Alia Diandra

1007 Kata
Aku tidak menyangka akan menikah dengan pria yang tidak aku cintai sama sekali. Aku harus melupakan tentang kenanganku dengan Arka, dan belajar untuk mencintai Zafran. Aku tidak mungkin membatalkan pernikahan aku dengan Zafran. Aku berharap jika Zafran akan menjadi suami yang baik untuk aku. Aku sebenarnya sangat takut untuk menikah, aku takut Zafran seperti Arka yang lebih memilih karirnya dibandingkan dengan diriku. Aku takuk Zafran hanya mencintai aku hanya karena aku cantik, jika kecantikan aku sudah menua Zafran akan membuang diriku. "Kenapa kamu seperti ini, Non?" tanya Bi Inah kepada diriku. "Aku takut nanti Zafran akan membuang diriku. Seperti Arka meninggalkan diriku." Ucapku dengan lirih. "Tidak semua laki-laki sama. Aku yakin Den Zulfan pasti akan setia sama, Non. Ucap Bi Inah dengan memeluk diriku." "Makasih, Bi. Bibi sudah sangat menyayangi diriku seperti anak sendiri." Ayah menyuruh aku untuk segera bersiap-siap untuk mempersiapkan diri untuk menikah dengan Zahran. "Kamu sudah mandi belum. Jam 10 pagi nanti kamu akan ijab kabul dengan Zahran. "Belum, Yah. Nanti aku akan segera cepat mandi." Ucap diriku dengan meneteskan air mata. "Seharusnya kamu bahagia bukannya menangis." Ucap ayahku. "Iya, Ayah aku akan mandi." Ucapku dengan tersenyum. Aku menuruti ayahku untuk berusaha bahagia karena aku tidak mau bertengkar dengan ayaahku di hari pernikahanku. Aku berharap tidak menyesal memilih keputusan menikah dengan Zahran. "Ayah sudah carikan MUA terbaik untuk kamu. Pasti kamu akan terlihat sangat cantik." "Makasih, Ayah." Ucapku dengan lirih. "Ayah sayang banget sama kamu. Ayah ingin yang terbaik untuk kamu, Nak." Ayah memeluk aku dengan sangat erat. Aku merasa tersentuh saat dipeluk Ayah, hubungan kita pernah canggung karena menentang ayahku dengan berpacaran dengan Arka. "Ayah, aku minta maaf karena kerap melawan Ayah." Aku melepaskan pelukan ayah. "Ayah sudah memaafkan kamu. Ayah berharap kamu akan nurut sama Zahran." Ucap ayahku dengan tersenyum. " Ya udah. Aku mandi dulu, Yah." Ucapku. Aku tidak menyangka ayahku sangat menyayai diriku, aku berharap hubunganku dengan ayah selalu seperti ini. "Kak, sudah siap untuk saya rias." Ucap periasku. "Udah. Aku sudah siap untuk dirias." Ucapku dengan tersenyum. Saat aku dirias, periasku berkata bahwa aku sangat beruntung karena menikah dengan laki-laki tampan dan kaya. "Hidup anda pasti bahagia karena menikah dengan pria yang tampan dan kaya." Ucap periasku. Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa menikah dengan pria yang tampan dan kaya itu tidak menjamin hidup bahagia, apalagi sekarang aku belum bisa mencintai Zafran "Anda bisa aja." Ucapku dengan tersenyum. "Alia, kamu sudah selesai diriasnya. Zafran sudah menunggu kamu. Ucap ayahku. "Udah. Aku akan segera kesana." Ucapku. Aku tak menyangka Zafran tidak lama lagi menjadi suamiku. Laki-laki yang berparas tampan, berkumis tipis, dan tinggi yang bernama Zahran ini akan meminangku. Zahran sangat lancar mengucapkan ijab kabul. "Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Alia Diandra dengan mahar emas 50 gram dibayar tunai." Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah." Aku sekarang sudah sah menjadi istri Zafran. Andai saja yang mengucapkan ijab kabul itu Arka mungkin aku akan menjadi wanita yang bahagia di dunia ini karena menikah dengan laki-laki yang saat kucintai. "Kalian berdua sudah sah menjadi suami-istri." Ucap penghulu. Zafran kelihatan sangat bahagia karena keinginan untuk menikah dengan diriku akhirnya terwujud. Hampir satu tahun Zafran berjuang mendekati diriku, namun aku selalu menolaknya. Andaikan saja ayahku tidak mengacam menjual tanah peninggalan ibuku yang ada di Surabaya mungkin aku tidak akan menikah dengan Zafran. "Akhirnya kamu sudah menjadi milikku, setelah sekian lama kamu menolakku ." Zafran memelukku di depan banyak orang. Aku merasa tidak nyaman saat dipeluk oleh Zafran, aku tidak bisa melarang Zahran untuk memelukku karena dia sudah sah menjadi suamiku. "Zafran, kamu jangan terlalu lama memeluk istri kamu. Gak enak dilihat banyak orang." Ucap papa mertuaku. "Baik, Pa. Aku akan melepaskan pelukanku." Zafran melepaskan pelukannya terhadap diriku. Aku merasa lega saat Zafran melepaskan pelukannya. Aku tidak bisa membayangkan untuk berhubungan lebih jauh dengan Zafran. "Zafran, aku ingin pergi menemui sahabat-sahabatku dulu." Ucapku. "Kamu jangan panggil dengan sebutan nama. Aku ingin menerima panggilan sayang dari kamu." Selama aku berpacaran dengan Arka aku tidak pernah mau memanggil Arka dengan panggilan sayang walaupun aku sangat mencintainya. Aku dengan terpaksa memanggil Zafran dengan sebutan sayang. "Iya, Sayang. Aku ingin menemui sahabat-sahabatku dulu." Ucapku. "Aku ikut, Sayang. Aku ingin kenalan dengan sahabat-sahabat kamu." Ucap Zafran. Aku dengan terpaksa mengenalkan Zafran dengan sahabat-sahabatku. Aku berharap mereka tidak keceplosan tentang Arka. "Ini suami kamu, Alia. Dia tampan banget. Kamu beruntung banget Alia." Ucap Ririn, sahabat dekatku. "Kamu beruntung banget Alia. Punya seperti dia." Ucap Vanessa, sahabat dekatku. "Kalian bisa aja." Ucap Zafran. "Aku bisa minta bantuan kamu Zafran? Apa boleh suamiku bekerja di perusahaan kamu?" tanya Vannesa kepada Zafran. "Bisa, Vannesa. Apasih yang tidak buat sahabat istriku tercinta." Jawab Zafran. "Alia kamu pintar banget memilih pasangan." Ucap Ririn. "Kamu bisa aja, Rin." Ucapku dengan tersenyum. Zafran dan sahabat-sahabatku sangat asik mengobrol hal itu membuatku sangat takut jika mereka keceplosan tentang Arka. "Sayang, bolehkan kamu meninggalkan kita bertiga di sini. Aku ingin berbicara bertiga dengan sahabatku " Ucapku. "Ok, aku akan pergi. Vanessa, Ririn aku pergi dulu." Zafran pergi meninggalkan kita bertiga. "Baik, Zafran." Ucap Ririn. Untungnya Zafran mau meninggalkan diriku bersama sahabat-sahabatku. Aku memperingatkan mereka berdua untuk tidak sampai keceplosan tentang Arka. "Jangan sampai kalian berdua keceplosan tentang Arka. Aku tidak mau Zafran mengetahui tentang Arka." Ucapku. "Baik, Alia. Kita berdua tidak akan menyebut tentang Arka di depan Zafran." Ucap Ririn. "Aku gak sabar melihat kamu punya anak. Pasti anak kamu good looking banget." Ucap Vanessa. Aku hanya bisa tersenyum saat Vanessa membahas tentang anak dengan diriku. "Kamu bisa aja." Ucapku dengan tersenyum. "Ya udah. Kita berdua pulang dulu ya." Ucap Vanessa. "Kok cepat banget. Kalian gak mau lama-lama di sini." Ucapku. "Kita berdua harus pergi sekarang. Kita berdua tidak mau gangu kebersamaan kamu dengan suami kamu." Ucap Ririn. "Salam buat suami kalian berdua." Aku memeluk mereka berdua. Aku tidak menyangka bahwa sekarang kita bertiga sudah menikah. Aku kerap takut menikah ketika sahabat-sahabatku menceritakan tentang masalah pernikahannya dengan diriku. Aku harap pernikahanku tidak seperti kedua sahabatku yang kerap bertengkar dengan suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN