Alia Diandra
Banyak wanita yang ingin di posisiku menikah dengan pria tampan dan seorang CEO perusahaan. Pria seperti inilah yang diidamkan oleh banyak wanita. Sahabatku mengaggap aku beruntung karena diriku akan segera menikah dengan Zafran. Zafran terbilang sangat sempurna, memiliki paras wajah yang tampan dan disegani banyak orang, namun aku heran kenapa diriku tidak tertarik sekali dengan dirinya. Aku selalu teringat dengan mantan pacarku yang bernama Arka Bagaskara. Laki-laki yang membuat hatiku terluka karena dia lebih memilih mengejar karirnya dibandingkan menikah denganku. Padahal aku selalu melawan ayahku untuk bisa bersama dengan dirinya, walaupun dia membuatku terluka tetapi dengan bodohnya aku masih sangat mencintainya. Aku berharap suatu saat nanti dia akan kembali kepadaku namun itu pupus, saat aku menyetujui untuk menikah dengan Zafran.
"Non, ada telpon dari Den Zafran ." Teriak Bi Inah pengaruh yang merawatku sejak kecil.
"Katakan saya sedang sibuk, Bi." Aku sangat malas berbicara dengan Zafran, pasti dia hanya membahas tentang pernikahan.
"Jika Non tidak mau mengangkat telpon dari Den Zafran, Den Zafran akan memberitahu Pak Rahmat bahwa Non tidak mau berbicara dengan dirinya."
"Baik, Bi. Suruh Zafran menunggu sebentar."
Aku terpaksa untuk mengangkat telpon itu karena aku tidak mau ayahku memarahiku. Ayahku selalu mengatur tentang hidupku, jika ayahku marah dia akan mengancam akan menjual tanah yang ada di Surabaya.
"Hallo, Sayang," ujar Zafran.
Aku sangat risih saat Zafran memanggilku dengan kata-kata sayang. Aku merasa tidak nyaman setiap berbicara dengan Zafran.
"Jangan memanggil aku seperti itu. Aku risih mendengarnya."
"Kamu akan menjadi istriku minggu depan. Jadi kamu tidak boleh risih dengan kata-kata itu," ujar Zafran.
" Terserah kamu. Mau panggil aku apa."
Aku hanya pasrah saat Zafran berbicara seperti itu. Rasanya aku ingin memastikan telpon ini, tetapi aku tidak bisa melakukannya karena pasti Zahran akan bilang kepada ayahku.
"Aku ingin mengajak kamu makan dan membahas tentang pernikahan kita," ucap Zafran, calon suamiku.
"Aku gak bisa. Kitakan belum mahram. Jadi kamu urus aja acaranya itu sendiri." Ujarku dengan tersenyum.
Aku memutuskan untuk berhijrah dan memakai jilbab, jadi aku tidak bisa makan dan berduaan dengan Zafran karena dia belum menjadi suamiku.
"Baiklah. Apa kamu yang menyiapkan acara untuk pernikahan kita aja. Biasanya perempuan suka mengurus persiapan untuk menikah."
"Aku gak bisa, mendingan kamu aja mengurus acara pernikahan kita atau kamu suruh orang lain saja untuk mengurus acara pernikahan kita."
"Ok, aku akan suruh salah satu karyawan untuk mengurus acara pernikahan kita."
Aku senang ternyata Zafran pengertian juga, aku berfikir dia akan terus memaksa dekat denganku.
"Ya udah, aku akan tutup telponnya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikummusallam, Alia. Jaga diri kamu baik-baik calon istriku," ujar Zafran dengan nada lembut.
Zafran sangat perhatian denganku, tetapi dia tidak bisa menggantikan Arka dihatiku. Banyak kenangan yang sudah kulewati dengan Arka. Seandainya dua tahun lalu Arka lebih memilih untuk tidak mengejar cita-citanya mungkin kita sudah menikah dan memiliki anak yang sangat lucu.
****
Dua tahun yang lalu
"Aku ingin pergi ke Amerika, Alia." Ucap Arka dengan menatap mataku dengan penuh cinta.
Mendengar hal itu membuat aku sangat sedih dan ketakutan, jika Arka berpaling dariku. Banyak kejadian temanku yang kandas hanya gara-gara hubungan jarak jauh.
"Aku enggak mau kamu pergi Arka." Aku memegang tangan Arka supaya mengurungkan niatnya untuk pergi ke Amerika." Ucapku kepada Arka.
"Aku harus pergi ke Amerika. Aku sudah susah payah untuk bisa pergi ke Amerika. Aku harap kamu ngerti itu." Ucap Arka dengan memegang tanganku.
Aku tidak bisa jauh-jauh dari Arka, aku meminta Arka untuk menikahi ku dan membawa ku ke Amerika agar bisa hidup bersama dan tinggal di sana.
"Kalau begitu, aku ikut. Aku tidak bisa jauh-jauh dari kamu. Ayo kita menikah sebelum kamu berangkat ke Amerika." Ucapku kepada Arka
"Aku gak bisa menikah dengan kamu sekarang, Alia. Aku berjanji akan menikah dengan kamu diusia kamu 27 tahun." Ucap Arka dengan melepaskan genggamannya terhadapku.
Aku tidak yakin menunggu Arka selama itu, di usiaku yang ke 22 tahun ini banyak teman sebayanku yang sudah menikah dan memiliki anak. Aku tidak yakin Arka bisa menempati janjinya.
"Apa kamu yakin dengan janji kamu?" tanyaku kepada Arka.
"Aku sangat yakin. Di dunia ini kamu adalah perempuan yang kucintai setelah Mamaku." Ucap Arka dengan memegang pipi kananku.
Mendengar jawaban itu membuatku bingung karena aku tidak mau menikah dengan pria dengan selain Arka, disisi lain aku tidak ingin terlalu lama berpacaran karena membuatku merasa berdosa kepada tuhan.
"Aku tidak bisa menunggu kamu selama itu. Kita sudah lima tahun berpacaran. Aku ingin segera menikah dengan kamu." Ucapku dengan menatap Arka.
"Aku gak bisa bawa kamu kesana, biaya hidup disana sangat mahal. Lagi pula Ayah kamu tidak mungkin setuju jika kamu ikut aku ke Amerika."
"Kita gak usah fikirkan tentang Ayah. Pasti Ayah akan merestui hubungan kii jika mengetahui kamu akan kerja di perusahaan ternama. Soal biaya hidup, aku bisa bantu kamu bekerja."
"Aku gak bisa, Alia. Aku gak mau kamu ikut hidup susah disana. Aku mohon kamu ngeti itu." Ucap Arka dengan berlutut memohon kepadaku.
"Kita sudah terlalu berbuat banyak dosa. Aku ingin kita berhijrah menjadi lebih baik lagi." Ucapku kepada Arka.
"Kalau kamu gak bisa nunggu. Mendingan kita putus, aja." Ucap Arka dengan berdiri dan menatap wajahku.
Mendengar hal itu membuat aku sedih dan hancur karena aku sangat mencintai Arka, dan aku tidak bisa berpisah darinya.
"Putus, kamu bilang putus. Kita sudah pacaran selama 5 tahun. Seenaknya kamu ngomong seperti itu." Aku menangis saat Arka mengucapkan kata putus.
"Kamu harus mengerti posisiku Alia. Aku ingin mengejar cita-citaku terlebih dulu. Aku mohon kamu ngerti itu." Arka menghapus air mataku.
Aku merasa kesal terhadap Arka karena dia selalu menyuruh aku untuk mengerti dirinya tetapi dia sendiri tidak mengerti tentang diriku
"Kita sudah pacaran selama 5 tahun, Arka. Aku gak bisa menunggu kamu terlalu lama, Ya udah, kita putus aja."
"Ok, kalau begitu. Jika aku kaya, aku akan mendapatkan perempuan jauh lebih cantik daripada kamu."
Hatiku saat hancur ketika Arka berbicara seperti itu, aku tidak menyangka laki-laki yang sangat aku cintai membuat diriku terluka, padahal aku sudah banyak berkorban untuknya.
"Aku gak nyangka kamu ngomong seperti itu. Aku fikir kamu mencintaiku dengan tulus, tetapi
"Aku emang cinta sama kamu, tapi aku ingin fokus mengejar impianku untuk mendirikan perusahaan." Ujar Arka dengan tegas.
Mengingat kejadian dua tahun itu membuat aku sangat sedih dan terluka tetapi aku tidak bisa sedikit sekalipun membenci Arka, banyak kenangan indah yang aku alami bersama Arka sehingga aku terus mencintainya padahal sudah dua tahun, aku sudah tidak bertemu dengannya.