Zafran

1001 Kata
Aku tak menyangka gadis yang selama ini aku kejar-kejar sekarang sudah sah menjadi istriku. Aku sudah tak sabar ingin melihat dirinya tidak menggunakan hijab lagi. "Istriku, Sayang. Mendingan sekarang kita pergi ke rumahku sekarang." Ucapku. "Aku ingin tinggal di sini, Zafran." Ucap Alia. Pak Rahmat tidak sengaja mendengar percakapan kita berdua. Pak Rahmat memarahi Alia karena dia tidak nurut dengan diriku. "Alia, kamu harus ikut ke rumah suami kamu!" bentak Pak Rahmat. "Aku ingin tinggal di rumah ini. Banyak kenangan yang sudah aku lewatin di rumah ini." Ucap Alia. "Kamu bisa sering ke sini, Sayang. Aku gak mungkin tinggal di rumah ini." Ucapku dengan tersenyum. "Iya, Alia. Gak mungkin Zafran yang tinggal di sini." Ucap Pak Rahmat. "Ya udah. Aku akan ikut tinggal di rumah Zafran. Jaga diri Ayah baik-baik ya." Ucap Alia sembari memeluk ayahnya. Aku sangat bahagia Alia mau iku ke rumah dengan diriku. Aku sudah tidak sabar untuk segera menyentuh Alia. "Ayah, saya izin untuk membawa Alia ke rumahku ya." Ucapku. "Iya, jaga Alia baik-baik. Jika Alia berbuat salah sama Zafran, kamu boleh memarahinya tetapi jangan sekali-kali kamu menampar atau memukulnya." Ucap Pak Rahmat. "Saya berjanji akan membahagiakan Alia dan tidak akan pernah memukulnya." Ucapku. Aku tidak akan mungkin menyakiti Alia. Bagiku Alia adalah perempuan satu-satunya yang aku cintai. Aku berjanji untuk membahagiakannya. "Sayang, ayo kita pergi sekarang." Ucapku. Alia hanya diam saja saat aku ajak bicara. Apakah dia marah kepadaku karena memaksanya untuk tinggal di rumahku. "Kamu marah kepadaku, Sayang?" tanyaku kepada Alia. "Aku gak mungkin marah kepada kamu. Sekarang kan aku sudah sah sebagai istri kamu. Jadi sudah kewajiban aku untuk nurut sama kamu, Zafran." Ucap Alia. "Alia, aku boleh minta kamu untuk memanggil kamu dengan sebutan mas." Ucapku. "Iya, Mas Zafran." Ucap Alia. Aku mengajak Alia pergi ke rumah yang baru kemarin aku beli. Aku berharap Alia nyaman bisa nyaman dan bahagia tinggal di rumah yang aku beli kemarin." "Kita akan tinggal di sini, Mas?" tanya Alia. "Iya, kita akan tinggal di sini." Jawabku dengan menggandeng tangan Alia. "Besar dan mewah banget, Mas. Pasti capek banget bersihin rumah sebesar ini." Ucap Alia. "Kan yang bersihin pembantu kita. Kamu hanya duduk manis aja." Ucapku. "Aku fikir yang akan bersihin ini semua, aku sendiri." Ucap Alia. "Gak mungkin aku biarkan kamu kecapaan, Sayang." Ucapku dengan tersenyum. Aku baru mengetahui bahwa Alia itu orangnya polos juga. Dulu aku berfikir Alia itu perempuan yang cerdas, cantik, dan multitalenta tetapi ternyata dia juga sedikit lugu tetapi walaupun begitu aku akan tetap mencintai dan menerima dia apa adanya. "Mendingan sekarang kita masuk, Alia." Ucapku. "Wau. Bagus banget, Mas. Pasti rumah ini harganya sangat mahal." Ucap Alia. "Cuman murah kok." Ucapku. "Gak mungkin pasti ini mahal banget, mas." Ucap Alia. "Ini cuman 15 milyar, Alia. Kamu gak usah lebay." "Maaf aku kesannya terlalu norak ya. Aku hanya kaget aja, kita kan dari latar belakang keluarga yang berbeda. Aku gak nyangka akan menikah dengan laki-laki yang kaya seperti kamu." Ucap Alia. Aku merasa menyesal mengatakan itu kepada Alia. Aku baru menyadari bahwa aku dan Alia berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, dia terlahir dari keluarga yang sederhana sedangkan aku terlahir dari keluarga yang kaya. "Seharusnya aku tidak mengatakan itu tadi. Aku minta maaf ya, Sayang." Ucapku. "Gak papa, Mas. Kan biasanya seorang laki-laki menganggap perempuan di bawah laki-laki. Apalagi latar belakang keluarga kita yang berbeda." Ucap Alia. "Kamu jangan ngomong seperti itu, aku gak menganggap kamu lebih rendah daripada diriku." Ucapku. "Makasih, Mas. Kamu sudah memperlakukan aku dengan baik." Ucap Alia sembari memeluk diriku. Jantungku berdetak kencang saat Alia memelukku. Aku merasa bahagia karena sekarang Alia sudah sepenuhnya menjadi milikku. "Mendingan sekarang kita ke kamar." Ucapku. Aku sudah tak sabar untuk melihat rambut Alia. Pasti dia cantik banget saat membuka jilbabnya. "Ya udah, aku juga sudah sangat capek." Ucap Alia dengan tersenyum. Aku dan Alia pergi menuju ke kamar, aku menyuruh Alia untuk membuka jilbabnya. "Sayang, aku ingin kamu melepaskan jilbab kamu." Ucapku. "Iya, aku akan melepaskan jilbabku." Ucap Alia. Aku tidak menyangka Alia secantik ini, rambutnya sangat panjang dan memiliiki wajah yang sangat cantik. "Kamu cantik banget, Alia. Ucapku dengan menyentuh rambut panjangnya. "Kamu bisa aja. Jadi kalau aku gak cantik, kamu gak akan mau menikah dengan aku gitu." Ucap Alia. Awalnya aku suka sama Alia hanya gara-gara dia sangat cantik dan kelihatan cerdas, tatapi lama kelamaan aku mencintai Alia karena dia berbeda dengan perempuan pada umumnya. Kebanyakan perempuan mendekati diriku karena aku kaya dan tampan tetapi Alia berbeda dari yang lain, dia selalu menolak saat aku mendekatinya hal itulah yang membuatku jatuh hati kepadanya. "Aku cinta sama kamu bukan karena kamu cantik tapi karena kamu orangnya, walaupun nanti kamu gendut ataupun tua nantinya, aku akan tetap cinta sama kamu." "Oh gitu." Ucap Alia. Aku merasa Alia belum mencintaiku, tetapi aku akan berjuang untuk membuatnya jatuh hati kepadanya. Aku berharap dia bisa segera mencintaiku. "Alia, mendingan sekarang kita mandi dulu." Ucapku. "Ya udah, aku yang mandi dulu ya." Ucap Alia. Sebenarnya aku ingin mengajak Alia untuk mandi bareng tetapi Alia keburu masuk ke kamar mandi duluan. "Mas, aku sudah selesai mandinya. Mendingan kamu mandi sekarang. Ucap Alia. Aku sudah tidak sabar untuk menyentuh Alia, apalagi dia sangat cantik dan seksi saat mengenakan gaun mandi. "Aku sudah tidak sabar untuk menyentuh tubuh kamu yang indah itu, Sayang. Ucapku sembari melihat wajah Alia yang sangat cantik. "Mendingan sekarang kamu mandi terlebih dulu, Mas." "Setelah selesai mandi, aku boleh meminta hakku sebagai seorang suami, Sayang?" tanyaku kepada Alia, istriku. "Kamu kan suamiku. Sudah kewajibanku untuk melayani kamu dengan baik." Ucap Alia dengan suara terbata-bata. Apa mungkin Alia sangat gugup karena baru pertama kali akan melakukan hubungan suami-istri denganku. "Ya udah. Aku mandi dulu ya, Sayang." Ucapku dengan tersenyum. "Iya, aku juga mau dandan duli." Ucap Alia. "Kamu dandan yang cantik ya, Sayang. Walaupun aku tahu kamu sudah cantik tanpa dandan sekalipun." Ucapku dengan memegang pipi Alia yang sangat mulus tanpa adanya jerawat. Seperti laki-laki umumnya aku tidak bisa menahan hawa nafsuku, apalagi terhadap Alia, istriku yang sangat cantik dan memiliki tubuh yang begitu indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN