Bastard Husband 2 : Perselingkuhan

1393 Kata
Rabella melongo melihat gedung tinggi di hadapannya. Kepala Rabella terdongak ke atas langit, namun Rabella bahkan tidak dapat melihat ujung gedung ini sedikit pun. Rabella tahu, kalau Alva adalah orang yang kaya. Namun Rabella bahkan tidak menyangka jika Alva sekaya ini. Woah, bagaimana bisa Rabella mengenal Alva di masa lalu? Bagaimana bisa Rabella menikah dengan Alva yang sekaya ini? Rabella menelan ludahnya dengan susah payah. Dia membuang napas panjang, dan meyakinkan diri untuk masuk ke dalam gedung kantor Alva dengan kotak makannya. Entah datang dari mana, namun pikiran Rabella kini berkhayal, kalau-kalau ada satpam yang menghentikannya, Rabella harus bagaimana? Dan kalau-kalau resepsionis mengusirnya, Rabella harus bagaimana? Rabella sangat bingung dengan ini semua. Dan lagi, ini adalah pertama kali baginya keluar rumah tanpa didampingi siapapun. Rabella akhirnya bisa masuk ke dalam gedung dengan selamat. Maksudnya, satpam di depan pintu hanya menatapnya datar dan mengangguk sopan, tidak mengatakan apapun ataupun mengusir Rabella. Dan sekarang tinggal resepsionis. Apakah resepsionis akan mengusirnya? Dengan tangannya yang mendingin dan kakinya yang lemas, Rabella berhenti di depan meja resepsionis. Wanita yang sedang duduk di sana segera berdiri menyambutnya. Baru saja Rabella akan membuka mulutnya, wanita di depannya segera berbicara. "Nyonya Philips, apa ada urusan di sini?" Dia memanggil dengan nama belakang Alva. Dan lagi, menggunakan kata nyonya di depannya. Wanita di depan Rabella berarti tahu kalau Rabella adalah istri Alva. Kegugupan Rabella hilang seketika. Dia tersenyum lebar. "Apa Alva sedang tidak sibuk? Aku ingin mengantarkan makanan." Ucap Rabella dengan lancar. "Mohon tunggu sebentar. Saya akan menghubungi sekretaris Tuan Alva lebih dulu," kata wanita itu sambil mengambil gagang ponsel lalu kemudian berbicara dengan seseorang lewat telepon. Yang pasti, yang resepsionis hubungi itu bukanlah Alva. Karena dari cara bicaranya yang seolah membicarakan Alva adalah orang ketiga dalam pembicaraan mereka. Wanita itu segera menurunkan gagang telepon setelah selesai. Dia kembali menatap Rabella. "Tuan Alva sedang tidak sibuk dan Nyonya bisa langsung saja ke lantai teratas." Rabella melebarkan senyumnya. "Terima kasih." Resepsionis itu hanya mengangguk dan duduk kembali, sedangkan Rabella segera pergi dari sana dan menuju elevator kantor Alva. Rabella kini seolah terbiasa. Dan gerak refleksnya langsung berjalan ke arah kanan, seolah Rabella sering berkunjung ke sini. Rabella segera menekan tombol lift dan masuk ke dalam setelah pintu lift terbuka. Hanya Rabella saja yang ada di dalam lift. Mungkin karena sedang dalam pekerjaan, orang-orang jadi sibuk dan tidak bisa pergi dari mejanya. Rabella membuka matanya lebar, syok melihat angka 60 di tombol lift ini. Gila saja. Berarti, gedung ini memiliki 60 lantai? Woah, Rabella bahkan tidak bisa melihat seberapa besar gedung ini. Rabella menekan tombol 60 dan berdiri santai sambil melamun. Entah melamunkan apa, namun yang bisa Rabella lakukan selama perjalanan di dalam lift adalah melamun. "Maaf, Bella..." Rabella tersentak. Dia menatap ke sekitar, mencari asal suara yang tiba-tiba terdengar berbisik di telinganya. Begitu lirih dan menyayat hati. "Maafkan aku, Rabella..." Rabella lagi-lagi tersentak. Matanya melotot. Rabella mengenal suara itu! Itu suaranya! Tapi, kenapa? Kenapa Rabella meminta maaf kepada dirinya sendiri? Apa mungkin, itu hantu?! Tubuh Rabella bergetar ketakutan. Dia menelan ludah berkali-kali, dan menatap pada layar panel lift yang perlahan naik ke atas dan masuk ke lantai 55. Rabella menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya merinding hebat. Takut berada di dalam sini sendirian. Suara lift yang sampai di tujuan, membuat Rabella tersentak kembali. Terkejut sendiri. Dia segera keluar dengan napas tersengal-sengal. Kakinya melangkah sendiri, lagi-lagi seolah Rabella sering berada di gedung ini. Dia membuka pintu tanpa permisi, dan langsung refleks berbicara, "Alva! Sepertinya di liftmu ada hantu! Tadi aku mendengar suara di sana seolah—" Rabella menghentikan ucapannya. Matanya melotot ketika melihat adegan di hadapannya. Alva. Si suami berengsek itu sedang berciuman dengan wanita lain yang duduk di pangkuannya! Alva melepaskan bibirnya dari wanita di pangkuan itu, dan mengalihkan pandangannya pada Rabella yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Tatapannya datar, tidak ada binar terkejut di matanya. "Tidak ada hantu di dunia ini." Kata Alva kemudian, menyadarkan Rabella yang masih berdiri kaku di tempatnya. Emosi Rabella seketika meledak. Melihat betapa hebatnya Alva dalam berbicara tanpa takut sedikitpun. Jadi artinya, Alva meremehkan keberadaan Rabella di sisinya! Alva meremehkan status mereka berdua yang suami istri! Alva berselingkuh selama ini di perusahaannya! Dan apa-apaan perasaan panas dan sakit yang bersamaan ini?! Kenapa Rabella sangat ingin menangis sekarang? Dengan kesal, Rabella mengambil satu kotak bekal di dalam kantung yang dibawanya, lalu di lemparnya sekuat tenaga. "DASAR BERENGSEK!!" Teriaknya kuat, namun membuatnya tidak bisa menahan tangisnya lagi. Rabella menangis sambil berteriak seperti anak kecil. Alva terkejut. Dia tersentak saat kotak bekal itu mengenai meja dan isinya jatuh berserakan di lantai. "Apa yang kau lakukan?!" Bentak Alva sambil menyingkirkan wanita yang ada di pangkuannya dan berdiri. Sekali lagi, Rabella mengambil kotak bekal yang satunya lagi dan melemparkannya lagi dengan sekuat tenaga. "DIAM KAU BERENGSEK!!" Teriaknya tidak terima, lagi-lagi tetap mengeluarkan tangisnya. "Tega-teganya kau berselingkuh! Tega-teganya kau menghina pernikahan ini!" Mata Alva menyorot tajam pada Rabella. "Kau yang seharusnya diam. Siapa kau berani-beraninya mengaturku? Dan kenapa kau ada di sini?" "DIAM!" Teriak Rabella masih menangis. "Aku akan melaporkan ini pada Ayah! Aku ingin bercerai denganmu! Aku sangat membencimu!" Alva mendengus sinis. "Harusnya aku yang berkata begitu. Aku, sangat membencimu." "Aku tidak peduli!" Rabella menyedot ingusnya. Dia tidak peduli kalau dia seperti anak kecil sekarang. Rabella berbalik dan berjalan menjauh dari sana. Masih sambil menangis dan kali ini sesegukan di sepanjang perjalanan. Wanita yang masih berdiri itu hanya terkekeh geli melihat reaksi Rabella. "Rabella masih tetap sama, ya? Dia masih cengeng seperti biasanya." Katanya. Alva menghela napas kesal melihat kantornya yang kini berantakan. "Dia bukan—" Alva menghentikan ucapannya. Dia membungkam mulutnya dan kembali duduk di kursinya. "Sudahlah, Lucy. Pergilah dari kantorku. Aku sangat lelah." "Memang itu yang kuinginkan." Kata wanita bernama Lucy itu. Berjalan ke arah pintu kantor dengan santai. "Apakah kau mendapatkan apa yang kau inginkan dariku, Luciana?" Kata Alva, menghentikan Luciana yang sudah berada di depan pintu. Luciana Leonard McKennedy berbalik. Dia tersenyum. Senyum yang sangat kaku. "Tidak sama sekali." Alva ikut merasa sedih, melihat anak dari sahabatnya itu kini tidak seceria biasanya. "Bahkan, setelah menciumku?" Luciana mendengus dan mendelik. "Bukannya kau yang ingin menciumku?" Tanyanya, kemudian terdiam sejenak. Senyumnya kali ini menghilang. "Tapi, setelah menciummu, aku semakin yakin. Ada seseorang yang sangat berarti bagiku, tapi aku tidak bisa mengingatnya sama sekali. Apa kau tahu pria yang sering bersamaku?" "Darrell?" Luciana menggeram kesal. "Pria mengesalkan seperti dia, mana mungkin jadi seseorang yang berarti bagiku? Aneh sekali. Kalian bahkan hanya melihatku bersama Darrell saja, tapi aku merasa pernah dekat dengan seseorang yang mungkin tidak ada. Yang mungkin hanya khayalanku atau pria dalam mimpi yang tak bisa kulupakan. Dan itu, membuatku merasa sangat kosong. Sangat kosong..." Lirihnya di akhir kalimat. Alva tersenyum lembut. "Kau pasti akan menemukannya." Luciana terdiam. "Aku tidak yakin," ucapnya berbisik, kemudian tersenyum lebar. "Pokoknya, aku tidak tahu apa masalahmu dan Rabella. Tapi, akur-akurlah lagi! Aku sangat merindukanmu yang b***k cinta," kata Rabella sambil berlalu pergi dari sana. Alva mendengus. Pandangannya menajam ke arah pintu. "Akur-akur? Aku tidak sudi." *** Seperti biasa, Alva pulang ke rumah saat malam sudah tiba. Yang diherankan adalah para pelayan yang berkumpul di ruang makan seolah menyambutnya. "Ada apa ini?" Tanya Alva datar pada mereka. Kepala pelayan yang ada di sana hanya tersenyum kaku dan menggeleng. "Tidak ada, Tuan." Ah, bukan urusan Alva. Dan dengan keacuhannya, Alva hanya mengangguk. Namun yang diherankan adalah, Rabella yang biasanya siap sedia di meja makan untuk makan malam, kali ini tidak ada di sana. Padahal, Rabella biasanya menyambut kedatangan Alva dengan mulut yang penuh dengan makanan. Ah, Alva tidak mau peduli. Dia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya. "Nyonya belum kembali!" Pelayan yang paling muda di sana tiba-tiba berseru pada Alva, membuat perhatian Alva teralih padanya. "Nyonya belum pulang semenjak memberikan makanan." "Oh," komentar Alva kemudian. Menatap datar pada para pelayan di sana. "Aku tidak peduli dia diculik atau mati. Dan aku mau, kalian melakukan hal yang sama." Katanya kemudian. Para pelayan di sana tersentak. Menatap Alva dengan terkejut namun menundukkan kepalanya ketika melihat tatapan datar Alva. "Sekarang, kalian pergilah ke kamar kalian masing-masing," perintah Alva kemudian. "Dan jangan berkumpul seperti ini. Kalian membuatku sakit mata." "Baik!" Kata kepala pelayan itu pada Alva. Kepala pelayan itu memerintahkan pelayan yang lain untuk menuruti perintah Alva. Mereka berjalan pergi satu persatu keluar. Alva hanya menghela napas lelah dan pergi ke kamarnya. Dia, sama sekali tidak peduli pada Rabella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN