Zafran Aksara

1002 Kata
Aku merasa puas karena akhirnya gadis yang awalnya menolak diriku sebentar lagi akan segera menjadi milikku. Benar kata orang bahwa dengan uang kita bisa mendapatkan segalanya termasuk wanita. "Aku ingin menikah dengan anak karyawan Papa. Aku harap Papa merestui hubungan kita." Ucapku dengan papaku, Pak Abas." "Kumu gila! Mana mungkin kamu menikah dengan orang yang tidak selevel dengan kita!" bentak Pak Abas, papaku. "Kalau Ayah tidak mau restui hubungan kita. Aku akan pergi dari rumah." Ayahku tidak mungkin membiarkan aku pergi karena dia sangat menyayangiku dibandingkan dirinya sendiri. Dia selalu menuruti keinginan diriku, bagi papaku aku adalah orang paling berharga dihidupnya, setelah mamaku pergi meninggalkannya dan memilih untuk menikah dengan pria lain. "Ok, Papa restui hubungan kalian. Emangnya anak siapa gadis yang akan kamu nikahi?" tanya papa kepadaku. "Dia adalah anak dari Pak Rahmat. Namanya Alia, dia sangat cantik." Ucapku dengan tersenyum "Oh gitu. Kalau itu yang membuat kamu bahagia, Papa bisa apa. Ngomong-ngomong kalian akan menikah kapan?" tanya papaku kepada diriku." "Minggu depan kita akan menikah. Aku sudah sebar undangan pernikahan kepada rekan bisnis dan kerabat kita." Ucapku kepada papaku, Pak Abas." Aku baru membari tahu papaku sekarang karana takut dia tidak merestui pernikahan diriku dengan Alia, aku ingin menikah dengan Alia karena dia sangat sombong dan dia perempuan pertama yang menolakku hal itulah yang membuatku penasaran dan ingin segera memilikinya. "Sebenarnya papa kecewa kenapa baru sekarang kamu memberi tahu papa, tapi papa ikut senang dengan pernikahan kamu." Ucap papaku dengan tersenyum. "Makasih Pa. Aku mau kerja dulu. Banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan." Aku harus menyelesaikan pekerjaan kantor yang menumpuk, sebelum menikah dengan Alia. Aku ingin menghabiskan waktu dengan berbulan madu seminggu di Bali setelah kita menikah. Rasanya tidak sabar untuk menikah dengan gadis secantik Alia. "Pak, maaf saya ganggu. Bapak harus fitting baju dengan calon istri anda." Ucap Maya, sekretaris ku. "Ok, Maya. Bilang kepada Pak Rahmat untuk menyuruh Alia untuk datang ke sini." Ucapku sembari menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. "Baik, Pak. Saya akan bilang kepada Pak Rahmat untuk menyuruh Bu Alia untuk datang ke sini." Ucap Maya dengan tersenyum. Aku tidak bisa menyuruh Alia datang kesini, pasti dia akan menolak. Aku menyuruh calon mertuaku untuk menyuruh anaknya untuk datang ke sini. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan Alia, calon istri ku. "Ada apa sih Zafran? kamu menyuruh aku datang kesini." Ucap Alia. Aku sebenarnya kesal dengan perilaku Alia seperti itu kepadaku, tetapi aku harus berpura-pura bersabar, demi mengambil hatinya. "Maaf aku ganggu kamu, aku ingin mengajak diri kamu untuk fitting baju bersama. Nanti aku suruh Maya, sekretaris ku untuk menemani kita." Ucapku kepada Alia dengan tegas. "Ngapain kamu minta maaf segala. Bukannya kamu juga memaksa aku untuk menikah dengan kamu." Ucap Alia dengan nada keras. Aku berpura-pura bersabar untuk menghadapi gadis sombong itu. Setelah menikah akan aku buat dia berlutut dan tunduk terhadap perintahku. Aku berjanji akan membuat dia selalu menangis dan tidak merasakan bahagia setelah menikah dengan diriku. "Mendingan sekarang kita siap-siap pergi sekarang." Ucapku dengan tegas. Aku tidak bisa terus-terus berkata lembut kepada Alia, karena papaku berpesan untuk tidak boleh diinjak-injak oleh perempuan. "Ok, ayo kita cepat-cepat pergi." Ucap Alia dengan menatap wajahku dengan sinis. Aku pergi bersama Alia dan Maya ke butik terbagus di Jakarta. Di sana Alia mencoba beberapa gaun pengantin untuk acara pernikahan kita minggu depan. "Bu Alia kita akan mencoba gaun pengantin untuk anda kenakan." Ucap Maya, sekretaris ku. "Kamu gak usah panggilan aku ibu. Kamu bisa panggil nama saja. Lagian umur kita seumuran." Ucap Alia dengan suara lembut. Aku heran kenapa Alia jika berbicara kepada diriku sedikit kasar, sedangkan berbicara dengan orang lain sangat lembut. "Zafran, aku coba baju dulu. Kamu tunggu di sini." Ucap Alia dengan memegang gaun pengantin. "Baiklah tapi jangan lama-lama. Aku gak bisa menunggu orang terlalu lama." Ucapku dengan tegas. Sebenarnya aku merasa sangat tertarik sekali terhadap Alia, tetapi aku masih ingat perlakuannya dulu yang membuatku malu didepan orang banyak. "Ok, aku gak akan lama-lama kok." Ucap Alia dengan tersenyum. Aku menunggu Alia mengenakan gaun pengantin untuk pernikahan kita, sebagai seorang CEO perusahaan aku ingin Alia mengenakan gaun yang elegan dan mahal "Bagus tidak, Zafran." Alia menunjukkan gaun pengantin yang dia pakai kepada diriku. "Kamu selalu cantik jika memakai pakaian apapun, tetapi menurut aku ini kurang berkelas untuk acara pernikahan kita." Ucapku dengan memandang wajah Alia yang sangat cantik. "Gaun sebagus ini kurang berkelas bagi kamu. Selera kamu tinggi banget." Ucap Alia. "Kamu harus banyak belajar tentang fashion karena kamu nanti akan menikah dengan seorang CEO perusahaan ternama. Jadi kamu harus selalu memakai pakaian bagus saat bersama dengan diriku." Ucapku dengan tegas. "Kenapa kamu tidak menikah dengan yang selevel dengan diri kamu?" tanya Alia kepada diriku. "Aku hanya ingin menikah dengan kamu," jawabku dengan tersenyum. "Aku tidak menyangka kamu bilang seperti itu." Ucap Alia dengan tersenyum bahagia. Aku tidak menyangka Alia bisa tersenyum saat bersama diriku, baru kali ini aku melihat Alia tersenyum seperti itu sejak satu tahun dia mengenal Alia. "Mendingan sekarang aku pilihkan gaun yang bagus untuk kamu." Ucapku kepada Alia. Aku memilihkan gaun pengantin yang cocok untuk Alia kenakan. Aku ingin Alia kelihatan cantik dan elegan. "Ini gaun cocok buat kamu. Sekarang kamu cepat ganti gaunnya." "Ini mahal banget. Ini sekitar 10 bulan uang gajiku." Ucap Alia dengan sangat terkejut. "Ini cuman 60 juta. Jadi kamu gak usah kaget seperti itu." Ucapku dengan tegas kepada Alia. "Kamu itu bisa tidak jangan berbicara seperti itu kepadaku. Aku bukan karyawan kamu." Ucap Alia. "Bukannya kamu juga tidak bisa berkata sopan terhadap diriku, padahal aku calon suami kamu Alia." Ucapku dengan menatap wajah Alia yang sangat cantik. "Ok, kita membuat kesepakatan setelah menikah kita menikah kita berbicara selayaknya teman hidup." "Ok, tetapi kamu akan menuruti semua perintah aku." Ucapku dengan tegas. "Selagi baik, aku akan nurut sama kamu. Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk kamu." "Mendingan sekarang kamu, coba baju pilihan aku." Ucapku dengan tegas. "Baik, setelah itu kita akan pulang. Jangan nemuin aku dulu sampai hari pernikahan kita." Ucap Alia. Aku mengatakan Alia pulang dan berjanji untuk tidak menemui sampai acara pernikahan kita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN