bahagia.
Sesukses apapun hidup yang dijalani, jika belum menikah, maka tetap saja yang dinilai adalah sebuah pernikahan yang menjadi kesuksesan manusia.
Mereka tidak tahu saja kalau pernikahan bukanlah akhir bahagia, tetapi awal menuju kehidupan yang baru.
Setidaknya, itu yang dipikirkan oleh Rabella sekarang.
Walaupun Rabella kehilangan ingatannya, namun dia yakin bahwa dirinya menginginkan pernikahan yang indah juga.
Entah resepsi atau apapun itu, pasti Rabella pernah menginginkannya.
Bukannya pernikahan yang seperti ini.
Pernikahan di mana orang-orang di rumah ini bersikap sangat dingin padanya. Di rumah suaminya. Alva Damian Philips. Suami yang dinikahi oleh Rabella. Suami yang merupakan anak dari bos ayahnya.
Sudah satu bulan Rabella menjalani hidup seperti ini. Hidup di dalam rumah yang penuh dengan manusia, tapi terasa sangat kesepian karena semua manusia yang berada di sini benar-benar bersikap tidak bersahabat pada Rabella.
Pada awalnya, Rabella berpikir bahwa orang-orang di sana hanya belum menyesuaikan diri dengan Rabella. Namun, makin ke sini sikap mereka makin menyebalkan. Bukan hanya bersikap dingin, mereka bahkan bersikap sinis pada Rabella.
Ingin sekali Rabella kabur ke pelukan ibunya, namun dengan ingatan Rabella yang hilang sepenuhnya, membuat Rabella merasa asing. Bahkan hanya untuk memanggil Mama pada ibu kandungnya saja, Rabella merasa sangat kaku. Dan kekakuannya itu membuat Annabelle, sang ibunda menjadi sedih. Dan mengetahui bahwa Rabella merasa ikut sedih, menunjukkan bahwa Annabelle benar-benar ibu kandung Rabella.
Umur Alva dan Rabella terpaut 4 tahun. Tentu saja, Rabella lebih muda daripada Alva.
Langit masih gelap saat Rabella sudah keluar dari kamarnya. Kamar Rabella dan kamar Alva terpisah sangat jauh. Rabella ditempatkan di ujung rumah ini. Di sayap kanan dan sangat ujung sekali. Seolah Alva tidak sudi berada di tempat yang dekat dengan Rabella.
Rabella hanya dapat bersikap bodo amat. Dia tidak peduli dengan Alva. Rabella hanya peduli pada makanan. Dan kebetulan, makanan di rumah Alva sangat enak. Tepat saat Rabella akan menuruni tangga rumah, Alva yang kamarnya kebetulan berada tepat di depan tangga, keluar dari kamarnya.
Rabella tersenyum cerah pada Alva. “Selamat pagi, Alva!” sapanya, seperti biasa yang dilakukan Rabella setiap hari.
Alva hanya menatapnya sekilas, lalu melewati Rabella dan berjalan menuruni tangga.
Senyum Rabella luntur seketika. Dia berjalan menyusul Alva. “Menjawab sapaan orang lain itu adalah sebuah kesopanan. Dan jika tidak menjawab sapaan…,” Rabella berjalan menyusul Alva. Dan saat sudah berada di lantai dasar, Rabella berbalik menatap Alva sambil tersenyum. “… itu namanya sebuah ketidaksopanan.” Lanjutnya dan berlalu di hadapan Alva sambil tersenyum sinis.
Rabella berjalan ke arah ruang makan. Banyak makanan yang sudah tersedia di sana. Inilah yang membuat Rabella harus menyesuaikan waktu bangunnya dengan Alva. Karena jika Rabella tidak melakukannya, maka para pembantu di sana akan segera membereskan makanan dan membuat Rabella bahkan tidak bisa sarapan. Untung saja di rumah Alva banyak mie instan. Tapi Rabella lebih menyukai sarapan pembantu Alva. Karena semua rasanya sangat enak.
Rabella tersenyum cerah pada para pelayan di sana. “Selamat pagi! Masak apa hari ini?” tanyanya, namun walaupun ada lebih dari lima pembantu yang menyiapkan sarapan, Rabella tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Rabella mempertahankan senyumnya saat melihat menu-menu di sana. “Oh, banyak sekali rupanya.”
Alva sudah lebih dulu duduk dengan tenang dan seorang pelayan segera memberikan kopi pada Alva.
Rabella ikut duduk dengan tenang. Dia menunggu pelayan memberikan kopi, tapi tidak ada yang melakukannya. Malang sekali Rabella. Senyum Rabella kali ini luntur. Dia mengambil pisang yang ada di keranjang. “Terima kasih, atas makanannya.” Ucapnya, pada siapapun yang mungkin mendengar Rabella.
Selagi tangan Rabella memegang pisang, tangan Rabella yang satunya lagi sibuk mengambil makanan lain dan memindahkannya ke piring. “Woah, ada cake! Woah!!” seru Rabella dengan semangat. “Cookies juga! Ya ampun, terima kasih, semuanya! Walau aku tahu kalian membuatnya bukan untukku, tapi aku sangat senang!” cengirnya pada para pelayan yang ada di sana.
Ketenangan Alva menghilang. Alva memejamkan matanya dengan geram, kemudian membuka matanya dan menatap pada Rabella. “Bisakah kau tenang? Kau menggangguku.”
Rabella menelan makanannya. Dia menatap Alva dengan alis yang mengernyit heran. “Bukankah reaksimu sangat terlambat? Aku sudah berhenti berbicara saat mulai memakan makananku.”
“Kau yang makan seperti orang kelaparan begitu, membuatku sangat jijik, tahu tidak?”
“Ya kalau tidak suka, jangan dilihat. Yang kulakukan hanya menyantap makananku.”
Alva membuka mulutnya, namun kemudian menutupnya lagi. Matanya terpejam sejenak. Dia tidak lagi berbicara, seolah berbicara dengan Rabella adalah sebuah dosa. Alva menyimpan cangkirnya ke piring kecil. Alva kemudian berdiri tanpa mengatakan apapun.
Rabella tidak menghentikan tatapannya pada Alva. “Kau harus berhenti melakukan hal itu.”
Alva berbalik, menatap Rabella datar. “Apa maksudmu?”
“Pelayanmu sudah menyiapkan banyak makanan untukmu. Jika kau memiliki hati nurani, seharusnya kau menghargai kerja keras mereka dengan memakan makanannya.”
Tatapan Alva pada Rabella berubah menjadi tajam. Alva kali ini sepenuhnya menatap Rabella. “Hati nurani?” ulangnya, tajam. “Manusia rendahan sepertimu, membicarakan tentang hati nurani denganku?”
Rabella melotot. “Manusia rendahan? Apa maksud—“
“Aku sudah mengatakannya dengan jelas. Kau, bahkan tidak lebih baik dariku. Hanya manusia hina sepertimu, berani-beraninya mengatakan hal itu padaku?”
Rabella berdiri dari kursinya. Dia menatap Alva dengan pandangan tidak terima. “Ada apa denganmu?! Bukannya kau terlalu kasar?! Aku bahkan tidak menghinamu sama sekali—”
“Itu karena kau makhluk paling hina di muka bumi ini. Kau tidak pantas untuk menghinaku barang satu kata saja.”
Rabella mengernyit dengan tidak mengerti. Ingatannya memang hilang, tapi Rabella tetap tahu mana yang baik dan mana yang buruk. “Alva.”
PRANG!!
“Awh!” Rabella berjengit. Matanya membelalak lebar saat rasa panas memercik ke kakinya. Rabella menunduk, melihat pecahan gelas berisi kopi panas milik Alva. Airnya sedikit menimbulkan panas di kaki Rabella, sedangkan pecahannya terkena beberapa pada kaki Rabella. Rabella mengangkat kepalanya, menatap pada Alva dengan tatapan tidak percaya.
Sedangkan Alva menatap Rabella dengan sengit. “Apapun yang kulakukan, kau tidak berhak mengomentarinya. Ini urusanku. Dan jangan berani-berani kau ikut campur.” Dan setelah mengatakan hal itu, Alva berbalik dan berlalu pergi.
Rabella sendiri masih berdiri dengan kaku. Tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi padanya. Walaupun gelas itu berada sejengkal lebih jauh dari kaki Rabella, namun tetap saja. Alva berniat melukai Rabella.
Rabella menatap ke sekitar, dan mendapati para pelayan di sana masih menatapnya. Rabella mencoba tersenyum walaupun kaku. “Apakah… rumah ini memiliki kotak pertolongan pertama?”
Dan tentu saja, para pelayan memalingkan kepalanya dan tidak menjawab. Rabella tertawa getir, dia duduk kembali, membungkuk dan mengambil pecahan beling yang menusuk kakinya.
Entah apa salah Rabella dulu, tapi demi tuhan! Rabella ingin kabur dari sini!
***
Ada satu hal lagi yang Rabella sukai di rumah ini. Selain makanan, tentunya.
Alva memiliki hewan peliharaan berupa kelinci. Dan selain itu, Alva juga memiliki kebunnya sendiri. Tanah rumah Alva sangat luas. Benar-benar luas. Dan hal itu membuat rumah Alva sangat jauh dari peradaban. Untuk mendapatkan kendaraan umum, dibutuhkan waktu lebih dari 15 menit untuk sampai di tempat transportasi umum sering lewat.
Namun Rabella menyukai jalan-jalan. Jadi, Rabella kadang suka mengelilingi tanah milik Alva. Entah dapat ide dari mana, tanah rumah Alva dipenuhi oleh bunga di beberapa sudut.
Rabella menghela napas panjang setelah selesai memberikan makanan pada kelinci-kelinci itu. Rabella sedikit heran mengapa Alva memiliki kelinci-kelinci itu di rumahnya. Alva bahkan tidak memerintahkan pelayannya untuk memberikan makanan pada kelinci itu. Rabella bahkan berani bertaruh kalau Alva bahkan tidak akan peduli jika kelinci-kelinci itu mati.
Baru saja Rabella akan menaiki tangga untuk mandi di kamarnya, suara bisik-bisik membuat Rabella menghentikan langkahnya. Rabella memundurkan langkahnya, dan melihat para pelayan sedang sibuk menyodorkan kotak bekal pada satu sama lain.
Rabella tersenyum. “Ada apa? Tumben sekali ribut-ribut.” Katanya, membuat para pelayan menatap Rabella. Dan tentu saja, pandangannya sinis. Rabella mengalihkan pandangannya pada kotak bekal yang ada di antara para pelayan itu. “Kenapa? Nick tidak datang? Atau, dia terlambat?” tanyanya kemudian.
Para pelayan kali ini diam dan menatap satu sama lain. Rabella yakin, mereka tidak mau berjalan jauh ke jalanan umum. Karena semua mobil digunakan oleh Alva dan para pengawal sewaan Alva. Jadi, mereka tidak bisa pulang-pergi dengan seenaknya. Sebenarnya, mereka bisa pulang-pergi semau mereka jika mereka ingin.
Rabella masih tidak melunturkan senyumnya walaupun para pelayan bahkan tidak menghiraukan kehadirannya. “Jika kalian tidak ada yang mau, aku bisa mengantarnya untuk kalian. Simpan saja di meja dengan ongkos pulang pergi untukku karena aku tidak memiliki uang sepeser pun. Aku mau mandi dulu,” katanya, lalu berjalan kembali menaiki tangga. Namun, Rabella kemudian menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap pada pelayan. “Aku tidak tahu apa kesalahanku pada kalian di masa lalu. Tapi, aku sungguh tidak ingat apapun yang berarti, aku mungkin bukanlah diriku yang dulu. Adalah hak kalian untuk membenciku. Tapi yang harus kalian tahu, aku menyukai kalian,” senyum Rabella. “Karena aku suka sekali makanan, dan karena masakan kalian enak, aku jadi suka kalian. Aku harap, kita bisa lebih akrab, kalau kalian mau. Tapi kalau tidak mau pun, tak apa.”
Dan dengan itu, Rabella kembali berbalik dan berjalan pergi. Ke kamarnya dan membersihkan diri setelah menyirami bunga, mengganti pupuk, dan memberikan makanan pada kelinci. Walaupun kegiatan itu sangat menguras tenaga, tapi tidak ada lagi yang bisa dilakukan Rabella selain itu. Jika Rabella diam saja, yang ada Rabella bisa mati kebosanan. Dan lagi, Rabella bahkan tidak memiliki ponsel sama sekali.
Selesai bersih-bersih, Rabella akhirnya turun kembali ke lantai bawah untuk melihat keputusan para pelayan rumah ini. Dan Rabella mendapati kotak bekal makanan beserta uang di atas meja makan. Namun, d**a Rabella terasa menghangat ketika mendapati kotak bekal lain beserta sebuah catatan yang berisi; hati-hati di jalan.
Rabella tersenyum lebar. Yah, setidaknya, walaupun mereka tidak mengatakannya langsung, tapi Rabella tahu jika ada sesuatu yang mungkin berubah sedikit. Seharusnya, Rabella mengatakan kata-kata tersebut dari dulu. Tapi tak apa.
Tidak ada kata terlambat untuk sesuatu yang baik.
Nah, sekarang, tinggal memberikan kotak bekal ini pada Alva.
Dan Rabella yakin, Alva akan kesal karena hal ini. Dan lagi, dengan kejadian tadi pagi, Alva pasti akan sangat kesal.